18 June 2019, 15:49 WIB

Ratna: Saya Disebut Ratu Pembohong


Rifaldi Putra Irianto | Politik dan Hukum

ANTARA
 ANTARA
Terdakwa kasus dugaan penyebaran berita bohong atau hoaks Ratna Sarumpaet bersiap mengikuti sidang lanjutan di PN Jakarta Selatan, Jakarta.

TERDAKWA kasus penyebaran berita bohong atau hoaks, Ratna Sarumpaet, dalam pembacaan pleidoinya mengatakan akibat kebohongan yang dilakukannya ia menerima sanksi sosial yang berat.

"Akibat kebohongan itu, saya menerima sanksi sosial yang begitu berat dari masyarakat. Saya disebut ratu pembohong, " kata Ratna, dalam persidangannya, di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Selasa (18/6).

Baca juga: Ratna tak Sangka Kebohongannya Berdampak Hukum

Ia menyebut hal tersebut telah berhasil mencoreng nama baiknya. "Mencoreng nama baik saya. Saya mengerti itu adalah konsekuensi dari kebohongan yang saya buat," ucapnya.

Ia pun mengucapkan permintaan maaf kepada seluruh masyarakat, serta pihak-pihak lain, dan memohon agar dirinya dapat dibebaskan dan dikembalikan kepada keluarganya.

"Saya mengucapkan permohonan maaf yang sebesar besarnya pada masyarakat dan pihak-pihak lain. 16 Juli saya berusia 70 tahun. Sebagian besar kehidupan saya berada di sekitar anak-anak saya. Mohon kembalikan saya kepada mereka. Mohon kembalikan saya ke pelukan anak-anak saya," pungkasnya.

Baca juga: Pengacara Sebut Kasus Hukum Ratna Digunakan Sebagai Alat Politik

Sebelumya, ia juga menyebutkan bahwa ia merasa kesal karena JPU hanya mempertimbangkan pernyataan ahli yang diajukannya, sementara ahli yang meringankan tidak dipertimbangkan.

"Jaksa Penuntut Umum secara terang-terangan mengabaikan kesaksian sdr. Teguh Arifiadi sebagai ahli ITE dari Menkominfo yang notabene ahli dari Pemerintah yang mengatakan bahwa tidak ada keonaran di Media Sosial, Yang ada Trending Topic ", ujar dia. (OL-6)

BERITA TERKAIT