Pemblokiran Iklan Rokok, Menkominfo Minta Bertemu Menkes


Penulis: Dhika Kusuma Winata - 18 June 2019, 15:30 WIB
ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto
 ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto
Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara.

MENTERI Komunikasi dan Informatika Rudiantara menyatakan perluasan pemblokiran iklan rokok di internet dan media sosial membutuhkan kajian serta pembahasan lebih lanjut.

Ia pun telah meminta untuk menggelar rapat dengan Kementerian Kesehatan selaku pengampu Undang-Undang No 36 Tahun 2009 Kesehatan.

"Saya sudah minta rapat dengan Menkes karena untuk bentuk iklannya seperti apa yang melanggar, yang paling paham ialah Kemenkes sebagai regulator terkait. Tinggal menunggu dari Kemenkes," kata Rudiantara di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (18/6).

Hingga saat ini, Kemenkominfo menutup 114 konten daring yang memuat iklan rokok dengan menampilkan wujud rokok. Hal itu merespons permintaan Kemenkes agar Kemenkominfo menutup iklan rokok di dunia maya yang tidak sesuai kententuan perundang-undangan.

"Seratusan uniform resource locator (URL) sudah kita tutup karena sangat nyata bertentangan dengan aturan yaitu memperagakan wujud rokok. Yang menayangkan bukan serta merta produsen rokok karena url ada di kanal Youtube, Facebook dan platform lainnya yang merupakan unggahan pribadi," imbuhnya.

Baca juga: Koordinasi Larangan Iklan Rokok di Internet Diperkuat

Menurut Rudiantara, pihaknya membutuhkan pembahasan lebih lanjut dengan Kemenkes untuk menyisir regulasi bentuk-bentuk iklan rokok yang melanggar aturan di ranah daring.

"Yang paling tahu menginterpretasikan regulasinya itu Kemenkes," ujarnya.

Iklan niaga produk tembakau diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012. Pengendalian iklan dilakukan pada media cetak, media penyiaran, media teknologi informasi dan media luar ruang.

Iklan rokok wajib antara lain mencantumkan penandaan tulisan 18+, tidak memperagakan atau menampilkan wujud rokok, tidak menggambarkan atau menyarankan merokok memberikan manfaat bagi kesehatan, tidak merangsang atau menyarankan orang untuk merokok, serta tidak ditujukan terhadap anak, remaja dan wanita hamil.

Sebelumnya, dalam surat yang ditujukan kepada Menkominfo pada 10 Juni 2019, Menkes Nila F Moeloek meminta Kemenkominfo memblokir iklan rokok di internet untuk menurunkan prevalensi merokok khususnya pada anak-anak dan remaja.

Menkes menjelaskan hasil Riset Kesehatan Dasar 2018 menunjukkan terjadi peningkatan prevalensi perokok anak dan remaja usia 10-18 tahun dari 7,2% pada 2013, menjadi 9,1% pada 2018. Hal itu terjadi ditengarai lantaran tingginya paparan iklan rokok di berbagai media termasuk media teknologi infomasi.(OL-5)

BERITA TERKAIT