Macadamia, Tanaman dengan Nilai Ekologis dan Ekonomi Tinggi


Penulis: Mediaindonesia.com - 27 June 2019, 16:50 WIB
Dok KLHK
 Dok KLHK
Macadamia, Tanaman Rehabilitasi Hutan dan Lahan dengan Nilai Ekologis dan Ekonomi Tinggi

PEMERINTAH Indonesia terus berkomitmen menekan laju degradasi hutan dan lahan, serta meningkatkan pemulihan hutan dan lahan pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Prioritas, diantaranya Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Toba. Langkah korektif terhadap program Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) turut dilakukan dengan menekankan peningkatan akuntabilitas, transparansi, dan partisipasi masyarakat.

Berbagai upaya juga terus dilakukan oleh KLHK, untuk menemukan suatu strategi RHL dengan jenis tanaman yang mempunyai nilai ekologis sekaligus ekonomi yang tinggi. Diantara tanaman yang memenuhi kategori tersebut yaitu macadamia.

Baca juga: Sistem Interkoneksi Jawa Bali Mutlak Dibutuhkan

Pencanangan pengembangan Macadamia untuk RHL ini, dilakukan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, didampingi Menteri LHK Siti Nurbaya, Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi, dan Bupati Tapanuli Utara Nikson Nababan, di persemaian permanen Huta Ginjang, Kabupaten Tapanuli Utara, Kamis (27/6).

Menko Darmin, menyampaikan kegiatan ini merupakan langkah penting untuk mengatasi lahan kritis dengan tanaman istimewa yaitu Macadamia.

"Selain menjadi camilan, Macadamia bisa menjadi olahan campuran untuk cokelat, sehingga harganya lebih mahal. Ibarat peribahasa, 'sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui', dengan menanam Macadamia terjadi penghutanan, buahnya bisa dimakan, dan harganya pun tinggi," ujar Menko Darmin.

Lebih lanjut, Menko Darmin menjelaskan pemerintah melalui KLHK mempunyai sejumlah program yang bersangkutan dengan masyarakat. Pemerintah juga telah menyiapkan langkah membantu masyarakat untuk menanami lahan sebanyak mungkin.

"Saya mengingatkan satu hal, masyarakat juga perlu didampingi dalam mengatur waktu panen, untuk mencegah harga turun di pasaran," pesan Menko Darmin.

Dalam kesempatan yang sama, Plt. Direktur Jenderal Pengelolaan DAS dan Hutan Lindung (PDASHL) KLHK, Hudoyo, menyampaikan bahwa tanaman Macadamia, diharapkan dapat menjadi titik temu persoalan tenure, degradasi lahan, dan kebutuhan ekonomi rumah tangga masyarakat sekitar danau Toba.

"Jenis ini dapat mengatasi kebutuhan hidup para penggarap lahan, dan dapat digarap bersama sama dengan institusi kehutanan di tingkat tapak yaitu KPH, dengan menggunakan system agroforestry, sehingga kebutuhan jangka pendek dapat terpenuhi dan kebutuhan jangka panjang bisa dicapai," ujar Hudoyo, dalam laporannya.

Pemilihan Macadamia juga mengingat tanaman ini mampu meningkatkan fungsi hidrologis, pengendalian erosi, tahan terhadap kebakaran dan kekeringan. Selain cocok dengan agroklimat DTA Toba, yang tak kalah penting, tanaman ini mempunyai nilai ekonomi yang tinggi bagi masyarakat.

"Tanaman macadamia yang akan dikembangkan adalah jenis Macadamia integrifolia, sebagai penghasil kacang yang mempunyai nilai ekonomi sangat tinggi yaitu sekitar Rp100-500 juta per hektar," terang Hudoyo.

Lebih lanjut, Hudoyo mengungkapkan pengembangan Macadamia untuk tanaman RHL akan dilaksanakan juga pada DAS-DAS prioritas. Tanaman ini merupakan pengganti tanaman hortikultura yang banyak ditanam pada kasus-kasus perambahan hutan seperti di hulu DAS Citarum, DAS Cimanuk, DAS Serayu dengan Dataran Tinggi Dieng nya, DAS Jeneberang-Sadang serta DAS Brantas.

"Pada tahap awal, tahun 2019 ini akan ditanam sekitar 600.000 tanaman Macadamia seluas sekitar 500 Ha yang melibatkan peran pemerintah, pemerintah daerah, BUMN, BUMS serta masyarakat," tambahnya.

Pencanangan Pengembangan Tanaman Macadamia untuk Rehabilitasi Hutan dan Lahan dirangkaikan dengan Peringatan Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia (World Day to Combat Desertification / WDCD) Tahun 2019. Peringatan WDCD tahun 2019 bertema “Let’s Grow Our Future Together” dengan mempromosikan Sustainable Land Management dan Land Degradation Neutrality.

Baca juga: Bursa Optimistis Pasar Tumbuh Positif

Acara launching tanaman Macadamia untuk penanganan lahan kritis pada hulu DAS di Indonesia merupakan bentuk konkret pelaksanaan kebijakan Sustainable Land Management di Indonesia yaitu memulihkan hutan dan lahan dengan membangun tanaman hutan yang memberi manfaat ekonomi, dan sosial yang berkelanjutan.

Turut hadir pada acara ini, Pimpinan Tinggi Madya dan Pratama KLHK, Forkopimda Provinsi Sumatera Utara dan Kabupaten-Kabupaten di kawasan DTA Danau Toba, perwakilan Kementerian/Lembaga terkait; BUMN/BUMD/BUMS; Akademisi; Tokoh Masyarakat/Ormas/LSM/Asosiasi/Yayasan Bidang Lingkungan Hidup dan Kehutanan; mahasiswa dan pelajar; serta media massa. (RO/OL-6)

BERITA TERKAIT