29 June 2019, 10:20 WIB

Religiositas Kita, Value atau Velleity


Husni Thoyyar Dosen Pascasarjana Institut Agama Islam Darussalam Ciamis, Jawa Barat | Opini

SETIDAKNYA ada dua survei yang dilakukan Pew Reseach Center (PRC) tentang posisi agama di mata para penganutnya. Survei pertama bertujuan mengungkap pertanyaan 'seberapa pentingkah agama dalam kehidupan Anda?' yang hasilnya dirilis pada 2018. Survei kedua tentang peran agama dalam kehidupan negara yang dilansir April 2019.

Terlepas dari hasil survei di sejumlah negara maju di kawasan Eropa, Asia, dan Amerika yang menunjukkan agama semakin tidak penting, baik dalam kehidupan pribadi warganya maupun pentas politik dan kekuasaan negara; penduduk Indonesia yang disurvei memandang agama sebagai sesuatu yang penting dan vital dalam panggung kekuasaan negara.

Survei pertama tentang pentingnya agama dalam kehidupan pribadi pemeluknya menempatkan Indonesia sebagai negara yang 93% penduduknya menganggap agama sangat penting dalam kehidupannya (religion is very important), jauh melampaui persepsi penduduk di negara-negara lain; Iran 78%, Mesir 72%, Turki 68%, Amerika Serikat 53%, Israel 36%, Australia 18%, Prancis 11%, Inggris 10%, Jepang 10%; dan hanya berada di bawah Ethiopia 98% dan Pakistan 94%.

Bahkan, survei tentang peran agama dalam negara menempatkan Indonesia di ranking pertama yang penduduknya memandang peran agama semakin penting dalam kehidupan negara. Ada 83% penduduk Indonesia yang berpendapat demikian, diikuti Nigeria 65%, Kenya 60%, Filipina 58%, India 54%, Brasil 51%, Rusia 50%, dan Israel 47%. Sebaliknya, penduduk di sejumlah negara memandang agama semakin berperan tidak penting di negeri mereka; Spanyol 65%, Kanada 64%, Australia 63%, Belanda 61%, Amerika Serikat 58%, Italia 53%.

Bagi penduduk Indonesia, rilis survei PRC itu mendedahkan bukti kuatnya ikatan kita dengan agama. Bagi bangsa ini, agama ialah sumber sentral pencarian makna kehidupan, variabel utama aktivitas hidup, sumbu penting bernegara, motivasi intrinsik olah pikir dan gerak tubuh, dorongan yang memacu kerja kita sehari-hari. Di dalam jejaring media sosial, aneka topik tentang agama menjadi isu yang amat sering dibuat, dibagikan, didiskusikan, dan disebarkan.

Riuh rendah perhelatan politik lokal dan nasional selalu dimeriahkan isu dan simbol-simbol agama. Masalahnya, apakah persepsi tentang sangat pentingnya agama bagi individu dan semakin besarnya peran agama dalam kehidupan negara itu sebagai value atau velleity?

Fenomena keberagamaan disebut value apabila pengakuan atau keyakinan keberagamaan diejawantahkan dalam amal ibadah yang menghadirkan suasana batin yang khusyuk, tenang, sejuk, syahdu, dan tenteram. Sebaliknya, indikasi keberagamaan hanya velleity apabila pengakuan 'agama sangat penting' atau pernyataan agama semakin berperan vital dalam kehidupan negara, tidak berkorespondensi dengan realitas dan perilaku sehari-hari.

Terminologi value dan velleity sejatinya sudah digunakan sangat lama. Adalah Edward Stevens yang melalui karyanya The Moral Games (1974) menggunakan dua kosakata itu ketika menganalisis pengaruh kepercayaan agama terhadap cita-cita politik dan bisnis warga Amerika Serikat. Warga Amerika yang menganggap agama penting, 54%-nya menjawab kepercayaan agama tidak memengaruhi aspirasi politik dan aktivitas bisnis mereka.

Fenomena inilah yang oleh Stevens disebut sebagai velleity, yaitu ketika seseorang merasakan agama 'sangat penting', tetapi tidak tecermin dalam perilaku hidupnya. Meskipun telah digunakan sejak lama, kedua istilah itu masih sangat relevan digunakan untuk memberikan dan menguraikan gejala-gejala keberagamaan saat ini, termasuk untuk membaca hasil survei PRC tersebut.

