16 June 2019, 18:15 WIB

Semburan Dusta Terbukti tidak Bisa Raih Kemenangan Politik


Antara | Politik dan Hukum

ist
 ist
Ketua Umum Inovator 4.0 Indonesia, Budiman Sudjatmiko (kiri) dalam forum 'Kecerdasan Buatan dan Biopolitik".

KETUA Umum Inovator 4.0 Indonesia, Budiman Sudjatmiko, menegaskan, semburan dusta atau kebohongan tidak akan bisa mencapai kemenangan politik di Indonesia.

"Kami menganalisa karena masyarakat di Indonesia kita bisa mengalahkan semburan dusta, maka semburan dusta di Indonesia tidak bisa mencapai kemenangan politik," kata Budiman saat menghadiri Forum Inovator 4.0 Indonesia bertajuk 'Kecerdasan Buatan dan Biopolitik: Membangun Masyarakat Kebal Semburan Dusta' di Jakarta, Minggu (16/6).

Dia mengatakan, masyarakat Indonesia mampu mengalahkan semburan dusta atau firehose of falsehood sepanjang penyelenggaraan Pemilihan Umum 2019.

Namun, semburan dusta tidak berhenti setelah Pemilu usai. Dia mengingatkan kabar bohong bertebaran dengan pola yang terstruktur, diulang-ulang, dan mengaduk-aduk emosi, serta kepercayaan seseorang.

"Kebohongan jumlahnya tidak terhingga dan bisa disebarkan siapa pun menggunakan berbagai saluran," ujar dia.


Baca juga: Gugatan 02 Diprediksi akan Ditolak MK


Menurut Budiman, semburan dusta semakin subur saat masyarakat penerimanya menyukai kabar bohong asal menyenangkan. Padahal, kata dia, daya rusak semburan dusta begitu nyata, memengaruhi individu hingga bisa merusak tatanan sosial suatu bangsa.

"Semburan dusta ini tidak berhenti dan bikin kecanduan," ungkap Budiman.

Oleh karena itu, Budiman menyerukan Indonesia harus membangun sumber daya manusia yang kebal semburan dusta dengan membuat gerakan studi otak dan genetik manusia.

Dia mengajak inovator di dalam dan luar negeri untuk terlibat dalam gerakan studi otak dan genome tersebut.

"Kita pasti bisa. Dulu sejarah kebebasan, lalu awal 2000 kita masuk era keadilan, sekarang Indonesia harus masuk masanya kemajuan," ungkap Budiman.

Selain Budiman, hadir juga sebagai narasumber dalam forum itu yakni ahli neurosains dari Tokyo University Hospital, DR Ryu Hasan, kandidat Doktor dalam Rekayasa Genetik Universitas Oxford, Muhammad Hanifi, dan pendiri Bandung Fe Institute serta ahli kompleksitas, Hokky Situngkir. (OL-9)

 

BERITA TERKAIT