20 June 2019, 08:00 WIB

Aliran Uang Pemudik Ke Desa Jangan Biarkan Menguap Begitu Saja


mediaindonesia.com | Advertorial

Antara
 Antara
Peserta mengikuti Festival Balon Tradisional 2019 di Desa Pagerejo, Kertek, Wonosobo, Jawa Tengah, Sabtu (15/6).


HARI Raya Idul Fitri menjadi momentum keagamaan yang ternyata menjadi momentum dari puncak perputaran uang terbesar di Indonesia. Tidak percaya? Mari lihat buktinya.

Menjelang Lebaran, Bank Indonesia menyiapkan uang tunai sebesar Rp217,1 triliun untuk mengantisipasi permintaan jelang hari raya Idul Fitri atau Lebaran. Jumlah tersebut meningkat 13,5% dibandingkan tahun lalu yang sebesar Rp191,3 triliun. Permintaan uang tunai jelang Lebaran yang terbesar berada di wilayah Jawa non-Jabodetabek yang mencapai Rp84 triliun.

Kemudian dengan adanya tradisi mudik diperkirakan berpotensi mengalirkan uang hingga Rp9,7 triliun ke daerah tujuan mudik Lebaran 2019. Mau tahu hitungannya?

Potensi dana mengalir ke desa bisa dihitung berdasarkan data jumlah pemudik Lebaran 2019. Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Perhubungan memprediksi jumlah pemudik Lebaran 2019 dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) mencapai 14,9 juta orang.

Khusus DKI Jakarta, jumlah pemudik diperkirakan mencapai 7.346.430 jiwa, naik sebesar 4%  dari jumlah pemudik tahun 2018 sebesar 7.063.875 jiwa atau setara dengan 2.448.810 keluarga.

Semisal setiap rumah tangga rata rata membawa uang paling minim Rp4 juta saat mudik, uang yang mengalir ke daerah musim lebaran tahun 2019 ini diperkirakan mencapai Rp9,5 triliun.

Dana yang mengalir ke desa bisa makin membesar jika ditambah dengan dana yang berasal dari kirimin TKI Indonesia yang bekerja di luar negeri yang berjumlah hampir 9 juta orang.

Jika 1 orang TKI  mengirimkan Rp1 juta, menjelang Idul Fitri tahun ini akan ada dana masuk ke daerah sebesar Rp9 triliun.

Uang mudik gairahkan ekonomi desa.
Tradisi mudik yang kemudian menyebabkan terjadi aliran dana triliunan rupiah ke desa membuat momen Lebaran juga menjadi salah satu ajang perputaran uang di daerah. Hal ini diperkirakan mampu untuk menggairahkan ekonomi daerah dan desa yang menjadi tujuan mudik.

Selain itu mudik juga membuat pemerataan ekonomi yang tersebar di desa, kampung, kelurahan, kecamatan dan kota tempat pemudik pulang.

Pemerataan ekonomi itu terjadi karena pemudik membelanjakan uangnya untuk keperluan makan, minum, dan sebagainya. Tidak sedikit
yang memilih hotel atau penginapan untuk tempat tidur sehingga memberi efek ekonomi yang positif bagi desa, kampung, kelurahan, kecamatan, dan kota. Kemudian kegiatan pariwisata juga turut menjadikan pemerataan ekonomi di desa saat mudik lebaran.

Namun sayang, dahsyatnya potensi ekonomi mudik hanya bersifat temporer dan terjadi tahunan sehingga jarang menimbulkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan atau berlalu begitu saja tanpa diikuti peningkatan ekonomi produktif di daerah atau desa tujuan pemudik.

Padahal, semakin besar peredaran uang dalam suatu daerah seharusnya ekonomi masyarakatnya juga ikut menggeliat, investasi meningkat, sektor usaha kecil dan menengah tumbuh, pariwisata semakin hidup, tercipta lapangan pekerjaan baru dan pada akhirnya tumbuh sumber-sumber pertumbuhan ekonomi di daerah tersebut.

