Air Waduk Mulai Mengering


Penulis: M Yakub - 18 June 2019, 02:00 WIB
MI/Ahmad Yakub
 MI/Ahmad Yakub
Wduk Sumengko di Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik, Jatim mulai mengering

SEJUMLAH waduk dan embung di wilayah pantura Kabupaten Gresik, Jawa Timur (Jatim), mulai mengering. Hal itu mulai terjadi dalam sebulan terakhir.
 
Kekeringan terjadi karena hujan tidak turun dalam sebulan terakhir. Akibatnya, debit air menyusut sehingga sebagian petani beralih menanam palawija karena khawatir tanaman padi mereka bakal mengalami puso.

Adapun petani lainnya, membiarkan lahan mereka telantar tanpa tanaman. Waduk-waduk di bagian utara kabupaten tersebut yang mulai mengering, di antaranya waduk di Banyutengah, waduk Desa Pantenan, dan embung Desa Delegan di Kecamatan Panceng.

Selain itu, waduk Desa Mentaras dan waduk Siraman di Kecamatan Dukun juga sudah mengering sejak sebulan terakhir. Di antara waduk-waduk tersebut, hanya waduk Desa Ketanen, Kecamatan Panceng, yang masih memiliki sisa air. Waduk lainnya, yaitu Waduk Sumengko di Desa Tebuwung, Kecamatan Dukun, debit airnya terus menurun karena dipakai untuk irigasi.

Diperkirakan dampak terbesar akibat kekeringan waduk tersebut akan terjadi pada lahan  yang jauh dari irigasi. “Panen akan menurun drastis musim ini,” kata Kardi, warga Desa Prupuh, Kecamatan Panceng, Senin (17/6).

Selain tanaman padi, minimnya debit air di sebagian besar waduk dan embung juga akan berdampak pada ratusan hektare (ha) tanaman jagung. Kondisi itu diperparah oleh serangan hama tikus menjelang masa panen jagung.
Hal yang sama juga terjadi di Waduk Gajah Mungkur. Air di waduk itu, sejak sebelum Lebaran, mulai menyusut. Penyusutan­ air praktis  memengaruhi pasokan ke irigasi ke wilayah pertanian Colo Barat.

Imbasnya, dikhawatirkan tanaman padi akan mengalami puso. Hal  ini terjadi karena debit air dari Dam Colo sisi barat yang tadinya sebesar 5 meter kubik per detik, menyusut­ hingga tinggal 4 meter kubik per detik.
Hampir 2 pekan

Sementara itu, ratusan hektare lahan sawah di enam kecamatan di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, terancam mengalami kekeringan karena belum turunnya hujan hampir dua pekan. Dinas Pertanian, Pangan, Perkebunan, dan Hortikultura setempat mulai mewaspadai ancaman tersebut lantaran tidak menutup kemungkinan akan meluas menyusul prediksi terjadinya kemarau.

“Luasan potensi lahan sawah yang terancam mengalami kekeringan ini ialah dari hasil pendataan koordinator pengamat organisme pengganggu tanaman (POPT) Kabupaten Cianjur pada periode 1-15 Juni 2019,” kata Kepala Seksi Sarana dan Prasarana Dinas Pertanian, Pangan, Perkebunan, dan Hortikultura Kabupaten Cianjur, Dandan Hendayana, kepada Media Indonesia, kemarin.

Berdasarkan hasil pendataan, luasan area sawah yang terancam kekeringan ialah sekitar 506 ha. Rinciannya, di Kecamatan Naringgul 360 ha, Kecamatan Cilaku 50 hektare, Kecamatan Tanggeung 22 ha, Kecamatan Cijati 34 ha, Kecamatan Karantengah 15 ha, dan Kecamatan Bojonpicung 25 ha.

Selain itu, terdapat juga lahan sawah yang mengalami kekeringan tingkat sedang, yakni sekitar 5 ha di Kecamatan Cijati. “Kekeringan status ringan seluas 40,2 ha.” (WJ/BB/N-3)

BERITA TERKAIT