13 June 2019, 06:35 WIB

Kerasionalan Ekstrimis Islam Menurun


Thalatie K Yani | Weekend

AFP
 AFP
ilustrasi pemindaian otak

Sebuah penelitian terhadap pada fanatis Islamis menunjukan hasil yang mengejutkan. Berdasarkan hasil scan otak memperlihatkan penurunan kapasitas pikiran rasional.

Penelitian ini dilakukan kepada grup radikal Islam yang ditanya apakah mereka siap 'perang dan mati' akan pemikiran mereka. Selama proses itu, otak para peserta di scan.

Hasilnya menunjukan ketika pertanyaan dilontarkan, bagian otak mereka yang terlibat mengevaluasi  biaya dan konsekuensi menunjukan penurunan aktivitas.

Para ilmuwan mengatakan ini menunjukkan ketika datang nilai 'Kesucian' untuk para radikal, mereka kebal terhadap argumen yang melibatkan biaya dan manfaat.

Penelitian ini kesulitan mencoba untuk 'deradikcalise' seseorang. Karena daerah otak yang terlibat resisten terhadap argumen. Namun cara pandang itu berubah setelah ada tekanan teman sebaya.

Jika peserta diberi tahu pendapat anggota komunitas lain - muslim pakistan yang tinggal di Barcelona - tidak mendukung tindakan, mereka akan mengubah pandangan, menjadi 'perang dan mati'.

Para peneliti mengatakan temuan mereka cocok dengan pemikiran radikal tidak sering meninggalkan inti mereka 'nilai sakral'. Tapi mereka bisa menjadi kurang bersedia untuk bertarung dan mati untuk menegakkan mereka.

Penelitian dilakukan kepada 146 anggota kelompok radikal Islamik Lashkar et Cang-Bar di Barcelona. Grup ini dipilih dalam survey yang menjelaskan keinginan menggunakan kekerasan melawan warga sipil, bergabung grup teroris atau terlibat aksi protes dengan kekerasan.

Asalan keagamaan lainnya mereka diminta mempertimbangkan beberapa isu, seperti pasukan militer Barat yang diusir dari tanah Muslim dan pemakaian cadar bagi perempuan di muka umum.

Scott Atran dari University of Michigan dan rekannya menulis di jurnal Royal Society mengatakan "kami menemukan pilihan nilai sakral mengurangi aktivitas daerah otak yang sebelumnya terkait dengan kontrol kognitif dan biaya -manfaat perhitungan." Sebagaimana disitat dari Dailymail.

"Selain itu kami menemukan rangking kesediaan perang dan mati terpengaruh dari pendapat teman-temannya," lanjutnya.

Mereka menambahkan penelitian mereka menunjukkan 'kemungkinan untuk menginduksi fleksibilitas dalam cara orang mempertahankan nilai sakral' dan temuan ini dapat digunakan untuk lebih memahami motivasi konflik kekerasan. (M-3)

BERITA TERKAIT