12 June 2019, 19:55 WIB

Si Kecil di Dekat Kolam Renang, Perhatikan 5 Hal Berikut!


Galih Agus Saputra | Weekend

Unsplash/Terry Jaskiw
 Unsplash/Terry Jaskiw
Ada hal-hal yang harus diperhatikan saat anak Anda di sekitaran kolam renang atau tempat berair dalam lain.

Kabar meninggalnya putra penyanyi country AS, Granger Smith, yang berusia 3 tahun awal bulan ini, serta putri atlet ski Olimpiade, Bode Miller, yang berusia 19 bulan, pada tahun lalu kembali menjadi pengingat bagi publik bahwa air merupakan risiko besar bagi anak, terutama balita.

Insiden anak tenggelam memang cukup banyak terjadi di Amerika Serikat, sebagaimana disebutkan Komisi Keamanan Produk Konsumen Amerika Serikat. Seperti dilansir Huffington Post, mereka juga menjelaskan bahwa jumlah korban tenggelam di kolam dan spa belakangan ini telah meningkat secara mengejutkan. Meski demikian, insiden tersebut dapat terjadi di mana saja. Di dalam negeri, Anda mungkin masih ingat musibah yang menimpa cucu Menkopolhukam Wiranto.

"Dua hal paling berbahaya yang sering kita lakukan pada anak-anak kita biasanya adalah menempatkan mereka di dalam mobil dan menempatkan mereka di sebuah tempat, dimana mereka dapat mengakses kolam renang, danau, atau bak mandi air panas dengan mudah," imbuh direktur eksekutif sebuah yayasan yang bekerja pada keamanan kolam renang, Abbey's Hope, Alan Korn.

Berikut adalah beberapa hal dasar yang perlu diketahui orang tua ketika anak-anaknya berada di dekat air (kolam renang):

1. Pagar Empat Sisi
Pada Maret lalu, American Academy of Pediatrics (AAP) telah memperbarui kebijakannya untuk menekan angka korban jiwa akibat tenggelam di kolam renang. Mereka juga menekankan pentingnya sebuah penghalang (pagar) pemisah antara anak-anak dan air yang harus dipasang oleh pemilik kolam.
Namun begitu, pemasangan pagar saja dirasa tidak cukup jika anak-anak dibiarkan bebas bermain di sekitar kolam renang tanpa pengawasan orang tua. Oleh karena itu, keberadaan orang tua saat anak berenang menjadi hal mutlak.

2. Kemampuan Berenang Sejak Dini
AAP menjelaskan bahwa pada umumnya tidak ada standar universal yang diterapkan untuk mengatur kapan seorang anak harus berlatih renang. Namun, ketika anak-anak itu sendiri mulai mendapatkan instruksi formal tentang cara berenang, hal itu dirasa dapat membantu untuk menurunkan risiko tenggelam, khususnya untuk anak-anak berusia 1 hingga 4 tahun. Patut diingat, pelajaran berenang tidak serta merta akan menyelamatkan anak yang tenggelam dalam kolam, tapi paling tidak bisa menjadi pengurang risiko, di samping adanya pengawasan orangtua.
Di Ibu Kota, sudah cukup banyak operator penyedia pelajaran renang untuk bayi dan anak-anak. Tentu saja Anda perlu memeriksa lebih dulu jejak rekam mereka.


3. Prioritas Kontak Visual
Begitu banyak kasus anak-anak tenggelam di kolam atau pantai padahal ada orang dewasa, penjaga kolam, maupun penjaga pantai yang hadir di dekat mereka. Kenapa demikian? Hal itu disebabkan buruknya kontak visual orang-orang dewasa terhadap anak-anak yang bermain air di sekelilingnya.
Korn bahkan mengatakan bahwa para orang tua harus benar-benar terlibat dalam pengawasan anak ketika mereka berada di sekitar air kolam.
"Anda harus benar-benar meletakkan telepon genggam Anda. Anda harus benar-benar terlibat dalam mengawasi anak Anda. Jika anak Anda adalah perenang pemula, itu berarti ia harus berada dalam jarak, sepanjang jangkauan lengan Anda. Bila perlu, buatlah shift untuk mengawasi anak-anak Anda misalnya bergantian 15 menit sekali dengan pasangan Anda.”


4. Pelampung Tidak Bisa Diandalkan
Satu-satunya perangkat yang telah dianggap cukup membantu dalam menjaga anak-anak tetap aman di air adalah ‘jaket pelampung’. Namun , perlu diketahui bahwa perangkat yang dewasa ini banyak beredar di pasaran adalah pelampung mainan. Maka dari itu, boleh dibilang bahwa kebanyakan pelampung yang beredar sekarang ini hanya bisa digunakan untuk main-main, dan bukan untuk upaya pencegahan atau keamanan.

5. Hal Tak Terduga Bernama “Tenggelam”
Peristiwa tenggelamnya seseorang dapat dikatakan sangat tenang, bahkan lebih tenang dari yang kita bayangkan. Sering kali, saat kejadian, korban tenggelam seolah membisu, senyap, atau terdiam karena suara mereka tertahan air yang memenuhi kerongkongan. Jangankan memanggil bantuan, untuk menghirup napas saja sudah sangat kesulitan. Oleh karena itu, mereka yang tenggelam tidak akan dapat memercikkan atau tampak bergerak terlalu banyak di hadapan orang-orang. (M-2)

BERITA TERKAIT