Joko Anwar Gundala, Potret Indonesia Sebenarnya


Penulis: Fathurrozak - 20 June 2019, 01:20 WIB
MI/PIUS ERLANGGA
 MI/PIUS ERLANGGA
 Joko Anwar (43) sutradara film Gundala 

GUNDALA Putra Petir karya mendiang Harya Suraminata (Hasmi) diadaptasi menjadi film layar lebar melalui tangan sutradara Joko Anwar, 43. Dalam film terbarunya itu, Joko mengadaptasi kisah Gundala menjadi lebih membumi dan mengusung permasalahan manusia Indonesia.

Joko berpandangan, ketika Hasmi dan para legenda komik menciptakan karakter mereka, menurutnya ada yang ingin dinyatakan sebagai wujud ekspresi dinamika permasalahan zaman itu sebab tidak bebas menyatakan protes atau kritik.

Pada era kebebasan menyatakan pendapat saat ini, imbuhnya, Joko menganggap perlu membumikan kisah Gundala agar dekat dengan permasalahan yang dihadapi Indonesia.

"Gundala di film Gundala sangat manusia Indonesia. Apa yang dialami oleh para karakter di dalamnya, ya itulah apa yang kita alami sekarang," ungkap sutradara Pengadi Setan itu, ketika berkunjung ke kantor Media Indonesia di Kedoya, Jakarta Barat, Selasa (18/6).

Kebanyakan manusia Indonesia sekarang ini menghadapi masalah yang sangat mendasar, seperti kebutuhan pokok (sandang, pangan). "Adanya konflik kepentingan sekelompok orang dalam sebuah negara memengaruhi rakyatnya, yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kita," timpalnya.

Manusia Indonesia memiliki permasalahan yang perlu diakui dan diperbaiki bersama. Namun, sebagai bangsa, masyarakat Indonesia sangat egois. "Orang yang punya kuasa bisa melanggar hukum karena merasa powerfull bisa keluar dan terbebas dari konsekuensi hukuman. Orang paling bawah juga sama, karena beralasan mau cari makan. Harus diakui, kita masih punya mental seperti itu dan harus diperbaiki bersama-sama."

Sutradara kelahiran Medan itu mengaku kerap dihadapkan dengan berbagai kejadian politis semasa kuliahnya di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan itu membuatnya lebih terasah dalam membuat karakter di setiap filmnya.

"Banyak orang Indonesia sekarang berpikir berada di pihak yang paling benar sehingga akan mati-matian membenarkan apa yang mereka percayai dan menutup diri dari informasi apa pun yang mengubah cara berpikir bahwa mungkin mereka bukan di pihak yang benar."

Tak ingin terjebak
Prinsip itu pun ia pegang ketika meramu skenario, termasuk Gundala. Joko tidak ingin terjebak pada karakterisasi hitam putih pahlawan-musuh. Setiap karakter melakukan tindakan karena memang punya motivasi sikap yang harus diambil, bukan sebab sekadar ingin jadi baik atau jahat.

Bagi sutradara yang mengawali debutnya dengan Janji Joni (2005) ini, skenario merupakan tulang punggung dari suatu film. Dalam penulisan skenario, menurutnya, juga ada unsur teknis dengan mengikuti prinsip-prinsip dan unsur estetika bersumber dari pengalaman hidup yang telah dilalui penulis agar perspektif estetikanya juga luas.

Ia pun banyak terbantu dalam menggarap skenario dari latar belakangnya sebagai wartawan. Beberapa kejadian pun menginspirasinya seperti di film Kala (2007), ada lima orang dibakar di terminal bus karena diteriaki maling. "Itu dari kejadian saat saya meliput lima orang diteriakin maling di Kampung Rambutan dan dibakar sama massa, padahal mereka bukan maling," kenangnya.

Film yang akan tayang perdana pada 29 Agustus 2019 itu akan diperankan Abimana Aryasatya sebagai Sancaka, karakter yang akan menjadi Gundala. (H-3)

 

VIDEO TERKAIT :

BERITA TERKAIT