16 June 2019, 22:30 WIB

IHSG dan Rupiah Pekan Depan Diprediksi Stagnan Cenderung Melemah


Atikah Ishmah Winahyu | Ekonomi

Antara/Aprilio Akbar
 Antara/Aprilio Akbar
pergerakan saham di BEI

INDEKS harga saham gabungan (IHSG) ditutup melemah sebesar 0,364% atau di level Rp6.250, turun 22,817 poin pekan lalu.

Pengamat ekonomi Fithra Faisal Hastiadi memprediksi dalam sepekan ke depan tidak akan ada perubahan berarti pada level IHSG, bahkan cenderung agak melemah.

"Kalau saya melihat di sepekan ke depan justru tidak ada perubahan yang berarti karena memang pasar masih menunggu," kata Fithra kepada Media Indonesia, Minggu (16/6).

Fithra menambahkan, dalam bulan ini IHSG berpotensi turun ke level Rp6.100 dan naik ke level Rp6.500. Kondisi ini tentunya dipengaruhi oleh faktor-faktor pendukung seperti kondisi global dan kebijakan Bank Indonesia (BI) terkait suku bunga.

Dia menilai saham di sektor perbankan masih cukup stabil dan layak dikoleksi, sedangkan saham di sektor komoditas cenderung beresiko. Selain itu beberapa saham badan usaha milik negara (BUMN) agak dihindari akibat adanya kisruh pada laporan beberapa perusahaan.

Baca juga : Indonesia Punya Peluang di Balik Memanasnya Perang Dagang

"Sekarang untuk perbankan masih sangat layak untuk dikoleksi, tetapi untuk saham-saham BUMN mungkin orang masih menghindari itu karena beberapa kondisi sebelumnya ada kisruh dari laporan Garuda, Pertamina dan PLN. Yang lain terkait dengan komoditas masih naik turun saya rasa masih cukup beresiko," tuturnya.

Senada dengan IHSG, kondisi Rupiah pun dinilai Fithra masih cukup stagnan dalan sepekan ke depan. Dia memprediksi ada potensi melemah namun tidak terlalu signifikan.

"Ada sedikit potensi melemah tapi mungkin tidak akan terlalu signifikan, saya rasa batas terlemahnya mungkin di level Rp14.400 (per dollar Amerika Serikat) minggu ini," ujarnya.

Fithra mengungkapkan, penurunan ini terus terjadi pasca pengumuman terkait cadangan devisa beberapa waktu lalu. Dia mengakui kondisi current acount devicit saat ini cukup membebani rupiah dan perekononian Indonesia.

Fithra meyakini, apabila pertemuan di forum G-20 berjalan dengan baik sehigga perang dagang antara ASdan Tiongkok mereda, penurunan suku bunga oleh The Fed yang kemudian direspo oleh BI, tidak menutup kemungkinan kondisi IHSG dan Rupiah akan bergerak positif.

Namun jika berjalan sebaliknya, dia memprediksi Rupiah akan tertekan hingga level Rp14.700.

"Kalau misal memang pertemuan di G-20 itu berjalan buruk dan kemudian The Fed memutuskan untuk tetap ratenya dan itu direspon oleh BI dengan tidak menurunkan rate akan bisa menekan rupiah sampai Rp14.700," terangnya. (OL-8)

BERITA TERKAIT