Alih Konten Komedi ke Gim


Penulis: Fahturrozak - 20 June 2019, 02:20 WIB
MI/BARY FATHAHILAH
 MI/BARY FATHAHILAH
Duo personel Marlo Marco the Loco Brother saat berpose di kantor Media Indonesia, Jakarta, Senin (17/6).


KALA itu Marlo Randy Ernesto Noya masih mengenyam pendidikan di SMP, saat ia mengunggah video pertamanya pada 2011. Video 'lucu-lucuan' itu dibuatnya untuk merespons tren di Twitter kala itu.

Salah satu video yang ia produksi meledek tren orang-orang di Twitter saat mengganti foto profil mereka. Marlo tampil dengan kebocahannya dan mencoba personate beberapa orang, hanya menggunakan kamera laptop sehingga kualitas videonya pun patah-patah.

Saat ditanya kembali setelah hampir sedekade lalu, ia mengaku, saat itu membuat video tersebut untuk empat orang teman sekolahnya. Video itu pun ditujukan untuk ditonton bersama di kamarnya.

Selang 3 bulan sejak mengunggah video itu di Youtube, Marlo terkejut ketika ada orang yang tidak dikenalinya menyapa dirinya saat di pusat perbelanjaan. Ternyata setelah mengunggah video itu, ia tidak mengikuti perkembangannya. Setelah kejadian itu, ia pun mengecek kembali video tersebut dan sudah disaksikan 60 ribu orang.

Setelah berkutat di Youtube, Marlo pun merambah ke Instagram pada 2015. Di platform yang kala itu memiliki fitur video 15 detik tersebut, ia menghadirkan sketsa komedi pendek.

"Kalau mau dibilang aktif atau enggak, Youtube buat gue saat itu cuma pelarian kita buat senang-senang, bukan sumber uang dan cara kita untuk terkenal, apa yang menurut kita lucu ya diunggah," ungkap Marlo saat berkunjung ke kantor Media Indonesia, di Kedoya, Jakarta Barat, Senin (17/6).

Di awal kemunculannya, Marlo sendiri, tapi sudah dibantu kakaknya, Marco Randy Parama Noya. "Karena pada dasarnya doyan ngelucu, jadinya Marlo ajak juga, sekalian menghibur orang banyak, bukan cuma teman. Jadinya baru deh, ikut buat-buat sketsa komedi," ujar Marlo.

Bila dulu mereka membuat konten lucu, kini keduanya lebih akrab dengan konten gim. Di Youtube, mereka kerap mengadakan siaran langsung atau mengunggah video mereka tengah bermain gim. Diakui Marco, justru ketertarikan mereka pada gim sudah lebih dulu bila dibandingkan dengan komedi. Keduanya sudah akrab dengan gim sejak 2009.

"Baru bisa main gim yang disambungkan ke media sosial ya tiga atau empat tahun lalu. Dulu karena enggak tahu record streaming, belakangan jadi tahu, pemicunya sih saat booming gim PUBG," tambah Marco yang usianya berjarak 6 tahun dengan Marlo.

Nominal
Menurut Marco, monetisasi dari video yang mereka unggah ke Youtube sebenarnya tidak signifikan berpengaruh mengalir ke rekening. Paling-paling hanya 10% bila digabungkan dengan sumber penghasilan mereka yang lain.

"Mungkin lebih banyak dari job sampingan yang masuk buat kita, seperti dapat kerja sama dengan brand. Itu efek sampingnya dari kita bangun personal branding di Instagram, Youtube. Bisa 60%-70% menyokong hidup kita. Penyambung nyawa banget," kelakar Marco.

Lalu, berapa nominal yang mereka habiskan untuk bermain gim? Dari keduanya, sepakat mengaku banyak menghabiskan biaya untuk gim hingga 80% dari total pendapatan mereka. Sisanya untuk kebutuhan kehidupan mereka.

Biaya untuk gim pun dibagi menjadi dua pos. Pos pertama, mereka gunakan untuk membeli perlengkapan virtual pendukung permainan, sedangkan pos kedua untuk perlengkapan ngegim.

"Marlo bisa habis sekitar Rp60 juta, gue ya Rp55 jutaan, sama lah ya. Itu buat item virtual-nya. Kalau buat perlengkapan ngegimnya ya paling Rp10 juta-Rp15 juta. Namun kan kita enggak beli sehari jadi, itu dari kita sudah main 5-6 tahunan," beber Marco.

Investasi
Dalam satu bulan, paling tidak ada satu brand yang bekerja sama dengan Marlo dan Marco. Namun, sejak empat tahun lalu, keduanya sudah menyetop melakukan endorsement produk toko daring. Keputusan itu bukan tanpa sebab, Marlo mengaku tindakan itu dilakukan guna menjaga karakter mereka di dunia digital.

Terkait dengan kerja sama, keduanya memiliki strategi tersendiri. Bila Marco bersedia menerima kontrak jangka panjang dengan brand, berbeda dengan Marlo yang enggan.
"Asumsinya, pengeluaran empat tahun terganti dengan dua tahun kerjalah," tambah Marlo.

"Terakhir sama salah satu e-commerce nilai kontraknya setahun Rp150 jutaan lebih. Ya, kita harus sering unggah konten, enggak boleh ada kerja sama dengan e-commerce lain. Dalam seminggu bisa 2-3 kali di story Instagram," papar Marco.

Keengganan Marlo untuk terikat kontrak jangka panjang bukan tanpa alasan. "Gue enggak mau kontrak (jangka panjang). Kalau kontrak setahun cuma sama satu, gue bisa 4-5 brand dalam setahun dengan penghasilan yang lebih gede.

Belum mau kontrak atau jadi brand ambassador karena gue enggak mau terikat apa-apa dengan brand tertentu, kita kan bakal bertumbuh terus. Enggak usah terikat, toh belum siapa-siapa juga," papar Marlo.

Memiliki pendapatan dengan nominal besar tentunya membawa godaan tersendiri bagi kakak beradik ini. Tak pelak, mereka kerap menghabiskan uang banyak untuk membeli peralatan gim. Bila sudah menghabiskan dana besar dalam sepekan, mereka pun harus mengirit dalam hal makanan.

"Sempat seminggu menghabiskan Rp12 juta, ini kesedihan ya, bukan sesuatu yang wow, Rp12 juta ilang gitu aja. Gue cuma bisa beli makan mi instan, nasi, dan gorengan," ujar Marco.

Meski begitu, Marlo mengaku ada sisi positif setelah mereka belanja jorjoran. Sisi positifnya mereka terpacu untuk kembali bekerja mengumpulkan pundi-pundi rupiah.

"Kalau cewek investasinya tas, kita investasinya gim. Harga item virtual bisa naik. Gue beli satu barang Rp3 juta pada 2015, baru gue jual beberapa bulan lalu Rp6-7 juta, itu real money, jadi investasi. Lumayan," tutup Marlo. (M-3)

 

BERITA TERKAIT