27 June 2019, 11:35 WIB

Ruteng Jadi Kota Terdingin di Indonesia


Yohanes Manasye | Nusantara

MI/Yohanes Manasye
 MI/Yohanes Manasye
Forecaster Stasiun Meteorologi Frans Sales Lega Manggarai, Dyah Safitri Maharani, menunjukkan alat pengukur suhu.

STASIUN Meteorologi Ruteng Frans Sales Lega Manggarai, Nusa Tenggara Timur mencatat suhu udara di Kota Ruteng pada 15 Juni 2019 lalu menyentuh 9,2 derajat Celcius. Itu merupakan suhu terendah yang dicatat stasiun meteorologi BMKG di seluruh Indonesia.

"Kalau untuk stasiun-stasiun pencatat cuaca atau stasiun meteorologi di Indonesia, tanggal 15 Juni itu Ruteng terendah di seluruh Indonesia, yakni mencapai suhu 9,2°C," ujar prakirawan Stasiun Meteorologi Frans Sales Lega Manggarai, Dyah Safitri Maharani, Kamis (27/6).  

Penurunan suhu mulai terjadi pada 14 Juni 2019. Saat itu suhu mencapai 12°C. Sehari kemudian menyentuh titik terendah yakni 9,2°C. Hingga saat ini, suhu minimum setiap hari berkisar antara 9,2°C sampai 13°C.

Ada pun kelembaban atau kadar air dalam udara berkisar antara 58% sampai 70% pada siang hari dan 80% sampai 98% pada sore hingga pagi hari. Meskipun kelembaban udara hingga 98% sudah biasa di kota Ruteng, namun perbedaan yang tinggi antara siang dengan sore hingga pagi hari membuat suhu dingin sangat terasa selama musim kemarau.

Menurut Diyah, suhu ekstrim yang terjadi di kota Ruteng merupakan fenomena alam normal. Kondisi ini terjadi setiap tahun pada puncak musim kemarau, yakni pada Juni, Juli, sampai Agustus. Hal serupa terjadi di wilayah-wilayah puncak di Indonesia bagian selatan ekuator.  

baca juga: Dua Anak Cukup Akan Menghapus Kearifan Lokal Bali

Secara umum, kondisi suhu dingin tersebut disebabkan adanya aliran massa udara atau monsun dingin dan kering dari benua Australia atau dikenal dengan sebutan aliran monsun dingin Australia. Tekanan udara di benua Australia lebih tinggi dari tekanan udara di wilayah Indonesia selatan equator menyebabkan aliran angin dari Australia masuk wilayah Indonesia. Angin membawa serta udara dingin dan kering dari wilayah tersebut. Secara klimatologis, monsun dingin Australia aktif pada periode bulan Juni, Juli, dan Agustus. Pada saat bersamaan, wilayah Nusa Tenggara Timur sedang memasuki masa puncak musim kemarau.

"Kondisi suhu dingin seperti ini diprakirakan masih berpotensi terjadi selama periode puncak musim kemarau Juni, Juli, dan Agustus," ujar Diyah. (OL-3)

 

 

BERITA TERKAIT