02 June 2019, 06:20 WIB

Fathu Makkah


Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta | Renungan Ramadan

MI/Seno
 MI/Seno
Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta

PEREBUTAN kembali Kota Mekah (Fathu Makkah) oleh Nabi Muhammad SAW sarat pembelajaran. Revolusi besar tanpa setetes darah betulbetul terjadi. Itulah peristiwa Fathu Makkah ketika tekanan dan siksaan kaum Quraisy Mekah meningkat dan mereka me rencanakan mengeksekusi Nabi di tengah malam. Kediam an Nabi dipagar betis pasukan elite kafir Quraisy. Untung Nabi beserta Abu Bakar berhasil lolos.

Di dalam rumah persembunyian, Ali bin Abi Thalib mengecoh mereka dengan berbaring di tempat tidur Nabi dan menggunakan selimutnya. Mereka menyangka Nabi masih tertidur. Saat mereka akan mengeksekusinya, alangkah kagetnya bahwa yang ada di balik selimut bukan Nabi, melainkan Ali. Mereka memburu Nabi.

Untung mereka tidak sampai memasuki tempat persembunyian Nabi di Gua Tsaur karena mereka yakin tidak ada siapa-siapa di dalam gua karena sarang laba-laba yang menutupi gua masih utuh, ditambah burung-burung masih bertahan mengerami telur di mulut gua.

Akhirnya, keluarga Nabi dan umat Islam Mekah eksodus besar-besaran ke Yathrib yang belakangan namanya diganti menjadi Madinah oleh Nabi. Berbagai properti warisan istrinya, Khadijah, seperti rumah dan tanah ditinggalkan begitu saja di Mekah demi menyelamatkan diri dan misi ajaran besar.

Selama di Madinah, Nabi membangun kekuatan umat di samping menggalakkan syiar. Setelah merasa cukup kuat, Nabi mengatur strategi merebut Mekah.

 Nabi memilih penyerangan di malam hari Ramadan. Dia membagi tiga pasukannya sebagai taktik. Satu kelompok lewat bukit, satu kelompok lewat lembah, dan kelompok lain di jalur normal. Abi Sufyan, pemimpin kaum kafir Quraisy, tak menyangka pasukan Rasulullah berjumlah besar dan punya taktik canggih. Dia mengira pasukan Rasulullah hanya lewat jalan normal. Ternyata saat yang tepat ­pasukan bukit dan pasukan lembah berjumpa di perbatasan Mekah.

Kaum kafir Quraisy Mekah sangat ketakutan. Mereka menunggu diri mereka dieksekusi sebagaimana layaknya tradisi perang kabilah; yang kalah laki-lakinya dibunuh dan perempuannya dijadikan budak bersama anak-anaknya. Alangkah kagetnya mereka setelah Nabi meneriakkan, “Antum thulaqa! (kalian semua sudah bebas)! Siapa yang masuk ke pekarangan Kabah aman, masuk ke rumah Abi Sufyan aman, dan masuk ke dalam rumah dan mengunci rumah juga aman.”

Akhirnya, Abi Sufyan bersama pembesar Quraisy menyerah dan bersedia mengikuti petunjuk Nabi.

Selanjutnya, Nabi meminta kepada para pemimpin pasukannya­ untuk menyatakan, “Al-yaum yaum al-marhamah” (Hari ini hari kasih sayang).

Salah seorang sahabat Nabi berteriak, al-yaum yaum al malhamah (hari ini adalah hari pertumpahan darah). Penduduk Mekah kembali ketakutan lalu Abi Sufyan protes, kenapa menjadi hari pertumpahan darah padahal tadi diumumkan hari kasih sayang dan hari pengampunan.

Nabi menjawab, tidak begitu maksudnya. Sahabat itu cadel, tidak bisa menyebut huruf ra sehingga huruf ra diucapkan dengan la.

Maka jadinya al-yaum yaum al-marhamah (hari ini hari kasih sayang) diucapkan al-yaum yaum al-malhamah (hari ini hari pertumpahan darah).

Setelah itu, Nabi meminta sahabat tadi berhenti bicara dan mengikuti persepakatan. Penyelesaian Fathu Makkah sangat manusiawi dan menya lahi tradisi perang Arab.

Hari itu betul-betul tidak ada balas dendam. Revolusi tanpa setetes darah. Revolusi tanpa balas dendam. Revolusi dengan biaya murah, dan revolusi yang melahirkan keutuhan dan kedamaian monumental.

Itulah revolusi Nabi. Dunia tercengang menyaksikan kearifan Nabi Muhammad SAW. Rekonsiliasi yang dilakukan Nabi patut dicontoh siapa pun juga. Inilah revolusi tanpa setetes darah.

Semoga menjadi pelajaran penting bagi umat Islam, khususnya para generasi milenial muslim.

BERITA TERKAIT