15 June 2019, 07:20 WIB

Kaharudin Djenod Kapal untuk Mudik Gratis


mediaindonesia | Hiburan

MI/PIUS ERLANGGA
 MI/PIUS ERLANGGA
Kaharudin Djenod

HIDUP makmur di negeri orang tidak membuat ilmuwan perancang kapal, Kaharudin, puas. Walaupun ia telah sukses dan terkenal di 'Negeri Sakura', ia rela melepas gajinya yang besar dan memilih membaktikan ilmunya pada Tanah Air.

Kahar telah mendesain lebih dari 350 kapal laut milik Jepang, atau rata-rata sebanyak 70 proyek per tahun. Mulai jenis oil tanker, chemical tanker, elpiji tanker, dan berbagai jenis kapal lainnya. Semua kapal dibangun di Jepang. Kini di Indonesia ia memulai lagi segalanya dari nol. Kembali ke kota kelahirannya di Surabaya, ia mendirikan perusahaan perancang kapal pertama di Indonesia, Terafo Megantara yang telah melahirkan berbagai jenis kapal laut.

Berbekal dari nama besar sebagai perancang kapal kelas internasional di Jepang, perusahaan yang didirikan Kahar segera memperoleh klien dari berbagai negara. Ia merekrut lulusan terbaik dari sekolah menengah hingga universitas. Mereka yang direkrut juga diberi kesempatan untuk belajar teknik di tingkat yang lebih tinggi di dalam dan di luar negeri dengan biaya penuh dari perusahaan. Kahr bermimpi menjadikan Indonesia sebagai negara produsen kapal terkemuka di mata dunia. Bagi Kahar, kepuasan memberikan sumbangsih pada Indonesia tidak dapat dinilai dengan uang dan popularitas.

Ayah Kahar merupakan TNI Angkatan Laut (AL) dengan pangkat terakhir Peltu (Pembantu Letnan 1). Sewaktu kecil, kahar juga membantu perekonomian orangtuanya karena gaji TNI ketika itu kecil, terutama yang berpangkat Tamtama maupun Bintara. Ibunya seorang ibu rumah tangga. Untuk bisa mencapai kehidupan yang layak atau lumayan masih jauh sehingga gaji yang diterima sudah habis pada dua pekan pertama setelah diterima, selebihnya harus berusaha bertahan. Kahar merupakan anak ketiga dari lima bersaudara. Dari kecil ia merasakan kehidupan yang tidak mudah. Namun, ia menikmati hal itu sehingga tidak merasakan susah.

"Kami terbiasa sekolah sambil mencari penghasilan untuk bisa membantu orangtua dan membayar uang sekolah. Saya dari kecil bisa membuat kerajinan tangan dari akar kayu, seperti boks, jam dinding, lalu dijual. Saya lakukan itu mulai dari SMP," kata Kaharudin.

Meski dengan kondisi ekonomi yang sulit, Kahar bertekad untuk bisa melanjutkan sekolah tanpa membebani orangtua. Ia mencoba mencari peluang-peluang beasiswa yang ada untuk bisa bersekolah. Kebetulan ketika itu kakak pertamanya membaca koran yang sudah lama. Ia melihat ada satu pengumuman kecil dari program Habibie bernama STAIT. Ia mencoba ikut program tersebut, yakni pendaftaran bagi lulusan terbaik di Indonesia untuk mendapatkan beasiswa. Setelah mendaftar ternyata Kahar diterima dan dikirim bersekolah di Jepang.

Di Jepang ia berlajar arsitek perkapalan dari S-1 sampai S-3. Di luar itu, ia juga punya hobi programming dan programming artificial intelligence yang dilakukan secara autodidak untuk membuat software dan sebagainya. Lepas dari program doktor, ia menggabungkan arsitek perkapalan dengan hobi programming dan programming artificial intelligence menjadi satu sistem untuk mendesain kapal secara optimal. Sesuatu yang semula bisa dilakukan tetapi memerlukan waktu begitu lama dan orang begitu banyak.

"Dengan sistem yang saya temukan ini, saya bisa mendesain kapal dengan kemungkinan berapa ratus dan berapa juta hanya dalam waktu dua jam," jelasnya.

Semua yang dia lakukan terinspirasi dari surat yang ia buat sewaktu SD. Surat itu berbunyi, "Aku mau membuat pesawat dan kapal agar orangtua dan guruku bisa pulang ke Sulawesi dengan gratis." "Bagi saya, guru juga orangtua, beliau juga orang Sulawesi. Surat yang saya buat saat kecil ini pertama kali diingatkan guru karena lain dari karangan lain, karena ingin membuat pesawat dan kapal untuk membawa orangtua dan guru mudik gratis menggunakan kapal ke Sulawesi". (TS/M-4)

BERITA TERKAIT