Pertanian Perkotaan Destinasi Wisata


Penulis: Mathias S. Brahmana Wartawan Media Indonesia - 03 June 2019, 06:00 WIB
MI
 MI
Mathias S. Brahmana Wartawan Media Indonesia

SALAH satu topik diskusi menarik dalam Pertemuan Tahunan Tingkat Tinggi Gubernur/Wali Kota Urban-20 (U20) di Tokyo, Jepang, pada 20 Mei 2019 lalu ialah membumikan pertanian perkotaan (urban farming).

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan hadir di sana menjadi salah satu pembicara. Mudah bagi Anies untuk memaparkan pertanian perkotaan karena memang sudah menerapkan di lingkungan Balai Kota DKI dengan berbagai tanaman meliputi selada, sawi, labu, kangkung, dan bayam.

Bercocok tanam di lingkungan rumah perkotaan sudah merupakan kebutuhan warga yang menjalani pola hidup sehat. Sayur-sayuran dan apotek hidup yang dipanen dari ruang-ruang sempit rumah akan lebih sehat lantaran menerapkan sistem penanaman organik tanpa pupuk kimia dan pestisida sintesis.
Beberapa permukiman dan perumahan sudah menyulap atap rumah mereka menjadi kebun, pagar rumah menjadi taman vertikal, dan hiasan pipa-pipa paralon berisi  tanaman hidroponik.

Pertanian perkotaan warga RW 10 Jalan Cempaka Timur, Kelurahan Cempaka Putih Timur, Jakarta Pusat, misalnya, memikat banyak pengunjung datang ke sana. Sandiaga Uno semasa menjabat Wakil Gubernur DKI pun sempat ikut memanen buah anggur bersama warga.

Kawasan RW 10 kini dikenal sebagai Gang Hijau. Sebuah penghargaan dari masyarakat yang mengakui keberhasilan warga setempat mengubah permukimannya menjadi asri dan produktif.

Selain anggur yang berjuntaian terlihat cabai dan sayur-sayuran yang bisa dikonsumsi setiap saat. Sekalipun kawasan itu cukup padat namun terasa lapang karena hijau mengitari sekeliling permukiman. Udara menjadi sehat dan pemandangan terasa segar.  
 

Pertanian perkotaan, selain memperindah suasana, juga dapat menyehatkan lingkungan karena tanaman menghasilkan oksigen. Kebijakan Gubernur DKI yang produktif dapat mendorong lahan-lahan kosong sepanjang jalan protokol untuk dihijaukan.  

Semula sudah digaungkan agar lahan tidur sepanjang kawasan Jalan Sudirman, Jakarta Selatan, hingga Jalan Thamrin, Jakarta Pusat, dimanfaatkan menjadi pertanian perkotaan. Dengan tanaman hijau sepanjang jalan akan terasa dimensi kota hidup yang sibuk namun teduh.

Ribuan lahan milik Pemprov DKI yang sudah lama terlelap sudah saatnya dibangunkan dengan menanami apotek hidup. Sekalipun masih ada yang berperkara namun tetap dapat diproduktifkan dengan perjanjian.

Bila Pemprov DKI kalah oleh putusan hukum, tanah  akan dikembalikan. Jika pihak pemenang bersedia menjual, Pemprov DKI akan membelinya agar tanaman yang sudah jadi tetap terpelihara baik.

Peta tanah milik Pemprov DKI di 267 kelurahan saatnya dibuka untuk digunakan bagi produksi makanan warga Jakarta. China memanfaatkan semua lahan yang ada untuk memenuhi kebutuhan makanan warganya yang mencapai 1,4 miliar.

Bukan hanya di negeri mereka, negara yang dipimpin Xi Jinping itu bahkan sangat bergairah membeli lahan pertanian hingga ke Eropa, Amerika Serikat, Australia, hingga Selandia Baru.

Asset Pemprov DKI lainnya yang sangat berharga untuk diproduktifkan menjadi kawasan wisata dengan hiasan tanaman hidup adalah lahan hasil reklamasi di Pantai Utara Jakarta.

Areal reklamasi mencapai 5.152 hektare atau 51.520.000 meter persegi, lebih luas dari Jakarta Pusat yang hanya 48.000.000 meter persegi. Areal reklamasi bisa dijadikan seperti Taman Versailles di Perancis, dengan hamparan tanaman hijau kanal besar sepanjang 1.670 meter.

Bisa juga dirancang menjadi ladang Bunga Lavender atau Taman Butchart (Kanada), Taman Bunga Batahari seperti di Italia, Taman Keukenhof di Belanda dengan aneka warna tulip. Setidaknya Taman Reklamasi bisa melengkapi keindahan Taman Bunga Nusantara sehingga Jakarta dapat masuk daftar destinasi wisata baru dunia.

Lahan reklamasi Pantai Utara Jakarta dapat menjadi milik negara/Pemprov DKI Jakarta karena pengembang hanya berhak atas bangunan. Merujuk statusnya sebagai hak pengelolaan lahan, Pemprov DKI bisa membuatnya menjadi areal wisata hijau.

Pertanian perkotaan bukanlah sebuah mimpi karena memang sudah dimulai sejak beberapa tahun lalu. Seperti RPTRA yang telah mengubah wajah Jakarta menjadi lebih manusiawi, pertanian perkotaan dapat menyulap Ibu Kota menjadi modern dan indah.

BERITA TERKAIT