Suhendra Siap Bantu Pemerintah Sediakan Ahli Hukum


Penulis: Mediaindonesia.com - 26 May 2019, 10:25 WIB
Ist
 Ist
Pendiri Hadiekuntono’s Institute (Research, Intelligent, Spiritual) Suhendra Hadikuntono 

PENDIRI Hadiekuntono’s Institute (Research, Intelligent, Spiritual) Suhendra Hadikuntono mensinyalir ada agenda terselubung dari Medical Emergency Rescue Committe (MER-C) yang hendak membawa kasus tewasnya sejumlah demonstran dalam aksi 21-22 Mei 2019 di Jakarta ke Mahkamah Internasional di Den Haag, Belanda.

Sebab itu, ia mengingatkan pemerintah agar ekstra-hati-hati dalam menyikapinya. Ia pun siap membantu pemerintah menyiapkan ahli hukum internasional.

"Anda kan tahu, Hadiekuntono Institute itu rumahnya pakar hukum. Bahkan, beberapa mantan Hakim Agung juga menghubungi saya untuk membantu. Jujur saja, kualitas beberapa ahli hukum internasional klta masih low grade, sehingga kita terpaksa beberapa kali kalah di Mahkamah Internasional. Contoh, hilangnya Pulau Sipadan dan Ligitan dari Indonesia. Sebab itu,pemerintah harus ekstra-hati-hati, jangan-jangan  MER-C punya agenda terselubung. Bila pemerintah memerlukan, kami siap bantu dengan ahli hukum internasional yang terbaik, silakan dicek track record mereka," ujarnya di Jakarta, Minggu (26/5).

Hal itu dilontarkan Suhendra menanggapi komentar  Dewan Penasihat MER-C Joserizal Jurnalis yang mengklaim menemukan peluru tajam terkait aksi 21-22 Mei di Jakarta. Peluru tajam itu disebut ditembakkan ke korban. Joserizal mengaku akan membawa kasus ini ke Mahkamah Internasional di bawah Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).

Di pihak lain, pemerintah dan Polri sejak awal menyatakan aparat keamanannya tidak dibekali peluru tajam, tetapi hanya peluru karet, pentungan, dan gas air mata untuk menghalau dan membubarkan para demonstran pendukung pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Massa berunjuk rasa menolak hasil rekapitulasi Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang memenangkan capres petahana Presiden Joko Widodo yang berpasangan dengan KH Maruf Amin dalam Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 2019 dengan selisih 16,9 juta suara.

Melihat rekam jejak MER-C, Suhendra menilai tidak mengherankan bila mereka ingin membawa perkara ini ke MI. Pasalnya, mereka percaya diri karena sudah pernah melakukan hal yang sama dan menang saat 'menggugat' Israel pada tragedi penyerangan Kapal Max Marvara yang membawa bantuan kemanusian ke Palestina. MER-C menang, Israel kalah dan menerima sanksi internasional.

 

Baca juga: Polisi Selidiki Dugaan Kekerasan Demo 22 Mei

 

"Kita harus waspada, jangan-jangan MER-C ini berkamuflase dan hendak mengail di air keruh. Jika Israel saja kalah, bagaimana Indonesia?" tanyanya.

Mengenai alasan dia terpanggil membantu pemerintah, Suhendra mengaku semua itu demi kecintaannya kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Right or wrong is my country,” cetusnya sambil mengaku khawatir bila kasus ini dibawa ke MI maka akan ada intervensi dari PBB maupun negara-negara lain yang selama ini kurang bersahabat dengan Indonesia.

Niat Suhendra membantu pemerintahan Presiden Jokowi menghadapi MER-C ini bukan pepesan kosong belaka. Sebab, ia telah membuktikan dedikasinya kepada negara melalui perannya sebagai Ketua Komite Perubahan Sepak Bola Nasional (KPSN) yang melakukan aksi bersih-bersihdi tubuh Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia.

Catatan media, aksi bersih-bersih PSSI oleh KPSN tersebut berimplikasi pada mundurnya Edy Rahmayadi dari jabatan Ketua Umum PSSI serta penetapan 17 tersangka perkara match fixing, hal yang belum pernah terjadi dalam sejarah sepak bola di seluruh dunia. (RO/OL-9)

BERITA TERKAIT