16 June 2019, 20:00 WIB

Proyek Blok Masela Bisa Datangkan Investasi di Indonesia Timur


Atikah Ishmah Winahyu | Ekonomi

ist
 ist
 Blok Masela 

SATUAN Kerja Khusus Pelaksana Kegiatab Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) bersama INPEX Corporation telah menandatangani perjanjian pengembangan lapangan hulu migas Masela di Karuizawa, Jepang, Minggu (16/6). 

Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies (Iress) Marwan Batubara mengatakan, terjalinnya kerja sama tersebut patut disambut baik meski masih harus menunggu realisasi ke depan karena ini merupakan proyek jangka panjang.

"Ya kita sih kalau dari sisi niat baik dan ada komitmen atau persetujuan dari kontraktor terutama INPEX, saya kira kita menyambut baik, intinya gitu. Tapi soal prospek implementasi dan realisasi ke depan ya kita tunggu saja," kata Marwan kepada Media Indonesia, Minggu (16/6).

Marwan mengungkapkan, ada sejumlah faktor atau tantangan yang akan dihadapi dalam proyek pengerjaan blok-blok besar seperti Blok Masela. Tantangan tersebut seperti biaya (pengerjaan) yang lebih mahal serta turunnya harga Migas dapat membuat pengerjaan proyek menjadi ditunda, terutama pengembangan di bagian Timur Indonesia yang memiliki risiko lebih tinggi karena kondisi laut yang lebih dalam dan menghabiskan biaya eksplorasi serta eksploitasi yang lebih mahal.

"Itu (proyek) memang sangat tergantung juga pada harga Migas ke depan seperti apa. Tapi kalau nanti tahu-tahu turun lagi ya agak sulit untuk bisa berlanjut proyek manapun itu, bukan hanya sekadar di Indonesia Timur, Indonesia Barat pun kalau memang ada yang lebih menjanjikan misalnya, tapi kalau harga murah ya orang nggak akan mau memulai. Apalagi di Timur yang memang risiko lebih tinggi," jelasnya.

Untuk diketahui, Blok Masela terletak di sekitar Lepas Pantai Laut Arafuru, sekitar 155Km arah barat daya Saumlaki, Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Provinsi Maluku.

Terkait kemungkinan proyek ini dapat menarik investasi lebih banyak ke Indonesia, khususnya bagian Timur, Marwan menilai tidak menutup kemungkinan hal tersebut akan terjadi selama pemerintah tetap realistis dan memiliki skema menarik.

"Kalau harapan boleh-boleh saja, tapi kalau soal realisasi, sepanjang memang skemanya menarik dan kita tidak kaku dengan harus sekian persen sekian persen, tapi kita realistis ya kayak model gross split ya ada harapan lah gitu," tuturnya.

Selain itu, Marwan menyarankan agar pemerintah mengajak perusahaan dalam negeri untuk turut andil dalam proyek ini. "Nah terus juga kalau memang bisa jangan cuma asing yang dibiarkan punya saham di sana gitu. Ya mungkin pertamina perlu juga dilibatkan," tandasnya.(A-3)

BERITA TERKAIT