27 May 2019, 07:41 WIB

Berjihadlah Melawan Penyimpangan


Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta Nasaruddin Umar | Renungan Ramadan

MI/SENO
 MI/SENO
Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta Nasaruddin Umar

SESUNGGUHNYA para nabi diutus untuk memanusiakan manusia. Salah satu penghambat terwujudnya sikap dan sifat kemanusiaan ialah terjadinya penyimpangan di dalam masyarakat, baik penyimpangan moral, akidah, hukum, maupun perilaku.

Hampir semua nabi turun di dalam masyarakat yang berantakan. Mungkin karena itulah Allah SWT menurunkan nabi di dalam masyarakat tersebut. Salah satu di antaranya ialah masyarakat yang dihadapi Nabi Syu’aib.

Diabadikan di dalam Alquran bahwa Nabi Syu’aib diutus di dalam sebuah masyarakat yang korup sebagaimana diabadikan di dalam Alquran: “Dan (Kami telah mengutus) ke­­pada penduduk Madyan sau­­dara mereka, Syu’aib.

Ia ber­kata: ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sem­purnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah ka­mu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan tim­bangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demi­kian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman’.” (QS al-A’raf/7:85).

Sepanjang hidupnya Nabi Syu’aib bergelut dengan kaum koruptor pada zamannya--ba­­nyak dikutip di dalam buku-buku dan oleh pemimpin dunia Islam. Ia menyerukan be­­lajar bagaimana keuletan menghadapi para kaumnya yang gemar menjalankan praktik korupsi.

Jika ia membeli maka ia menggunakan takaran besar dan pada saat menjualnya, ia menggunakan takaran lebih kecil. Dari sudut inilah umat Nabi Syu’aib dikecam dan di­­siksa Allah SWT dengan sik­saan yang pedih. Tentu saja Nabi Syu’aib tidak tinggal diam. Ia berusaha melakukan berbagai cara untuk membas­mi penyakit korupsi yang melanda umatnya.

Nabi Syu’aib turun tangan langsung ke medan korupsi walaupun harus menghadapi segala macam risiko dan tantangan. Hasilnya cukup berarti tetapi Nabi Syu’aib masih membutuhkan waktu dan kerja keras sangat panjang guna membersihkan seluruh akar tradisi korupsi di dalam masyarakatnya.

Dalam waktu bersamaan, kaum kafir tetap menantang Nabi Syu’aib untuk meninggalkan Madyan, kota tempat Nabi Syu’aib mengembangkan ajaran kenabiannya, sebagaimana diabadikan di dalam Alquran, “Pemuka-pemuka dari kaum Syu’aib yang menyombongkan diri berkata, “Sesungguhnya kami akan mengusir kamu Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, kecuali kamu kembali kepada agama kami.” Lalu Syu’aib berkata, “Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya?” Pemuka-pemuka kaum Syu’aib yang kafir berkata (kepada sesamanya), “Sesungguhnya jika kamu mengikuti Syu’aib, tentu kamu jika berbuat demikian (menjadi) orang-orang yang merugi,” (QS Al A’raf, ayat 88-90).

Praktik korupsi yang sedemikian kronis di dalam umat Nabi Syu’aib seakan-akan menafikan peran dan usaha Nabi Syu’aib untuk mengatasi persoalan ini. Kedahsyatan akibat korupsi berjemaah 2.000, kemudian mereka ditimpa gempa, jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka, (yaitu) orang-orang yang mendustakan Syu’aib seolah-olah mereka belum pernah berdiam di kota itu; orang-orang yang mendustakan Syu’aib, mereka itulah orang-orang yang merugi, (QS Al A’raf, ayat 91-92).

Pengalaman Nabi Syu’aib mengingatkan kita sebagai umat yang lahir di akhir zaman, sudah saatnya kita melakukan pendekatan ekstra tegas terhadap para pelaku korupsi karena dampak buruk yang diakibatkannya ternyata bukan hanya yang bersangkutan bersama para keluarganya, melainkan juga bagi umat dan warga bangsa lain yang tidak berdosa. Lihatlah bukti awan gelap korusi di langit Madyan tiba-tiba mengamuk dan meluluhlantakkan bukan hanya sang pelaku kejahatan, melainkan juga orang-orang yang baik ikut terkena gempa yang melanda masyarakat tersebut.

Jika bala Tuhan muncul sebagai jawaban terhadap perilaku anak manusia jauh melenceng dari ketentuan ajaran dan nilai-nilai kepatutan di dalam masyarakat, tunggulah azab Tuhan akan datang.

Jika azab Tuhan datang, betul-betul yang terimbas bukan hanya keluarga bermasalah (koruptor), melainkan juga orang-orang lain yang tak berdosa dan mungkin juga lingkungan alam ikut rusak sebagaimana dicontohkan umat Bani Israil yang keras kepala itu. Masalah korupsi di mana pun adanya merupakan lahan jihad yang paling mulia. Mari kita memberantas korupsi dan menjauhi fitnah!

 

 

BERITA TERKAIT