Dua Anak Cukup Akan Menghapus Kearifan Lokal Bali


Penulis: Arnoldus Dhae - 27 June 2019, 11:08 WIB
MI/Ruta Suryana
 MI/Ruta Suryana
Gubernur Bali I Wayan Koster 

GUBERNUR Bali, I Wayan Koster mengeluarkan instruksi secara resmi kepada para bupati dan walikota di seluruh Bali agar segera menghentikan kampanye program KB dengan slogan cukup 2 anak. Gubernur asal Buleleng itu seperti tidak main-main. Ia mengeluarkan larangan tersebut melalui Instruksi Gubernur Bali Nomor 1545 Tahun 2019 Tentang Sosialisasi Program Keluarga Berencana (KB) Krama Bali.

Instruksi tersebut ditetapkan di Denpasar tertanggal 14 Juni 2019 dan ditanda tangani oleh Gubernur Bali I Wayan Koster. Secara keseluruhan, isi dari Instruksi tersebut antara lain meminta kepada para bupati dan walikota di Bali agar segera menghentikan kampanye dan sosialisasi KB dengan slogan dua anak cukup atau dua anak lebih baik. Selain itu, dalam instruksi tersebut juga disampaikan agar para bupati dan walikota dan seluruh jajarannya seperti BKKBN dan Dinas Kesehatan lainnya agar lebih mensosialisasikan KB Krama Bali.

Menurut Koster, KB Krama Bali yang dimaksud adalah program KB yang sesuai dengan kearifan lokal Bali serta diarahkan untuk mewujudkan manusia atau krama Bali yang unggu dan berkualitas.

"Instruksi ini harus dilaksanakan dengan disiplin dan penuh tanggungjawab sebagai pelaksanaan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana Menuju Bali Era Baru," ujarnya.

Dalam berbagai kesempatan, Koster selalu menyampaikan jika program KB dengan tagline 'dua anak cukup' atau 'dua anak lebih baik' sangat tidak layak untuk diterapkan di Bali. Sebab, Bali memiliki kearifan lokal dengan 4 anak yakni Wayan, Made, Nyoman, Ketut.

baca juga: Debit Permukaan Air Waduk Cirata masih Normal

"Kalau hanya dua anak, maka dua nama terakhir yakni Nyoman dan Ketut akan hilang dari Bali. Kalau Nyoman dan Ketut hilang maka generasi Bali akan habis, kerifan lokal Bali akan habis, populasi orang Bali akan cepat habis, dan seterusnya," ujarnya. Selain itu, populasi masyarakat Bali dari tahun ke tahun terus menurun karena kampanye dua anak cukup sudah dilakukan sejak lama dan tertanam kuat di benak masyarakat Bali," ujarnya.

Itulah sebabnya, populasi orang Bali terus menurun. Bila populasi Bali menurun, maka cepat atau lambat eksistensi Bali dengan kearifan lokalnya akan hilang. Untuk itu di Bali bukan hanya cukup 2 anak, tetapi harus 4 anak untuk bisa diberi nama Wayan, Made, Nyoman, dan Ketut. (OL-3)

 

BERITA TERKAIT