Kasus Pelecehan Seksual Dosen USU akan Dilaporkan Ulang


Penulis: Yoseph Pencawan - 18 June 2019, 21:50 WIB
Thinkstock
 Thinkstock
Ilustrasi

PENANGANAN kasus pelecehan seks oleh oknum dosen FISIP Universitas Sumatra Utara terhadap mahasiswi mengalami progres terbaru.

Setelah dalam beberapa waktu terakhir melakukan pendalaman kasus, para aktivis perempuan yang tergabung di Forum Pengadaan Layanan (FPL) akhirnya mendatangi Rektorat USU, Selasa (18/6).

Para aktivis yang menjadi pendamping korban tersebut ingin memastikan sikap terakhir yang dikeluarkan pihak rektorat terhadap kasus ini. Namun, seperti yang sudah diketahui publik sebelumnya, pihak Rektorat menyatakan kepada FPL bahwa mereka belum melakukan langkah apapun karena masih menunggu pelaporan ulang oleh korban.

"Tadi ibu Ros (Wakil Rektor I) bilang, Rektorat belum jelas masalahnya seperti apa. Jadi gak tahu mau ambil tindakan apa karena belum resmi dilaporkan ke Rektorat," ungkap Lely Zailani dari Himpunan Serikat Perempuan Indonesia (Hapsari) seusai pertemuan tertutup dengan Rosmayati, Wakil Rektor I USU.

Karena itu, lanjutnya, mereka akan mendampingi korban untuk melaporkannya ke pihak Rektorat. Ini akan menjadi pelaporan ulang karena kasus ini sebelumnya sudah dilaporkan ke pihak Dekanat dan Program Studi Sosiologi FISIP USU.


Baca juga: Lima Kerangka Jenazah Korban Likuefaksi Dimakamkan di Toraja


Para pendamping, kata Lely, menaruh harapan besar USU mampu menjadi contoh dalam penyelesaian kasus pelecehan seksual oleh dosen kepada mahasiswi di Indonesia.

Serupa dengan apa yang disampaikan Rektor USU, Runtung Sitepu, beberapa waktu lalu, kepada wartawan seusai pertemuan Rosmayati mengatakan pihak rektorat masih menunggu laporan resmi dari korban.

Namun yang menarik, Rosmayati menyebut sulit untuk menyelesaikan kasus ini karena tidak ada alat bukti yang kuat. Padahal, pihak Dekanat FISIP USU sebelumnya sudah sempat memberikan sanksi kepada dosen pelaku meski hanya berupa teguran.

Terlebih, Rosmayanti tidak merinci bukti-bukti seperti apa yang dinilainya kuat agar si pelaku dapat ditindak lebih tegas.

Meski terjadi pada 2018, kasus ini mencuat ke publik pada Mei 2019. Berawal dari pemberitaan media massa, kasus ini menjadi sorotan oleh berbagai kalangan karena si pelaku hanya mendapat sanksi yang sangat ringan oleh pihak dekanat.

Rektor USU kemudian menegaskan pihaknya siap mengambil alih pengusutan kasus ini. Namun dia meminta korban untuk melaporkannya secara resmi ke Rektorat. (OL-1)

BERITA TERKAIT