17 June 2019, 19:50 WIB

Mengapa Perusahaan Memaklumi Pembohong?


Bintang Krisanti | Weekend

Dribble.com
 Dribble.com
Suasana rapat.

SIFAT pembohong jelas tercela. Namun seringnya dalam negosiasi proyek-proyek besar, perusahaan sering mentoleransi orang-orang yang melakukan lobi dengan memoles fakta-fakta sehingga terdengar lebih hebat. Tidak hanya itu, perusahaan justru tidak jarang mengharapkan karyawannya melakukan kebohongan tersebut.

Mengapa hal tersebut terjadi? Hal inilah yang diteliti oleh tim dari University of Chicago Booth School of Business. Tim mengungkapkan jika perusahaan melihat kemampuan untuk mengelabui itu sebagai kompetensi yang dibutuhkan oleh bidang marketing.

Dilansir Science Daily, Selasa (11/9), studi berjudul Pengelabuan sebagai Kompetensi Seseorang: Dampak dari Steriotipe Pekerjaan terhadap Persepsi dan Penerimaan akan Pengelabuan itu diterbitkan dalam jurnal Organizational Behavior and Human Decision Processes.

Dalam studi itu, Asisten Profesor dari Ilmu Perilaku pada Chicago Booth Emma Levine dan Peneliti dari Johns Hopkins University Brian Gunia menemukan jika orang tidak selalu menolak pengelabuan. Faktanya, mereka menerima karakter itu sebagai aset pekerjaan yang identik dengan bidang yang mengharuskan orientasi penjualan yang tinggi.

"Pengelabuan dalam bentuk kecurangan, penggelapan dana dan korupsi, mengakibatkan kerugian besar dalam ekonomi dan merusak prinsip moral yang penting dalam sistem ekonomi. Perusahaan membuat diri mereka sendiri dalam bahaya dengan memperkerjakan para penipu," jelas Gunia dan Levine.

Kesimpulan peneliti dibuat berdasarkan dua penelitian percontohan. Mereka meminta responden penelitian untuk memberi nilai terhadap 32 jenis pekerjaan yang dianggap "tinggi" dan 'rendah" terhadap orientasi penjualan. Dalam empat bagian penelitian, peneliti mendapatkan tiga pekerjaan yang paling dianggap teronrientasi dengan penjualan, yakni sales, investasi perbankan, dan periklanan. Sementara tiga pekerjaan yang bersifat kebalikan adalah konsultan, manajemen nonprofit, dan akunting.

Peneliti kemudian melakukan eksperimen dimana partisipan mengobesrvasi apakan seseorang bertindak bohong atau jujur dalam berbagai bentuk situasi. Contohnya, pelaporan pengeluaran dalam perjalanan bisnis atau dalam simulasi permainan ekonomi dalam laboratorium.

Di akhir, responden harus memberikan penilaian bagaimana potensi kesuksesan orang jujur dan pembohong dalam jenis-jenis pekerjaan tadi. Selain itu responden juga harus menentukan untuk memperkerjakan orang tersebut atau tidak.

Beberapa penemuan penting dalam penelitian ini adalah nyatanya orang pembohong dianggap akan lebih sukses dalam pekerjaan yang berorientasi dalam penjualan. Lebih jauh, responden percaya jika pembohong akan lebih berhasil dalam pekerjaan tersebut ketimbang orang jujur.
Hasil penelitian ini pun membuka mata akan pemakluman orang terhadap sifat-sifat pembohong. Jika sedari awal, orang memang memaklumi sifat pembohon maka tentu tidak heran jika korupsi sedemikian sulit diberantas. (M-1)

BERITA TERKAIT