19 June 2019, 04:10 WIB

Bius tanpa Suntik Bikin Sunat Lebih Nyaman


(*/H-2) | Humaniora

DOK. MI/ ATET
 DOK. MI/ ATET
 Acara Sunatan Massal Anak

SUNAT atau sirkumsisi merupakan prosedur membuang kulit prepusium penis atau kulup. Berbagai bukti ilmiah menunjukkan manfaat sunat dari sisi medis, yakni menghindari risiko berbagai penyakit, seperti gonore, herpes, kanker serviks, infeksi saluran kemih, serta infeksi HIV dan human papilloma virus (HPV).

Namun demikian, ada sebagian anak dan dewasa laki-laki yang merasa takut untuk melakukan sunat. Mereka takut nyeri, padahal sebelum melakukan tindakan sunat, pasien diberi anestesi (bius) terlebih dahulu untuk mencegah timbulnya nyeri.

Bahkan, di era sekarang, pembiusan bisa dilakukan tanpa jarum suntik. Dokter pakar sunat dr Mahdian Nus Nasution SpS menjelaskan pemberian obat anestesi tanpa jarum menggunakan teknologi needle free injection, yakni teknik menghantarkan cairan obat ke jaringan subkutan kulit tanpa penyuntikan jarum.

Teknologi itu, terang Mahdian, menghantarkan cairan obat menggunakan tenaga pegas. Tenaga pegas tersebut menghasilkan pancaran cairan berkecepatan tinggi sehingga cairan obat dapat berpenetrasi ke dalam kulit.

”Penggunaan teknologi ini berguna untuk membuat anak tidak takut dan juga bisa menghindari reaksi kulit setelah penyuntikan, seperti menimbulkan rasa nyeri, kulit menjadi biru, atau bengkak,” ujar dokter yang juga pendiri yang juga pendiri Rumah Sunat dr Mahdian itu, pada sebuah diskusi membahas sirkumsisi, di Jakarta, kemarin.

Pembicara lain, dr Encep Wahyudan, mengingatkan bahwa bagi anak laki-laki, sunat merupakan momen yang tak terlupakan dan hanya dilakukan satu kali dalam hidup. Oleh karena itu, idealnya, proses sunat tidak menjadi pengalaman yang buruk bagi anak.

“Teknologi needle free injection ini tentunya lebih memberikan kenyamanan bagi pasien sunat saat proses anestesi dilakukan,” jelas praktisi sunat di Rumah Sunat dr Mahdian itu.

Risiko kulup kembali
Pada diskusi itu juga dibahas salah satu risiko kegagalan sunat yang disebut kulup kembali, yakni kulup kembali menutup sehingga pasien kembali dalam kondisi seperti bulan disunat.

Menurut Mahdian, kegagalan itu acap kali membuat pasien sunat dewasa maupun anak-anak harus menjalani sunat ulang. Bagi mereka, terutama anak-anak, tindakan sunat kembali tidaklah mudah karena dapat menyebabkan trauma. Karena itu, risiko itu perlu ditekan seminimal mungkin. Antara lain, dengan memilih tenaga profesional dalam pelaksanaan sunat.

Mahdian pun menjelaskan penyebab kegagalan itu. Ia mengungkapkan, tujuan dari sunat ialah membuang lapisan mukosa sebanyak mungkin untuk mencegah risiko terkena penularan berbagai penyakit.

Mukosa merupakan lapisan paling dalam dari kulup yang melingkupi glans (kepala) penis. "Ada kasus-kasus sunat yang tindakannya bukan dilakukan tenaga medis, yang pada proses pelaksanaannya masih menyisakan lapisan mukosa ini sehingga risiko kulup kembali menutupi kepala penis lebih besar. Bahkan, sisa-sisa yang tidak terbuang ini dapat menyebabkan ejakulasi dini pada pria," kata Mahdian. (*/H-2)

 

BERITA TERKAIT