Manifestasi value

Religiositas sebagai value ditandai konsistensi klaim dengan tindakan, serta korespondensi antara keyakinan dan perilaku. Proses aktualisasi pengakuan dan keyakinan dalam tindakan dan perilaku itu perlu dibarengi sikap khusyuk sehingga religiositas benar-benar mendatangkan jiwa yang tenang, sejuk, damai, dan tenteram. Itulah makna khusyuk seperti dijelaskan Ibnu Rajab (lahir 1336) sebagai kelembutan, ketenangan, ketundukan, dan rendah hati.

Hati yang khusyuk kemudian akan membimbing keseluruhan anggota tubuh menjadi tenang, damai, tenteram; karena hati ialah titik pusat semua anggota badan. Sebagaimana kata Nabi SAW, dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging, jika segumpal daging itu baik, akan baik seluruh tubuh manusia, dan jika segumpal daging itu buruk, akan buruk seluruh tubuh manusia, ketahuilah bahwa segumpal daging itu ialah hati manusia. Itulah sebabnya, Ibnu Qayyim (lahir 1292) menandaskan bahwa tempat khusyuk ialah di dalam hati dan termanifestasikan pada anggota badan yang lain.

Di tengah kecenderungan semakin menguatnya kelompok-kelompok keagamaan yang menganggap dirinya sendiri sebagai yang paling benar, gemar menuduh pihak lain salah dan sesat, eksklusif, dan kurang toleran; kehadiran dan keberadaan individu-individu rendah hati dan khusyuk ini menjadi sangat dibutuhkan. Entitas keagamaan ini diharapkan dapat memanifestasikan religiositasnya sebagai value. Mereka menebarkan keberagamaan yang menenteramkan, menenangkan, mendamaikan, membahagiakan, dan menyejukkan jiwa dan atmosfer sosial. Mereka terbuka menerima perbedaan dan keragaman karena keduanya ialah anugerah Yang Mahakuasa. Mereka menyadari kelebihan dirinya bukan sesuatu yang luar biasa karena menginsafi orang lain, juga memiliki kelebihan yang tak mereka miliki.

Fenomena velleity

Indikasi religiositas sebatas velleity dapat dicermati dari jawaban seseorang ketika ditanyakan kepadanya tentang bagaimana ia menilai pentingnya, misalnya, kitab suci. Mungkin sekali ia menjawab kitab suci sangat penting. Ia menilai kitab suci jauh lebih penting ketimbang gawai. Kenyataannya, ia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan gawai, dan tidak membaca kitab suci atau hanya sedikit sekali waktu yang digunakan untuk membaca Kitab suci.

Ilustrasi di atas ialah fenomena velleity yang paling umum di masyarakat dan patut diduga sebagian besar penganut agama seperti itu. Lebih-lebih mereka yang menekankan makna signifikansi agama sebatas dalam interaksi sosial dan ruang publik, sedangkan dalam ranah privat, spirit keagamaan nyaris tidak pernah hadir. Dengan demikian, hasil survei PRC yang menunjukkan 93% penduduk Indonesia menganggap agama sangat penting, bisa jadi merupakan indikasi velleity. Indikasinya tingkat korupsi di negeri kita masih sangat tinggi. Korupsi ialah kejahatan yang diharamkan setiap agama. Mengaku agama sangat vital, tetapi masih melakukan korupsi ialah velleity.

Selain korupsi, kita juga dapat memasukkan sejumlah aktivitas destruktif dan tabiat merusak lain semacam radikalisme, ekstremisme, kekerasan, intoleransi, dan perusakan lingkungan, sebagai fenomena velleity; karena setiap agama mengajarkan moderasi, keadaban, cinta damai, kelembutan, tasamuh, dan menjaga lingkungan. Gejala lain yang dipandang amat memprihatinkan ialah kebiasaan sebagian warga yang dengan sengaja membuat, membagikan, menyebarkan konten tidak sahih, berita bohong, hoaks, atau bahkan ujaran kebencian melalui media sosial.

Dalam pandangan saya, termasuk dalam gejala ini ialah ulah sejumlah penceramah, orator, atau pengkhotbah yang menyampaikan pesan-pesan suci keagamaan, tetapi disertai caci maki, cercaan, kutukan, dan hinaan kepada sesama saudara se-Tanah Air, sebab lagi-lagi, tak ada satu agama pun yang mengajarkan demikian. Mimbar agama semestinya bisa menghadirkan atmosfer yang khusyuk, teduh, damai, dan sejuk sehingga setiap orang yang hadir dapat merasakan nikmat iman dan spiritual. Ritual ibadah dengan khusyuk, rendah diri di hadapan Yang Mahaagung, dan rendah hati di hadapan manusia ialah kesejatian dan inti agama-agama.

BERITA TERKAIT