26 May 2019, 09:20 WIB

Zumba untuk Pria


Abdillah Marzuqi | Weekend

MI/ADAM DWI
 MI/ADAM DWI
Sulis Sugianto instruktur zumba

HANYA suara musik berdetak yang ada dalam ruangan itu. Beberapa baris perempuan dengan segera mengikuti gerakan sosok yang berada di depan. Gerakan yang mereka lakukan memang tak berbeda dengan lazimnya zumba. Hanya, instruktur yang berlaga di depan mereka ialah seorang laki-laki.

Instruktur itu hanya memandu dengan gerakan tangannya. Tanpa kata, cukup dengan isyarat jemari, sembari terus bergerak. Gerakan lincah dipadu dengan gaya lentur sekaligus tegas.

Kali itu, memang kelas zumba. Bedanya, siapa pun boleh ikut. Biasanya zumba dikenal sebagai latihan kebugaran identik perempuan dengan gerakan-gerakan seksi. Namun ternyata zumba tidak terbatas pada kalangan perempuan, laki-laki pun diperbolehkan, justru disarankan. Sore itu, peserta kelas zumba juga ada yang laki-laki. Zumba for men, begitu sebutan yang digunakan.

Banyak manfaat yang didapat dari zumba, seperti membuat tubuh bugar, menurunkan berat badan, mengencangkan bentuk tubuh, menguatkan otot, menyehatkan jantung, mengatasi stres atau depresi. Manfaat dari zumba for men juga tidak ada bedanya dengan zumba pada umumnya. Yang terpenting, bersenang-senang dengan musik dan gerak.

"Sebenarnya enggak ada bedanya, semua manfaatnya hampir sama. Tapi rata-rata kalau buat cowok sih jatuhnya happy dan fun saja," terang instruktur zumba, Sulis Sugianto, kepada Media Indonesia, di Jakarta.

Untuk laki-laki justru ada manfaat lain yang didapat, yakni fleksibilitas tubuh. Sulis menilai, tren olahraga pria saat ini lebih banyak pada pembentukan tubuh kekar. Namun, tubuh seperti itu kurang unggul dalam fleksibilitas.

"Terus kayak buat semacam fleksibilitas. Biasanya kalau orang senang olahraga cuma fitness saja, badannya kaku, untuk nengok saja susah. Itu biar fleksibel saja. Jadi, kalau melakukan kegiatan sehari-hari enggak kesusahan gitu," terang Sulis.

 

Tidak harus sama

Ia menambahkan, dalam zumba, gerakan peserta tidak harus sama persis dengan gerakan instrukturnya. Yang terpenting ialah kenyamanan dan kesesuaian dengan karakter gerak tiap-tiap peserta.

"Kalau di zumba itu bebas sesuka hatinya, senyamannya, sesuai dengan style (gaya) masing-masing. Enggak mungkin yang cowok melambai kayak perempuan gerakannya. Untuk cowok semampunya saja, sesukanya saja. Tidak dituntut untuk plek (persis) sama gerakan instrukturnya," tambah Sulis.

Peserta laki-laki pun demikian. Mereka tidak harus persis gerakan zumba yang identik dengan melambai. Tidak harus lentur dan gemulai jika gerakan itu memang dirasa nyaman.

"Melambai itu, kalau perempuan itu seolah-olah lentur banget kayak gerakan perempuan banget. Laki-laki yang benar-benar itu (maskulin) mesti jijik, apa sih gerakannya kayak perempuan banget. Padahal, kalau di zumba itu boleh dilakukan semampunya saja," tandasnya.

Gerakan pinggul misalnya. Gerakan itu boleh dibilang identik dengan keseksian. Peserta laki-laki boleh tidak menggerakkan pinggulnya. Yang penting mereka terus bergerak dengan nyaman.

"Contoh pakai pinggul, enggak pakai pinggul enggak apa apa. Yang penting enjoy, fun saja. Poin utama di situ," tegasnya.

Bahkan, Sulis menambahkan bahwa zumba diperuntukkan untuk semua kalangan, bukan kalangan tertentu. Tidak harus seperti perempuan untuk bisa bergoyang zumba, tidak pula harus bisa menari.

"Perempuan saja atau gerakan yang seksi-seksi, itu enggak. Jadi, zumba itu buat semua orang. Orang sakit, orang tua pun bisa melakukan zumba. Contoh enggak bisa gerak (berdiri) pun, bisa sambil duduk. Cuma dengar musik sama gerak tangan doang, it's ok. Zumba itu begitu," tegas laki-laki yang mulai menekuni zumba sejak 2014.

Di kelas itu, selama lebih dari 50 menit, lagu Zin menemani setiap peserta bergerak. Mereka melakukan gerakan dari merengue, salsa, reggaeton, dan cumbia. Salah satu peserta laki-laki mengaku mendapat banyak manfaat dari zumba, salah satunya badan yang terasa lebih bugar.

"Lebih enak saja badannya. Kalau dulu gerak dikit pasti capek, ngos-ngosan. Tapi karena sering ikut zumba jadi lebih enak," terang Jati Tato Verplak.

Sama seperti Sulis, Jati mengaku sempat tidak percaya diri dan takut untuk mulai ikut zumba. Namun ternyata, ketakutannya tidak terbukti.

"Sebenarnya enggak ada sih, cuma aku sendiri yang insecure (tidak nyaman). Kayak mikir masak sih cowok ikutan," ujarnya

Kini, tiga kali dalam seminggu ia ikut kelas zumba. Ia merasakan perubahan pada ketahanan tubuhnya. Pertama kali ikut zumba, ia hanya bisa bertahan selama 6 menit bergoyang zumba. Kini, sampai akhir kelas pun Jati masih sanggup mengikuti.

"Kalau dulu pertama ikut zumba, habis lagu pertama langsung ngos-ngosan banget. Kalau sekarang bisa tahan sampai lagu terakhir," ucapnya.

Jati tidak bosan dengan zumba. Ia benar-benar menikmati setiap alunan musik dan kesesuaian gerak tubuh. Hal itu membuatnya membuat suasana hati menjadi senang.

"Bosen sih enggak karena jatuhnya have fun saja. Karena ada lagunya, jadi ikutin lagunya aja. Kebawa suasana jadi enak," pungkasnya. (M-1)

BERITA TERKAIT