ULN Akhir Maret Tumbuh, BI: Faktor Penguatan Nilai Tukar Rupiah


Penulis: Atalya Puspa - 17 June 2019, 12:30 WIB
ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
 ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Onny Widjanarko.

BANK Indonesia mencatat adanya pertumbuhan utang luar negeri (ULN) Indonesia sebesar 8,7% (yoy) pada akhir April 2019 menjadi US$389,9 miliar. ULN tersebut terdiri atas utang pemerintah dan bank sentral sebesar US$189,7 miliar, serta utang swasta (termasuk BUMN) sebesar US$199,6 miliar.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Onny Widjanarko, menyatakan pertumbuhan ULN pada April 2019 yang lebih tinggi dari Maret 2019 disebabkan oleh transaksi penarikan neto ULN dan pengaruh penguatan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), sehingga utang dalam Rupiah tercatat lebih tinggi dalam denominasi dolar AS.

Baca juga: Pemerintah Siapkan Program Drainase Jalan Secara Nasional

"Peningkatan pertumbuhan ULN terutama bersumber dari ULN sektor swasta, di tengah perlambatan pertumbuhan ULN pemerintah," kata Onny dalam keterangan tertulis, Senin (17/6).

Selain itu, BI juga mencatat pertumbuhan ULN pemerintah melambat. Posisi ULN pemerintah pada April 2019 tercatat sebesar US$186,7 miliar dolar AS atau tumbuh 3,4% (yoy), melambat dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 3,6% (yoy).

Perkembangan tersebut, kata Onny, dipengaruhi oleh pembayaran pinjaman senilai US$0,6 miliar dan penurunan kepemilikan Surat Berharga Negara (SBN) milik nonresiden senilai US$0,4 miliar akibat ketidakpastian di pasar keuangan global yang bersumber dari ketegangan perdagangan. (OL-6)

BERITA TERKAIT