04 June 2019, 06:20 WIB

Bentuk Masjid tidak Harus Seragam


mediaindonesia | Humaniora

MAJELIS Ulama Indonesia (MUI) meminta masyarakat untuk tidak mempertajam polemik tentang desain Masjid Al Safar yang dituduh sarat dengan simbol Illuminati. Masjid yang berada di rest area Km 88 Tol Cipularang-Padaleunyi arah Jakarta tersebut sah sebagai tempat menunaikan ibadah.

Wakil Ketua Umum MUI, Zainut Tauhid Sa'adi menyatakan, dalam Islam tidak ada aturan bentuk masjid harus seragam. Bentuk masjid sangat dipengaruhi budaya daerah atau negara tertentu.

"Hadis menyebutkan, 'Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan.' Seni arsitektur merupakan kreasi dan inovasi yang dapat memperkaya keindahan dan keelokan dalam Islam itu sendiri. Sepanjang seni tersebut tidak bertentangan dengan syariat Islam," ujar Zainut, kemarin, menanggapi polemik terkait dengan Masjid Al Safar yang didesain Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, itu.

Zainut pun mencontohkan Masjid Menara Kudus dan Masjid Agung Demak di Jawa Tengah. Arsitektur keduanya tidak bisa dilepaskan dari proses akulturasi budaya Islam dan Hindu. Hal itu merupakan bentuk kearifan lokal yang menjadi kekuatan dakwah para wali sanga di masa lalu.

Kemudian, Masjid New Peckham di London, Inggris, yang merupakan bekas Gereja Santo Markus. Di salah satu ruangannya terdapat lukisan kaca Yesus yang masih dipertahankan. "Gedung bersejarah itu dibangun pada 1880-an, dibeli oleh salah satu komunitas Turki di London sekitar 20 tahun lalu sebelum dirombak menjadi masjid."

Zainut menambahkan, masjid tidak identik dengan kubah dan menara. Bahkan, kalau ditilik dari sejarah, menara dan kubah bukan berasal dari Islam. Menara berasal dari kata manaroh yang artinya tempat menaruh api. Biasanya digunakan untuk peribadatan agama majusi penyembah api.

Kubah juga tidak identik dengan arsitektur Islam. Kubah dapat ditemukan dalam bangunan bersejarah seperti istana raja, bahkan gereja. (Bay/H-2)

BERITA TERKAIT