19 June 2019, 23:40 WIB

Bank Indonesia Hadapi Dilema


Atalya Puspa | Ekonomi

MI/PANCA SYURKANI
 MI/PANCA SYURKANI
Seorang wanita melintas di dekat logo Bank Indonesia di Gedung C Bank Indonesia (BI), Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat

BAK makan buah simalakama, Bank Indonesia (BI) saat ini dinilai dalam posisi dilematis untuk menurunkan atau justru tetap mempertahankan tingkat suku bunga acuan.

Jika diturunkan, ulas ekonom dari Universitas Indonesia Ari Kuncoro, di satu sisi menjadi angin segar bagi dunia usaha, di sisi lain manfaat di sektor riil baru bisa dirasakan di jangka panjang.

“Kalau diturunkan, dampaknya ada dua. BI takut akan ada depresiasi rupiah karena modal yang sudah mengincar Indonesia tidak jadi masuk. Kedua, penurunan suku bunga memang bagus untuk dunia usaha, tapi dampaknya lama. Jadi, kena sektor finansial dulu, baru kemudian sektor riil,” tutur Ari, Rabu (19/6).

Hal itu disampaikannya menanggapi Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG) yang digelar pada 19-20 Juni 2019 ini. Rapat itu merupakan agenda RDG bulanan yang rutin dilakukan oleh pejabat BI.

Ari menganalisis bahwa BI kali ini memiliki ruang yang cukup longgar untuk menurunkan suku bunga. Namun, hal itu akan berdampak cukup signifikan pada sektor finansial.

Di sisi lain, dirinya juga melihat perbankan umum belum memiliki alasan kuat untuk menaikkan tingkat kredit. Perbankan cenderung memilih berada di jalur aman dengan tidak mengubah tingkat kredit guna mempertahankan nasabah.

Atas analisis itu, ia memprediksi BI akan tetap mempertahankan suku bunga acuannya di level 6% sembari menunggu momen yang tepat untuk mengubah suku bunga acuannya.

Pendapat senada diungkapkan oleh ekonom Bank Nasional Indonesia (BNI) Ryan Kiryanto. Ia melihat BI tengah berada di situasi dilematis karena tiap pilihan punya konsekuensi masing-masing: menurunkan atau mempertahankan suku bunga.

“Kalau saya boleh memutuskan, sebaiknya BI tetap menahan BI rate karena masih kuatnya tekanan eksternal. RDG BI baru bisa turunkan BI rate pada Juli nanti sambil mencermati keputusan The Fed di Juli yang mungkin akan turunkan FFR 25 bps ke 2,0-2,25%,” jelas Ryan.

Genjot sektor riil
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Haryadi Sukamdani berharap RDG BI kali ini menghasilkan keputusan penurunan tingkat suku bunga.

Saat mewakili suara sejawatnya sesama pengusaha, Haryadi melihat kini sudah saatnya bagi pemegang otoritas untuk menggenjot sektor riil.

“Apalagi, kondisi makroekonomi saat ini sudah cukup baik. Jadi, kami harap suku bunga acuan bisa diturunkan,” ujarnya, Rabu (19/6).

Bagusnya situasi ekonomi saat ini, sambung dia, dengan melihat pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2019 yang tumbuh pada level 5,07%. Selain itu, inflasi juga terken­dali di level rendah, termasuk naiknya peringkat utang Indonesia ke level BBB.

Dari eksternal, perekonomian global juga tengah mengalami guncangan. Bahkan International Monetary Fund (IMF) juga sudah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global ke level 3,3%.

“Memang kalau kondisinya seperti ini langkah yang tepat, yakni dengan menurunkan tingkat suku bunga,” tegas Haryadi. (E-2)

BERITA TERKAIT