27 May 2019, 02:40 WIB

Menemukan kembali Petunjuk Hidup


Dhika Kusuma Winata | Ramadan

Ilustrasi
 Ilustrasi
Malam lailatulkadar

BULAN Ramadan mengandung dua peristiwa penting bagi umat Islam, yakni turunnya Alquran dan malam lailatulkadar. Meski peristiwa turunnya Alquran terjadi 15 abad lalu, kaum muslim di berbagai tempat hingga hari ini masih memperingatinya.

“Muslim di dunia memperingati Nuzululquran dan mencari lailatulkadar karena ingin kembali menemukan guidance atau petunjuk hidup yang selama ini mungkin terabaikan. Bulan suci Ramadan ini ialah momen tepat untuk kita menemukan kembali petunjuk hidup yang kerap diabaikan, yakni Alquran dan sunah Rasul,” kata Dr Zahruddin Sulthani dalam khotbahnya di Masjid Agung Al Azhar, Jakarta, Jumat (24/5).

Ia menuturkan, terdapat empat fakta mendasar yang mendorong manusia harus mencari petunjuk dalam hidupnya. Pertama, kondisi manusia yang dilahirkan lemah dan tidak berdaya. Jika dibandingkan dengan hewan, kondisi lahir manusia lebih rentan.

Bahkan, jika dibandingkan dengan anak ayam yang baru lahir, yang bisa berdiri dan makan sendiri tanpa dibantu induknya, kondisi manusia jelas amat lemah. Oleh karena itu, Allah menetapkan dalam Surah An Nisa ayat 28, “Allah hendak memberikan keringanan kepadamu dan manusia
dijadikan bersifat lemah.”

“Namun ketika manusia dilahirkan, dia tidak bisa apa pun selain hanya memanggil kedua orangtuanya. Hanya dengan kebesaran dan keagungan Allah, sang bayi bisa lahir di dunia ini,” imbuh Zahruddin.

Kehidupan yang penuh cobaan dan godaan, ujarnya, harus dibimbing melalui petunjuk dalam Alquran dan sunah Rasul. Sebagai muslim, diperintahkan untuk mendirikan salat, melakukan puasa, beramal, dan lain sebagainya. Petunjuk pertama bayi yang baru lahir ialah ketika orangtua melafalkan lantunan azan.

“Rintangan dan cobaan di dunia ini banyak sekali, tetapi Allah yang akan menolong. Anak yang baru lahir diazankan
untuk diberi petunjuk. Bayi tersebut didengungkan untuk memulai hidup dengan syahadat dan mengakhiri hidup kelak juga dengan syahadat,” kata Zahruddin.

Alasan kedua manusia membutuhkan petunjuk hidup ialah fakta bahwa tidak ada yang bisa luput dari kematian. Raja, presiden, gubernur, hingga rakyat jelata tidak terhindarkan dari kematian. Seperti firman Allah dalam Surah Al Jumuah ayat 8, “Maknanya, suatu saat akan ada waktunya ajal tiba. Ketika dikuburkan, datang malaikat Munkar dan Nakir untuk mencatat amalan kita. Harta benda yang kita kumpulkan di dunia tidak bisa menolong kita di hari kemudian. Amal dan
ibadah kita yang bisa menolong,” ucapnya.

Ada balasannya

Fakta ketiga, lanjutnya, bahwa semua amal yang dilakukan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Dalam Surah Al Zalzalah ayat 7-8, Allah berfirman, “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan sebesar zarah pun, niscaya dia akan melihat balasannya pula.”

Kemudian, fakta keempat, Zahruddin mengatakan setiap manusia pasti menginginkan hidupnya bahagia dan selamat dunia akhirat. Empat fakta itulah yang kemudian menjadikan manusia amat membutuhkan petunjuk hidup.

Oleh karena itu, Allah berfirman dalam Surah An Nisa ayat 174, “Wahai umat manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian bukti-bukti nyata yang membenarkan kerasulan Muhammad. Melalui ucapannya, Kami menurunkan Alquran yang jelas bagai cahaya kepada kalian, yang menerangi dan menunjukkan kalian ke jalan keselamatan.”

Jika kita telah menemukan kembali petunjuk tersebut, jelas Zahruddin, tugas berikutnya sebagai orang beriman ialah melaksanakannya dengan totalitas.

“Totalitas mencintai nabi harus dilakukan dan apa yang dituntunkan nabi harus dilakukan,” tandasnya. (H-1)

BERITA TERKAIT