20 June 2019, 18:00 WIB

Filantropi untuk Pendidikan Difokuskan Kolaborasi


Dhika Kusuma Winata | Humaniora

PERHIMPUNAN Filantropi Indonesia menunjuk Tanoto Foundation untuk mengoordinasikan berbagai kegiatan filantropi di bidang pendidikan. Program-program filantropi pendidikan ke depan akan dijalankan terarah dengan kolaborasi donor, penggiat pendidikan dan pemerintah.

CEO Global Tanoto Foundation Satrijo Tanudjojo menyatakan kegiatan filantropi di Indonesia untuk bidang pendidikan selama ini dinilai belum terarah dan berdampak besar dalam jangka panjang. Kebanyakan kegiatan akhirnya jatuh hanya sebagai charity. Karena itu, kolaborasi berbagai pihak dinilai penting untuk meningkatkan kontribusi filantropi dalam peningkatan pendidikan.

"Tujuan akhirnya yang diharapkan ialah filantropi bisa menaikkan prestasi anak-anak Indonesia untuk bisa berkompetisi secara internasional," kata Satrijo dalam peluncuran Piagam dan Pengukuhan Kelompok Kerja Klaster Pendidikan Filantropi Indonesia, di Jakarta, Kamis (20/6).

Baca juga: PT SMI Ajak Filantrop Ikut dalam Pembangunan Bangsa

Menurutnya, selama ini pendidikan di Indonesia meski telah mengalami perkembangan tetap saja tertinggal dari negara-negara lain. Hal itu salah satunya tercermin dalam pemeringkatan Programme of Internasional Student Assessment (PISA) Indonesia yang masih rendah.

"Pemerintah sudah alokasikan anggaran besar yakni 20% untuk pendidikan tapi tampaknya belum cukup. Karena itu para pegiat filantropi akan bekerja bersama-sama membuat program untuk pendidikan yang lebih terarah. Kita juga akan masuk ke wilayah advokasi kepada pemerintah untuk kebijakan pendidikan yang lebih baik," ucapnya.

Senada, Direktur Eksekutif Perhimpunan Filantropi Indonesia Hamid Abidin mengatakan kendala kegiatan filantropi selama ini ialah terjebak pada kegiatan charity sehingga tidak berdampak dlama jangka panjang. Ia menekankan sinergi multipihak diperlukan untuk merumuskan program bidang pendidikan yang lebih berkelanjutan.

Menurutnya, ada potensi dana sebesar Rp200 triliun dari para filantrop yang bisa diarahkan untuk mengembangkan pendidikan. Namun, selama ini yang terorganisasikan dengan baik hanya sekitar Rp6 triliun. Sisanya kebanyakan dikelola secara tidak terarah.

"Kebanyakan hanya dikelola secara direct giving padahal itu tidak efektif kalau kita bicara untuk dampak jangka panjang," tuturnya.(OL-5)

BERITA TERKAIT