Kelola uang mudik agar Tetap Ada di Desa.
Menjadi 'tugas' kepala pemerintahan di daerah terutama di desa untuk bisa mengelola dana mudik yang mengalir ke desanya agar mampu menggeliatkan perekonomian desa.

Kepala desa dan masyarakat desa harus pintar berinovasi agar dana mudik bisa berputar didesa sehingga mampu menciptakan pergerakan ekonomi yang terus berlanjut dan tidak berhenti setelah fenomena musim mudik selesai.

Harus diketahui selama mudik bisa dibilang uang pemudik  akan banyak berputar di sektor pariwisata, oleh-oleh khas daerah, aneka produk UKM seperti makanan/kuliner dan kerajinan daerah. Nah inovasi disektor-sektor itulah yang kemudian bisa menjadi fokus dari kepala desa di daerah pemudik agar uang bisa berputar di desa.

Sektor pariwisata
Pemerintah dan penduduk desa harus mampu menangkap peluang di sektor wisata memanfaatkan prosesi mudik dan kunjungan wisata lebaran. Pemudik seringkali mencari daerah-daerah wisata yang bisa dikunjungi yang tidak ada di kotanya, karenanya menjadi langkah yang tepat jika sebuah desa memiliki potensi wisata kemudian berinovasi mempercantik dan menambah fasilitas tempat wisata tersebut agar bisa menarik pemudik untuk melancang ke sana. Dana desa bisa digunakan untuk membangun tempat wisata yang ada di desa.

Tempat wisata yang menarik menjadi magnet tersendiri bagi pemudik untuk berkunjung. Dampaknya tentu akan ada dana pemudik yang bakal masuk ke kas desa atau ke masyarakat desa yang biasanya akan berdagang di sana.

Produk unggulan desa
Hampir setiap desa memiliki  produk unggulan masing-masing mulai dari makanan, minuman, barang atau yang lainnya. Seharusnya produk ini bisa menjadi oleh-oleh dari kampung untuk selanjutnya dibawa ke kota.

Perguliran uang yang ada di desa selama masa lebaran ternyata ikut meningkatkan penyerapan produk unggulan  desa tujuan mudik.

Di sinilah dituntut kejelian pemerintah dan masyarakat desa untuk bisa melihat peluang agar bisa menjual produk unggulan desa ke para pemudik sehingga bisa meraup dana mudik yang beredar selama momen lebaran.

Baca juga: Desa Jayagiri Kembangkan Destinasi Alam Tanpa Merusak Ekosistem

Komoditas pertanian
Satu cara lain yang bisa ditempuh pemerintah desa agar dana mudik diputar tidak keluar dari desa adalah dengan menjual produk dan komoditas hasil pertanian pada para pemudik. Tindakan membeli produk dan komoditas hasil pertanian oleh para pemudik  selain mampu memberdayakan warga di pedesaan impact-nya juga meningkatkan pendapatan masyarakat desa.

Jika sektor-sektor di atas bisa bertumbuh dengan baik dipercaya ke depan daerah atau desa tempat tujuan mudik dapat menjadi destinasi limpahan 'uang kota' yang dibawa oleh para pemudik. Namun pemudik pun harus punya rasa untuk membangun desa atau mimimal memberdayakan masyarakat desa, caranya ya tentu saja memakai dan  membeli minimal produk-produk yang ada di desanya.

Diakui di beberapa daerah momen lebaran sudah berhasil dimanfaatkan sebagai peluang oleh warga desa, namun banyak  daerah belum bisa melakukannya sehingga potensi mereka belum bisa termanfaatkan meski ada dana mudik yang mengalir ke desa. Karena itu segera manfaatkan dana mudik yang mengalir ke desa untuk pemberdayaan dan peningkatan perekonomian desa. Jika lebaran ini belum bisa, jangan khawatir momen lebaran yang akan datang masih bisa dipergunakan untuk membangun desa. Selamat berkarya. (X-15)

BERITA TERKAIT