17 June 2019, 07:15 WIB

RI-Jepang Kembangkan Blok Masela


Media Indonesia | Ekonomi

SATUAN Kerja Khusus Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dan Inpex Corporation menandatangani head of agreement (HoA) atau perjanjian pendahuluan pengembangan lapangan hulu migas Masela di Kepulauan Tanimbar, Maluku.

Penandatanganan itu dilakukan Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto, Presiden Inpex Indonesia Shunichiro Sugaya, dan President & CEO Inpex Corporation Takayuki Ueda di sela Pertemuan Tingkat Menteri G-20 di Karuizawa, Jepang, Sabtu (15/6).

Perjanjian investasi sebesar lebih dari US$18,5 miliar itu turut disaksikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan dan Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang Hiroshige Seko, juga dihadiri Duta Besar Indonesia untuk Jepang Arifin Tasrif dan Utusan Presiden untuk Jepang ­Rachmat Gobel.

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengatakan, dengan penandatanganan perjanjian tersebut, pihak Inpex bersama Shell dapat memulai proyek pengembangan lapangan abadi Blok Masela. Diharapkan, pada 2027 mendatang produksi pertama dari lapang-an abadi itu akan dapat dimulai.

“SKK Migas akan membantu investor untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang bisa menghambat, mulai dari penyediaan lahan untuk pembangunan kilang liquified natural gas (LNG) hingga analisis mengenai dampak lingkungan,” kata Dwi Soetjipto dalam pernyataan resmi, kemarin.

Menteri ESDM Ignasius Jonan menilai proyek tersebut sangat strategis karena memiliki nilai investasi terbesar sejak 1967. Pemerintah sangat serius menangani perjanjian itu untuk menarik investasi yang lebih besar ke Indonesia.

Selain itu, Jonan berpendapat proyek pengembangan Blok Masela akan bermanfaat bagi sektor rekayasa industri Indonesia karena dapat melibatkan banyak pihak di dalamnya.

Dia menyatakan pemerintah akan bersungguh-sungguh mendorong lebih banyak tingkat komponen dalam negeri.

“Saya melihat banyak perusahaan Indonesia yang mempunyai kemampuan untuk ikut terlibat dalam pengembangan proyek ini, dan ini merupakan kesempatan yang baik untuk meningkatkan kemampuan insinyur Indonesia,” kata Jonan.

Blok Masela diprediksi menghasilkan 9,5 juta metrik ton LNG setiap tahunnya. Jumlah produksi tersebut dapat meningkat hingga 1 juta metrik ton jika pabrik petrokimia selesai dibangun.

Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies (Iress) Marwan Batubara mengatakan terjalinnya kerja sama tersebut patut disambut baik meski masih harus menunggu realisasi ke depan karena ini merupakan proyek jangka panjang. (*/X-10)

BERITA TERKAIT