Jokowi Geram Loyonya Investasi dan Ekspor


Penulis: Akmal Fauzi - 20 June 2019, 07:30 WIB
ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari
 ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari
Presiden Joko Widodo.

PRESIDEN Joko Widodo mengungkapkan kegeramannya terkait loyonya kinerja investasi dan ekspor. Padahal, investasi dan ekspor menjadi kunci utama mengatasi defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) yang sudah beberapa tahun ini menjadi masalah yang belum bisa terselesaikan.

Hal itu disampaikan Presiden Jokowi dalam rapat terbatas (ratas) terkait Terobosan Kebijakan Investasi, Ekspor, dan Perpajakan, di Kantor Presiden, Jakarta, kemarin.

Presiden menyinggung investasi yang tidak mengalami peningkatan signifikan. Demikian juga urusan perizinan yang menyusahkan investor untuk menanamkan modalnya.

"Kebijakan di investasi, urusan perizinan, tidak ada tendangannya apa-apa saat ini," ujar Jokowi.

Padahal, rapat terbatas mengenai masalah ini sudah digelar sebanyak enam kali. Namun, tetap saja, menurut Jokowi, tidak ada tindak lanjut yang signifikan. "Ini ratas keenam. Tolong digarisbawahi," tegas Jokowi dengan nada tinggi saat memimpin rapat terbatas itu.

Jokowi juga mengarahkan aparat pemerintah untuk terus mengetahui kesulitan-kesulitan yang dialami para pelaku usaha.

Presiden menekankan kebijakan investasi dan percepatan perizinan masih harus terus diperbaiki dan ditingkatkan.

Seusai rapat, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan Presiden menekankan kementerian terkait bekerja sampai level implementasi dan tidak berhenti di tingkat kebijakan.

"Tidak berhenti pada level policy, tapi pada level implementasi kepada setiap industrinya, di lokasi mana, dan juga minta supaya berbagai trade representative kita di luar negeri, bisa betul-betul menjadi agen yang bisa buka pasar," jelasnya.

Menurutnya, memang harus ada yang dikaji lebih dalam untuk mendongkrak sektor yang selama ini menjadi sumber perbaikan defisit transaksi berjalan. Pasalnya, permasalahan defisit transaksi berjalan lantaran kinerja ekspor yang loyo dan arus investasi yang masuk tidak sebesar yang diharapkan.

"Ya, kita harus betul-betul melihat per industri dan per lokasi" ujarnya. (Mal/X-10)

BERITA TERKAIT