RI Ajak Asia Timur Berkolaborasi Lindungi Laut


Penulis: mediaindonesia - 20 June 2019, 07:40 WIB
ist
 ist
Duta Besar RI untuk Nairobi, Soehardjono Sastromiharjo

INDONESIA mengajak negara-negara Asia Timur berkolaborasi mengatasi pencemaran lingkungan laut. Seruan itu mengemuka saat pertemuan internasional antarnegara (Intergovernmental Meeting/IGM) di Bali.

Sembilan negara anggota Badan Lingkungan PBB (UN Environment) yang tergabung dalam Coordinating Body on the Seas of East Asia (COBSEA) bertemu di sana untuk membahas perlindungan lingkungan laut dari polusi dan sampah plastik. IGM ke-24 tersebut dihadiri pemerintah Kamboja, Tiongkok, Indonesia, Korea Selatan, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.

"Indonesia mengajak semua negara yang tergabung ke dalam COBSEA regional Asia Timur untuk memecahkan masalah pesisir dan kelautan secara bersama-sama. Kolaborasi adalah kunci bagi upaya global dalam mengatasi masalah pesisir dan kelautan," sebut Duta Besar RI untuk Nairobi, Soehardjono Sastromiharjo, selaku pimpinan Delegasi Indonesia, dalam pembukaan IGM ke-24 di Bali, kemarin.

Ia menyebutkan, forum itu juga menjadi tindak lanjut komitmen pemerintah untuk mengimplementasikan hasil pertemuan The 4th UN Environment Assembly (UNEA-4) di Nairobi, hasil COP24 UNFCCC di Katowice, serta implementasi Bali Declaration sebagai hasil The 4th Intergovernmental Review Meeting for the Protection of the Marine Environment from Land-based Activities (IGR-4), pada 2018.

Soehardjono menegaskan, Indonesia sangat mementingkan masalah perubahan iklim, merkuri, polusi air, dan udara, serta kelangsungan hidup keanekaragaman hayati dan ekosistem lautan.

Untuk itu, sederet kebijakan nasional tentang agenda 2030 untuk pembangunan berkelanjutan telah dirilis. Presiden Joko Widodo telah mengeluarkan Perpres 83/2018 yang membahas rencana aksi untuk memerangi sampah laut.

Soehardjono mengatakan, tantangan baru dalam masalah lingkungan laut, seperti polusi plastik dan mikroplastik. Juga polutan yang muncul, seperti obat-obatan, pengganggu endokrin, hormon, racun, dan eutrofikasi.

"Lebih buruk lagi, ekosistem pesisir dan laut juga menerima dampak yang signifikan karena peningkatan suhu permukaan laut global dan pengasaman laut yang disebabkan oleh perubahan iklim." (Dhk/OL/H-3)

BERITA TERKAIT