01 June 2019, 06:50 WIB

Benih Tanaman Pangan Berbahaya Asal India Dimusnahkan


Farhan Dwitama | Megapolitan

Medcom.id/Farhan Dwitama
 Medcom.id/Farhan Dwitama
Pemusnahan Benih tanaman hortikultura impor, di Instalasi Karantina Hewan Balai Besar Karantina Pertanian (BBKP) Bandara Soekarno-Hatta

BADAN Karantina Pertanian (Baratan) Bandara Soekarno-Hatta memusnahkan benih tanaman hortikultura yang positif mengandung bakteri dan virus berbahaya asal India. Aneka holtikultura pangan yang dimusnahkan yakni berupa bunga Carnation dan tomat impor.
 
"Benih yang kami musnahkan dengan dibakar ini sebanyak 15 ribu batang benih bunga Carnation dan satu kuintal buah tomat, yang semuanya berasal India," kata Kepala Baratan Ali Jamil, di Instalasi Karantina Hewan Balai Besar Karantina Pertanian (BBKP) Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Jumat 31 Mei 2019.
 
Ia menjelaskan dua jenis tanaman hortikultura asal India itu masuk ke Indonesia secara legal. Sebab, terdapat surat kesehatan tumbuhan dari otoritas karantina negara asalnya. Namun, setelah dilakukan pemeriksaan ulang oleh Baratan, ditemukan virus dan bakteri pada komoditas pertanian tersebut.

"Pemeriksaan ulang yang dilakukan karantina pertanian ini adalah prosedur yang biasa dilakukan walaupun telah disertai jaminan dari negara asal," paparnya.
 
Hasil uji analisis laboratorium BBKP Bandara Soetta, bibit bunga Carnation asal India positif terinfeksi Carnation Mottle Virus (CarMV) atau organisme pengganggu tumbuhan karantina (OPTK) kategori A2 golongan 1. Sementara, tomat positif mengandung bakteri Pseudomonas syringae pv. syringae (PSS) OPTK kategori A1 golongan 1, yang harus dimusnahkan.
 
"Berdasarkan pemeriksaan kami virus dan bakteri yang ada pada jenis bunga Carnation dan tomat ini belum pernah kami temukan sebelumnya di Indonesia," terang dia.
 
Selain bunga Carnation dan tomat, pemusnahan juga dilakukan terhadap sejumlah bibit tanaman, buah-buahan, sayuran, daging segar, dan hasil olahan produk hewan seperti sosis. Barang-barang ini hasil penahanan di terminal Bandara Soetta sejak Maret hingga Mei 2019.(medcom/OL-9)
 

BERITA TERKAIT