11 June 2019, 00:55 WIB

Syawalan, Tradisi Khas Nusantara Merajut Tali Silaturahim


(Tim/N-3) | Nusantara

ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra
 ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra
Warga dari 19 kecamatan berebut gunungan saat mengikuti kirab gunungan sego megono dan hasil bumi

IDUL Fitri telah berlalu. Jutaan warga telah menjalankan tradisi pulang kampung yang dikenal dengan mudik. Demikian pula arus balik Lebaran, telah berlangsung dengan lancar.

Kini, saatnya kembali beraktivitas seperti sediakala. Namun, bagi warga pantura, suasana Lebaran masih terasa hangat karena adanya tradisi lain, yakni menanti Syawalan yang digelar sepekan setelah Idul Fitri.

Saat Syawalan, mereka akan berkunjung ke rumah keluarga yang berada di luar daerah. Akan tetapi, Syawalan tidak hanya tradisi berkunjung.

Berbagai kegiatan juga digelar di Pekalongan, Kendal, Kudus, dan Jepara. Di Pekalongan, acara Syawalan diprediksi akan meriah. Selain tradisi potong kue lopis raksasa di wilayah utara Kota Pekalongan (Krapyak) yang setiap tahun selalu memecahkan rekor Muri, juga akan dilangsungkan festival balon udara.

Acara itu akan dilaksanakan di Stadion Hoegeng, Kota Pekalongan, hari ini. Kali ini, kue lopis raksasa yang dipajang diperkirakan akan kembali memecahkan rekor. Kue yang dimasak selama beberapa hari itu berdiameter 1,8 meter, berat 6 kuintal, dan tinggi 2 meter.

Warga Kelurahan Krapyak Lor, Kota Pekalongan, secara bergotong royong berupaya mewujudkan target untuk memecahkan rekor terdahulu. Ketua Panitia Lopis Raksasa, Hengky Afrianto, mengungkapkan untuk membuat kue lopis raksasa tersebut, dibutuhkan waktu 4 hari. Sebuah dandang raksasa dipersiapkan sebagai wadah memasak bahan baku seberat 6 kuintal yang terdiri atas beras ketan super dan kelapa.

Tidak hanya warga pantura, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)  juga menggelar Syawalan Keluarga Besar UNY. Mereka menghadirkan budayawan kondang Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) sebagai penceramah.

Rektor UNY, Sutrisna Wibawa, mengungkap sejarah paling populer mengenai asal-usul tradisi Syawalan atau halalbihalal. Menurutnya, tradisi itu dimulai Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I atau dikenal dengan Pangeran Sambernyawa, saat memimpin Surakarta.

Dia mengumpulkan para punggawa dan prajurit di balai istana untuk melakukan sungkem kepada Sang Raja dan Permaisuri setelah perayaan Idul Fitri. “Halalbihalal sendiri merupakan istilah bahasa Indonesia yang menggunakan kata berbahasa Arab. Di Arab, baik kata maupun tradisinya, tidak ada sama sekali. Ini betul-betul khas Indonesia.”  

Gubernur Yogyakarta, Sri Sultan HB X, dan Wakil Gubernur, KGPAA Paku Alam X, juga menggelar Syawalan dengan membuka Kantor Gubernur di Bangsal Kepatihan bagi masyarakat yang hendak bersilaturahim. Sekitar 6.000 orang rela antre untuk sekadar berjabat tangan. (Tim/N-3)

BERITA TERKAIT