19 June 2019, 02:20 WIB

Sritex Bagikan Dividen Rp62,36 Miliar


(*/E-3) | Ekonomi

ANTARA FOTO/R. Rekotomo
 ANTARA FOTO/R. Rekotomo
 Pekerja menjahit pakaian untuk seragam militer tentara Portugal, di pabrik PT Sri Rejeki Isman (Sritex), Sukoharjo

PERUSAHAAN tekstil yang berpusat di Surakarta, Jawa Tengah, PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) memutuskan membagikan dividen sebesar 5% dari laba bersih perseroan untuk tahun buku 2018 atau sebesar Rp61,36 miliar kepada pemegang saham.

Hal itu disepakati dalam rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) emiten berkode saham SRIL tersebut di Jakarta, Selasa (18/6).

“Rapat menyetujui pembagian dividen Rp3 per saham,” ungkap Presiden Direktur PT Sri Rejeki Isman Tbk, Iwan Seti­awan Luk­minto, saat paparan publik.

Tahun lalu, SRIL mencatatkan laba bersih sebesar US$84,5 juta atau setara dengan Rp1,21 triliun (asumsi kurs 14.300/dolar AS), naik 24% dari capaian periode yang sama tahun sebelumnya US$68,03 juta. Penjualan juga naik sebesar 36,1% pada angka US$1,03 miliar dari capaian tahun sebelumnya US$759 juta.

Sekretaris PT Sri Rejeki Isman Tbk, Welly Salam, mengakui jumlah dividen 2018 lebih rendah daripada di 2017 yang mencapai Rp8 per saham. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan likuiditas perusahaan.

“Pertimbangannya kami ingin meningkatkan likuiditas. Ada perhatian dari pa­ra pemegang saham yakni bagaimana ki­ta mengurangi utang dan menjaga level utang. Salah satunya untuk menjaga ­levera­ge kita,” tutur Welly.
Di lain hal, Iwan menambahkan, pa­da tahun ini perusahaan menyiapkan belanja modal (capital expenditure) yang berasal dari da­na internal sekitar US$30 juta-US$40 juta untuk biaya perawatan mesin produksi. Selain itu, dia menekankan, Sritex juga tidak akan menambah kapasitas produksi pada tahun ini.

Namun, Iwan menargetkan penjualan akan naik sebesar 15% dan laba bersih meningkat 5% pada 2019. Untuk itu, Sritex akan fokus meningkatkan pangsa pasar ekspor meski kondisi global saat ini sedang tidak menentu akibat perang dagang antara Tiongkok dan Amerika Serikat.

“Adanya perang dagang Tiongkok-AS merupakan kesempatan besar bagi industri tekstil Indonesia untuk memasuki pasar ekspor. Trade war memungkinkan adanya perpindahan pesanan dari Tiongkok ke Indonesia,” pungkas dia. (*/E-3)

BERITA TERKAIT