06 June 2019, 00:10 WIB

Faktor Kesuburan Pria Ditentukan Sejak Berada dalam Kandungan


Anda Nurlaila | Humaniora

Ilustrasi
 Ilustrasi
Kesuburan Pria

STRES di awal masa kehamilan bukan hanya berdampak buruk pada tubuh calon ibu. Paparan stres pada janin anak laki-laki selama dalam kandungan kemungkinan berefek buruk pada kesuburan seumur hidup mereka.
 
Sebuah studi terbaru menemukan, pria yang ibunya terpapar stres pada 18 minggu pertama kehamilan berisiko mengalami penurunan jumlah sperma saat dewasa. Penelitian ini diterbitkan dalam jurnal kedokteran reproduksi Human Reproduction.
 
Dalam riset ditunjukkan bulan-bulan awal kehamilan merupakan masa perkembangan organ reproduksi pria yang paling rentan. Studi ini dilakukan terhadap 643 pria muda berusia 20 tahun. Hasilnya, mereka yang terpapar setidaknya satu peristiwa kehidupan penuh tekanan selama kehamilan dini  atau usia 0-18 minggu memiliki kualitas sperma lebih buruk dan konsentrasi testosteron lebih rendah daripada mereka yang tidak terpapar, atau mereka yang terpapar pada usia kehamilan yang lebih tua, antara 18-34 minggu.

Temuan ini berasal dari Raine Study Australia Barat, dengan studi multi-generasi terhadap hampir 3.000 wanita. Semua peserta studi berada pada usia kehamilan 18 minggu pada periode Mei 1989 dan November 1991.
 
Para ibu mengisi kuesioner di usia kehamilan 18 dan 34 minggu. Termasuk pertanyaan tentang tekanan selama kehamilan empat bulan sebelumnya. Peristiwa-peristiwa ini termasuk kematian kerabat dekat atau teman, perpisahan atau perceraian atau masalah perkawinan, masalah dengan anak-anak, kehilangan pekerjaan ibu atau pasangan, masalah keuangan, masalah kehamilan, pindah rumah dan lainnya.
 
Sebanyak 2868 anak, 1454 diantaranya anak laki-laki lahir dari 2.804 ibu. Studi ini merupakan yang pertama yang menyelidiki prospektif hubungan antara paparan peristiwa penuh tekanan di awal dan akhir kehamilan dengan fungsi reproduksi pada pria saat mencapai usia dewasa muda. Saat bayi laki-laki mencapai usia 20 tahun, 643 pria muda menjalani pemeriksaan ultrasonografi testis, sampel air mani dan darah.
 
Peneliti menemukan, 63 persen pria yang ibu mereka terpapar stres di awal kehamilan. Sementara lebih sedikit stres yang dirasakan di akhir kehamilan. Pria yang terpapar peristiwa kehidupan yang penuh stres pada awal kehamilan memiliki jumlah sperma yang lebih rendah, lebih sedikit sperma yang bisa berenang dengan baik dan konsentrasi testosteron yang lebih rendah daripada mereka yang tidak terpapar. Para juga menyesuaikan analisis dengan beberapa faktor seperti indeks massa tubuh ibu, status sosial ekonomi dan apakah ibu telah melahirkan sebelumnya atau tidak.
 
Penulis senior studi ini, Roger Hart, Profesor Kedokteran Reproduksi di University of Western Australia dan direktur medis Unit Kesuburan Australia Barat IVF mengatakan kepada Science Daily,  "Kami menemukan bahwa pria yang terpapar tiga atau lebih kehidupan yang penuh stres selama awal kehamilan mengalami rata-rata 36 persen penurunan jumlah sperma saat ejakulasi. Penurunan 12 persen motilitas sperma dan 11 persen penurunan kadar testosteron dibanding pria yang tidak terpapar pada peristiwa penuh tekanan pada periode ini".
 
Hubungan ini, menurut peneliti memberi wawasan penting tentang penurunan jumlah sperma, terlepas dari kerusakan genetik dan spermatogenik langsung yang sebagian besar tidak dapat dijelaskan.
 
Prof Hart mengatakan, paparan stres selama awal kehamilan tidak menyebabkan pria infertil. Namun ketika ditambahkan faktor-faktor lain, hal tersebut meningkatkan risiko infertilitas.
 
Pengaruh gaya hidup lain yang dominan termasuk kelebihan berat badan, obesitas sentral, merokok, konsumsi alkohol berlebihan. Beberapa gangguan kesehatan seperti tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, gula, atau kadar lemak dalam darah, varikokel dalam skrotum, atau kemungkinan terpapar bahan kimia sebelum atau setelah kelahiran atau saat dewasa juga memengaruhi risiko ketidaksuburan.  (Medcom/OL-9)

BERITA TERKAIT