Ancaman Banjir Hoax dari Menjamurnya Program Video Palsu


Penulis: Abdillah Marzuqi - 12 June 2019, 14:45 WIB
Mashable/ Ohad Fried/ Youtube
 Mashable/ Ohad Fried/ Youtube
Program Audio Plasu buatan tim Standford - Max Planck - Princeton- Adobe.

BULAN lalu Samsung telah memperkenalkan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelegence) yang dapat membuat gambar diam menjadi berbicara. Teknologi itu diterapkan pada beberapa gambar lukisan terkenal, termasuk Monalisa.

Kini tim ilmuwan dari Stanford University, the Max Planck Institute for Informatics, Princeton University, dan Adobe Research memperkenalkan teknologi atau program yang hampir mirip. Dilansir mashable.com (12/6), teknologi itu diperkenalkan lewat video sekaligus makalah yang berjudul sama, Text-based Editing of Talking-head Video.

Sesuai judulnya, video itu menunjukkan teknologi yang dapat mengedit kata-kata yang diucapkan seseorang hanya dengan cara memasukkan teks kalimat baru. Salah satu contoh yang diberikan adalah rekaman seorang perempuan yang menyebutkan tentang harga saham Apple.

Ilmuwan kemudian mengubah harga yang disebutkan perempuan itu hanya dengan mengedit teks transcript video itu. Hasil editan video itu sangat mulus sehingga sama sekali tidak terlihat kejanggalan dalam gerak bibir, meski harga hasil editan sangatlah berbeda dari harga asli yang diucapkan sang perempuan.

Tidak hanya mengubah kata-kata, teknologi itu juga memungkinkan penghilangan kata-kata. Hasilnya sama mulusnya. Program ini mampu membuat anotasi video kepala yang berbicara secara otomatis dengan memanfaatkan fonem, pose, geometri 3D wajah, pemantulan, ekspresi, dan pencahayaan. Ketika transkrip ucapan pada video diubah, algoritma akan menyatukan semua elemen dan menjadikan bagian bawah wajah pembicara sesuai dengan teks yang baru.

Peneliti juga menguji hasil video itu dengan meminta penilaian dari 138 orang. 59,6% dari responden menanggapi video palsu itu sebagai video yang benar-benar mirip dengan asli. Program itu memang tidak dirilis secara luas. Para peneliti mengakui punya pertimbangan etis.

Mereka juga menjabarkan jika program ini bertujuan baik, karena dimaksudkan untuk kebutuhan edit paskaproduksi film. Meski begitu mereka mengakui jika ada kemungkinan berbagai penyalahgunaan.

Program dan teknologi audio dan video palsu ini disebut juga sebagai Deepfake karena canggihnya pemalsuan yang dihasilkan. Teknologi ini sesungguhnya mulai dikenal pada 2018 dan kini semakin banyak dihasilkan. Fenomena tersebut membuat kekhawatiran, khususnya karena potensi makin banyaknya orang yang bisa memproduksi berita bohong.

Kekhawatiran makin meningkat di dunia politik Amerika Serikat terutama karena Pilpres 2020. Kini, pemerintah AS diminta untuk dapat mengantisipasi penggunaan teknologi deepfake tersebut. Hal serupa mestinya juga jadi perhatian di Indonesia. Sebab saat ini pun produksi hoax sudah mengkhawatirkan. (M-1)

BERITA TERKAIT