100 Hektare Sawah Dipastikan Gagal Panen


Penulis: Nurul Hidayah - 19 June 2019, 22:20 WIB
ANTARA FOTO/Abriawan
 ANTARA FOTO/Abriawan
Sawah terdampak kekeringan

KEKERINGAN yang melanda area persawahan di Kecamat­an Kandang­haur, Kabupaten Indramayu, kian parah. Bahkan, 100 hektare tanaman padi di daerah itu sudah gagal panen.

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kecamatan Kandanghaur, Waryono, menjelaskan 100 hektare sawah di Desa Karangmulya, Kecamat­an Kandanghaur, dipastikan puso alias gagal panen. “Umur tanaman padi yang puso antara 55 hingga 60 hari,” kata Waryono, kemarin.

Tanaman padi tersebut sudah mengeluarkan malai. Itu berarti, jika diairi sekalipun, bulir padi yang keluar akan berwarna putih dan tidak berisi. Karena itu, Waryono memastikan tanaman padi itu gagal panen.

Namun, masih terdapat sekitar 161 hektare sawah di Desa Karangmulya yang baru dalam tahap terancam puso. “Walaupun mengalami keke­ringan parah, tapi masih bisa selamat jika mendapatkan pasokan air yang cukup.”
Akan tetapi, untuk bisa selamat dari puso, pasokan air harus didatangkan sesegera mungkin sebelum tanaman padi itu berumur lebih dai 50 hari.

Sementara itu, Provinsi Bangka Belitung (Babel) saat ini memasuki puncak per­alihan musim dari hujan ke kemarau. Dampak dari peralihan musim ini, sekitar 300 hektare sawah di Belitung terancam kekeringan.

Bupati Belitung, Sahani Saleh, mengatakan, seluruh sawah di Pulau Belitung merupakan sawah tadah hujan. “Sekitar 300 hektare sawah kita terancam kekeringan karena kemarau panjang,” katanya. Sebagai antisipasi agar petani tidak merugi karena gagal panen, menurutnya, mereka mungkin tidak akan menanam padi.

Di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, ratusan hektare sawah juga mulai kekeringan. Penyebabnya ialah sudah hampir sebulan hujan belum turun.

“Berdasarkan laporan dari lapangan, sekitar 860 hektare lahan sawah mengalami keke­ringan. Sekitar 34 hektare di antaranya dikategorikan kekeringan berat,” kata Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Sudrajat, Rabu (19/6).

Sebagai informasi, luas lahan tanam padi tahun ini di Kabupaten Sukabumi sekitar 52 ribu hektare. Saat ini, di lahan tersebut terdapat tanam­an padi yang usianya 1 bulan sampai 2 bulan.

“Agar padi yang sudah ditanam tidak gagal panen, saya meminta petugas di lapangan untuk bisa memaksimalkan sumber-sumber air dengan mengoptimalkan pompa.”

Sulit air bersih
Kekeringan juga mulai melanda puluhan desa di Jawa Tengah (Jateng) yang  puncaknya diperkirakan pada Agustus mendatang. Saat ini ratusan desa dengan total jumlah penduduk sekitar 2 juta jiwa, terancam bencana kekeringan.

Berdasarkan pemantauan Media Indonesia, kemarin, kekeringan dan kesulitan air bersih mulai melanda puluhan desa di Jateng.  Untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, warga terpaksa membeli air bersih sembari menunggu bantuan pemerintah dan swasta.

Seperti warga Dusun Ngambilan, Desa Rejosari, Kabupaten Grobogan, untuk memenuhi kebutuhan air bersih terpaksa membeli dari pedagang air keliling dengan harga Rp5.000-Rp6.000 per jeriken.

Ancaman kesulitan air bersih juga melilit warga Kabupaten Klaten. Untuk mengatasi hal itu, BPBD Klaten menyiapkan dana sebesar Rp200 juta guna mendistribusikan air bersih ke daerah yang rawan kekeringan. (RF/BB/AS/JS/N-3)

BERITA TERKAIT