26 May 2019, 09:45 WIB

Gara-gara tidak Kenal


Riko Alfonso Asisten Redaktur Bahasa Media Indonesia | Weekend

Dok. Pribasi
 Dok. Pribasi
Riko Alfonso Asisten Redaktur Bahasa Media Indonesia

TAK kenal maka tak sayang. Pastilah kita sudah sering mendengar peribahasa ini untuk menggambarkan bahwa kita tidak bisa mengetahui sesuatu atau seseorang jika belum mengenalnya secara intensif dan dekat. Kedekatan terhadap sesuatu memang cukup berpengaruh. Namun, ada kalanya itu tidak pula menjamin kita menjadi lebih mengenalnya.

Banyak kasus yang berhubungan dengan kedekatan, malah pada kenyataannya tidak saling mengenal satu sama lain, misalnya hubungan antara orangtua dan anak, suami dan istri, atau bahkan antara seorang hamba dengan Tuhannya. Jadi bukan elemen kedekatan saja yang bisa membuat seseorang itu bisa mengenal sesuatu, melainkan juga harus ada  faktor perhatian pula.

Dalam berbahasa pun banyak dari kita yang tak menyadari seberapa kenal kita terhadap bahasa sendiri walaupun sudah bergaul dengannya setiap saat. Akibatnya, kita jadi sering salah kaprah dalam mengartikan beberapa istilah. Tak sulit untuk melihat indikasi atau mencari contohnya di sekitar kita.

Contoh pertama, misalnya. Sering kita jumpai tulisan 'sampah nonorganik' di tempat sampah. Namun, jika kita ke puskesmas atau ke rumah sakit, di tempat sampahnya tertulis 'sampah anorganik'. Sebagian kita menganggap istilah anorganik sama artinya dengan nonorganik. Benarkah demikian?

Di lain hari, saat memberi pelatihan kepada wartawan, saya bertanya bagaimana penulisan kata trans- itu, apakah disambung atau tidak? Banyak yang menjawab disambung, ada pula yang mengatakan dipisah. Lalu ketika ditanya, terlepas digabung atau tidak, apakah trans yang digabung atau tidak itu memiliki arti yang sama, sebagian besar menjawab 'ya'. Benarkah demikian?

Masih dalam dunia penulisan. Saat pesta pemilu berlangsung, banyak berita yang menuliskan tentang klaim kemenangan pasangan calon (paslon) tertentu.  Dalam suatu berita tertulis, 'Prabowo klaim bisa memenangkan Pilpres 2019'. Di berita lain tertulis, 'Ridwan Kamil siap memenangi Jokowi di Pilpres 2019'.  Banyak dari wartawan kita yang menganggap kata memenangi dan memenangkan memiliki arti yang sama. Apakah demikian?

Kata anorganik dan nonorganik ternyata berbeda makna. Dalam Kamus Besar Bahasa Idonesia Edisi Keempat, disebutkan anorganik adalah 'benda tak hidup', 'elemen yang meliputi air, gas, asam, mineral, kecuali karbon'. Adapun nonorganik berarti 'tanpa senjata'. Jadi dalam hal sampah, yang benar maknanya ialah 'sampah anorganik'.

Dalam hal masalah kata trans- yang terikat dan yang tidak, ternyata juga memiliki arti yang berbeda. Trans- sebagai kata terikat, bermakna 'melintang, melintas, melalui'. Adapun trans yang tidak terikat  berarti 'keadaan tidak sadar'. Jadi jika yang dimaksud ialah mengenai jalur atau perlintasan, yang dipakai tentu trans- yang terikat. Misalnya, trans-Sumatra, trans-Jawa, dll.

Kata memenangi dan memenangkan pun bermakna tak sama. Kata memenangi berarti 'mengalahkan' atau 'menang dalam suatu perkara',  sedangkan kata memenangkan berarti 'menganggap (memutuskan) satu pihak menang; memihak kepada'. Oleh karena itu, kalimat yang seharusnya ditulis ialah 'Prabowo klaim bisa memenangi Pilpres 2019' dan 'Ridwan Kamil siap memenangkan Jokowi di Pilpres 2019'.

Dari tiga kasus bahasa ini kiranya kita dapat menyadari bahwa kita harus mengenal bahasa secara intensif agar muncul perhatian dan rasa cinta kepada bahasa kita sendiri.

 

BERITA TERKAIT