29 May 2019, 19:55 WIB

Polisi belum Temukan Motif Penikam Massal


Denny Parsaulian Sinaga | Internasional

POLISI Jepang pada Rabu (29/5) menggeledah rumah pria di belakang amukan menikam di kota Kawasaki sehari sebelumnya. Peristiwa itu menewaskan dua orang, termasuk seorang anak.

Penyerang berusia 51 tahun itu, yang diidentifikasi oleh polisi sebagai Ryuichi Iwasaki, meninggal setelah menikam dirinya sendiri. Sementara motif serangan mengerikan itu masih belum jelas.

Pada Rabu pagi, polisi menggeledah rumahnya yang berada tidak jauh dari lokasi serangan pagi itu. Polisi mengambil materi yang tidak ditentukan, menurut NHK.

Media setempat mengatakan Iwasaki hidup dengan kerabatnya yang berusia 80-an, tetapi tidak memberikan rincian lebih lanjut. Pekerjaannya tidak diketahui.

Polisi tidak mengomentari penyelidikan dan menolak untuk memberikan rincian lebih lanjut tentang penyerang.

Amukan di kota selatan Tokyo pada Selasa pagi menewaskan dua orang yakni siswi 11 tahun Hanako Kuribayashi dan orang dewaza berusia 39 tahun yang diidentifikasi sebagai pejabat pemerintah Satoshi Oyama, seorang spesialis Myanmar.

Tujuh belas orang lagi, terutama anak-anak, terluka.

Iwasaki merayap diam-diam di belakang murid-murid Caritas Gakuen (sekolah) ketika mereka menunggu bus sekolah mereka. Saat itulah Iwasaki mulai menebas mereka secara acak dengan pisau di kedua tangan, sebelum dengan fatal menusuk dirinya sendiri di leher.

Media setempat mengutip sumber kepolisian Rabu bahwa serangan itu berlangsung selama kurang dari 20 detik dan terungkap bahwa dua pisau tambahan ditemukan di dalam ransel penyerang. Ransel itu ia tinggalkan di toko terdekat.

Memang ada beberapa detail lain tentang penyerang dan motifnya untuk penyerangan. Tetangga mengatakan kepada media lokal bahwa mereka hanya tahu sedikit tentang pria itu.

Seorang tetangga wanita mengatakan kepada kantor berita Kyodo bahwa Iwasaki telah mengucapkan selamat pagi padanya 40 menit sebelum melakukan serangan. Wanita itu mengatakan bahwa itu suatu interaksi yang dia gambarkan sebagai sesuatu yang tidak biasa.


Baca juga: Sebelum Beraksi, Pelaku Penikaman Jepang Sapa Tetangga


Kantor berita mengatakan Iwasaki diyakini telah pergi ke sekolah-sekolah lokal, tetapi tidak ada konfirmasi.

Seorang pria yang pernah mengajar Iwasaki di sekolah menengah pertama, ketika tersangka berusia sekitar 14 tahun, mengatakan kepada NHK bahwa dia bukan tipe anak yang menonjol.

"Dia dan teman-temannya akan saling mendorong, tetapi dia tidak menyerang siapa pun dengan keras," kata guru itu.

Setelah serangan itu, pemerintah Jepang mengatakan akan meninjau langkah-langkah untuk memastikan keselamatan anak-anak yang bepergian ke dan dari sekolah.

Jepang merupakan salah satu negara maju dengan tingkat kejahatan kekerasan paling rendah di negara maju. Bahkan anak-anak yang masih kecil dengan aman dapat menggunakan transportasi umum sendirian untuk pergi ke dan pulang dari sekolah.

"Seluruh pemerintah akan bekerja bersama-sama untuk memastikan keselamatan anak-anak," kata juru bicara pemerintah Yoshihide Suga kepada wartawan setelah pertemuan menteri tentang masalah tersebut.

Serangan itu mengejutkan Jepang, di mana kejahatan dengan kekerasan jarang terjadi, sebagian karena peraturan ketat tentang kepemilikan senjata.

Pada Rabu pagi, orang-orang masih mendatangi lokasi serangan untuk menaruh bunga dan penghormatan lainnya kepada mereka yang terbunuh.

Orang-orang yang berkabung datang membawa minuman atau makanan.

Sekolah Caritas akan ditutup untuk sisa minggu ini, dan para pejabat mengatakan pada Selasa (28/5) bahwa mereka akan menawarkan dukungan kesehatan mental kepada para siswa setelah serangan itu. (OL-1)

 

BERITA TERKAIT