Wagub NTB Tegaskan Komitmen Wujudkan 30% Kawasan Konservasi


Penulis: Ghani Nurcahyadi - 19 June 2019, 22:52 WIB
Dok. Pemkab NTB
 Dok. Pemkab NTB
Delegasi Indonesia dalam The 31st session of the Man and the Biosphere (MAB) Programme International Coordinating Council di Prancis

HARI ketiga The 31st session of the Man and the Biosphere (MAB) Programme International Coordinating Council di Prancis, Rabu (19/6) mengagendakan deklarasi kawasan Saleh-Moyo-Tambora (Samota) sebagai cagar biosfer dunia.

Dalam deklarasi ini, Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat Sitti Rohmi Dzalilah tampil mewakili Indonesia.

Selain Samota, satu cagar biosfer lainnya di Indonesia juga dideklarasikan, yaitu Togean, di Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah.

Dideklarasikan pula cagar biosfer baru di Austria, Po Grande dan Julian Alps di Italia, Gangwon Eco-Peace dan Yeoncheon di Korea Selatan, Lake Elton di Russia, Alto Turia dan La Siberia and Valle del Cabriel di Spanyol, Lubombo di Eswatini, Nordhordaland di Norwegia dan Roztocze di Polandia.

Wagub Siti menegaskan, pengakuan cagar biosfer memiliki makna penting sebagai cara pengelolaan kawasan untuk kepentingan pembangunan ekonomi berkelanjutan dan konservasi. Sekaligus, didukung oleh kajian ilmiah.

Baca juga : Presiden: Cagar Alam Cycloop Harus Direhabilitasi

Dalam sambutannya, atas deklarasi tersebut, Wagub NTB mengatakan, Pemprov dan masyarakat NTB telah siap dan bersedia untuk mengambil langkah nyata demi mengimplementasikan konsep cagar biosfer tersebut.

“Dan untuk mengalokasikan 30% dari kawasan NTB untuk menjadi area konservasi (kawasan hijau), termasuk Taman Nasional Gunung Tambora, Taman Wisata Alam Laut Pulau Moyo, Kawasan Perburuan Pulau Moyo, Taman Wisata Laut Pulau Satonda, Kawasan Perairan Liang dan Pulau Ngali dan area konservasi lainnya di bawah program pengelolaan terpadu,” ujar Wagub dalam keterangan tertulis.

Pengesahan Saleh-Moyo-Tambora “Samota” sebagai cagar budaya dunia merupakan pengakuan dari komunitas internasional atas  kerja keras dari masyarakat NTB dan pemerintah Indonesia.

Wagub juga menggunakan kesempatan itu untuk memperkenalkan Samota yang terletak di Sumbawa, Provinsi NTB. Samota, ujarnya, adalah bagian dari sunda kecil.

Kawasan itu mencakup dataran rendah hingga ke perbukitan dan gunung-gunung yang ketinggiannya bervariasi dari 0 hingga lebih dari 2 ribu meter di atas permukaan laut.

“Gunung Tambora memiliki ekosistem vulkanik dan erupsinya telah mengguncang dunia di tahun 1815. Kawasan ini adalah rumah bagi berbagai macam flora dan fauna. Kawasan ini juga memiliki komunitas lokal dengan budaya yang cukup mengesankan,” ujarnya.

Wagub mengakhiri sambutannya dengan menyampaikan informasi bahwa cagar biosfer Rinjani di Lombok dan Samota di Sumbawa akan menjadi tuan rumah pertemuan 13rd South East Biosphere Reserve Network (SeaBRnet) tahun depan.

Untuk diketahui, cagar biosfer bisa menjadi muara kegiatan konservasi, pembangunan ekonomi berkelanjutan dan pasokan kebutuhan logistik (Riset, Monev, Pendidikan Dan SDM). Cagar Biosfer juga merupakan  laboratorium alam bagi pembangunan berkelanjutan.

Baca juga : Tiga Cagar Biosfer Baru Diusulkan dalam Sidang MAB UNESCO

Memiliki cagar biosfer juga memberikan akses bagi tampilnya NTB di forum Internasional. Misalnya, di Forum ICC MAB yang terdiri dari 122 negara. Juga Forum WNBR (World Network of Biosphere Reserve).

Ada juga Forum SeaBRnet (Southeast Asia Biosphere Reserve Network), dimana Lombok akan menjadi tuan rumah pertemuannya pada tahun 2020 mendatang. Juga, SSC (South-South Cooperation).

Menurut Siti, cagar biosfer juga bermanfaat untuk sejumlah kebutuhan. Misalnya, bagi masyarakat di sekitarnya, bisa menggerakkan aktivitas jasa ekosistem, kegiatan produksi dan kelestarian budaya.

Selain itu, juga memiliki manfaat sebagai kawasan konservasi yang akan mendukung kelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistem. Cagar biosfer juga akan bermanfaat sebagai pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya sebagai laboratorium alam.

Bagi pemerintah (daerah maupun pusat), cagar biosfer akan bermanfaat untuk pengembangan ekonomi berkelanjutan, mempertahankan nilai sosial budaya dan citra pemerintah. Bagi sektor swasta, cagar biosfer akan memberikan nilai berupa penyediaan komoditas.

“Kami selaku Pemerintah Provinsi NTB, memberikan apresiasi yang tinggi atas pendeklarasian ini. Kami berharap, predikat sebagai cagar biosfer yang telah kita raih ini bisa memberikan manfaat, utamanya bagi masyarakat yang berada di kawasan cagar biosfer,” ujarnya.

Wagub juga menegaskan pentingnya dukungan dan masukan dari berbagai pihak untuk memaksimalkan tata kelola cagar biosfer ini nantinya.

“Dukungan dari para pemangku kepentingan yang beragam, tentunya akan menjadi modal berharga dalam mengembangkan dan mencapai makna penting dari keberadaan cagar biosfer ini,” pungkasnya. (OL-7)

BERITA TERKAIT