13 June 2019, 23:40 WIB

Mengumpulkan Pasir Timah untuk Bersekolah


(Rendy Ferdiansyah/N-3) | Nusantara

 FOTO ANTARA/Fanny Octavianus
  FOTO ANTARA/Fanny Octavianus
Pasir timah

SUARA mesin tambang pasir timah di pesisir Sungai Pangkalarang, Kecamatan Pangkalbalam, Pangkalpinang, menderu kencang. Deru suara mesin inkonvensional apung itu membakar semangat dua bocah yang berada tidak jauh dari perangkat tambang tersebut.

Dengan mengenakan celana panjang seragam sekolah dasar berwarna merah, mereka dengan cekatan mengumpulkan sisa pasir pembuangan limbah dari mesin tambang itu.
Keduanya memakai piring plastik untuk mengumpulkan butiran-butiran pasir yang kemudian dimasukkan ke ember berwarna hitam. Setelah terisi penuh, bocah kecil bernama Budi, 9,  itu pun bergegas mengangkatnya ke sakan (wadah untuk mencuci pasir timah).

SUARA mesin tambang pasir timah di pesisir Sungai Pangkalarang, Kecamatan Pangkalbalam Bocah lainnya, Ramadhan, 9, telah menanti di sekitar sakan-akan untuk memilah butiran timah dari pasir. Dia menyiramkan air dengan menggunakan piring plastik untuk melakukan pemilahan.

Aktivitas kedua siswa kelas empat SD di Pangkalarang itu merupakan rutinitas yang selalu dikerjakan sepulang sekolah untuk mendulang rupiah. Karena sudah terbiasa, mereka tampak cekatan, khususnya si gendut Ramadhan yang dengan tangan kirinya mengusap-usap pasir sembari tangan kanannya menyiramkan air agar bisa memisahkan timah dari pasir.

“Kami ngelimbang (mencari butiran timah di tumpukan pasir) setelah pulang sekolah. Itu pun kalau mesin tambangnya jalan, kalau tidak jalan, kami tidak ngelimbang,” kata Ramahdan.  

Dia menjelaskan, untuk melimbang, alat yang digunakan cukup sederhana, yaitu karpet, ember, dan dua piring plastik. Adapun sakan yang mereka pakai, dibuat dari tumpukan pasir.

“Tumpukan pasir kan banyak, jadi  kita bisa membuat segi empat seperti sakan. Kalu kami  alaskan dengan karpet, posisi bagian atas agak tinggi supaya pasir cepat lari tersiram air. Kalau timah tidak akan lari karena kan berat,” urainya.

Untuk saat ini karena masih dalam suasana libur Lebaran, dia dan Budi bisa melimbang dari pagi. “Kalau pendapatan yang kami dapat, tidak tentu Bang. Terkadang bisa 5 ons dengan bayaran Rp50 ribu. Satu ons dibeli Rp10 ribu,” kata Ramadhan kepada Media Indonesia.

Uang yang didapat, lanjutnya, sebagian diserahkan ke orangtua dan sebagian lagi untuk mencukupi kebutuhan sekolah. (Rendy Ferdiansyah/N-3)

BERITA TERKAIT