Alumni Untar Diminta Jaga Kebinekaan dan Toleransi


Penulis: Syarief Oebaidillah - 25 May 2019, 20:15 WIB
Ist
 Ist
 Rektor Untar, Prof Agustinus Purna Irawan dalam Dies Natalis ke-60 Universitas Tarumanegara (Untar)

SEJAK berdiri 1 Oktober 1959, Universitas Tarumanagara (Untar) kini memasuki usia ulang tahun atau Dies Natalis ke-60. Diperkirakan, jumlah alumni Untar telah mencapai 100 ribu orang yang tersebar di seluruh Tanah Air hingga luar negeri dengan pekerjaan di berbagai bidang.

Dalam rangka memperingati hari jadi perguruan tinggi tersebut, Rektor Untar, Prof Agustinus Purna Irawan, menekankan kiprah alumni hendaknya tetap berpijak dalam menjaga kebinekaan dan toleransi.

"Para wisudawan dan alumni Untar di mana pun berada kami meminta untuk mempertahankan nilai-nilai kebinekaan dan toleransi, yang telah terjalin baik di kampus kita selama ini, serta di luar kampus di mana kiprah para alumni berada," kata Agustinus dalam sambutan wisuda di Jakarta Convention Center (JCC),Sabtu (25/5).

Menurut Agustinus, ribuan mahasiswa Untar amat beragam yang berasal dari berbagai daerah sehingga nilai kebinekaan sesungguhnya sudah terbiasa.

"Untar bisa disebut sebagai miniatur Indonesia atau Indonesia dan kita telah terbiasa dengan nilai-nilai menjaga keragaman dan solidaritas satu sama lain," tegasnya

Dikatakan, Untar sebagai salah satu kampus tertua dan terbaik di Indonesia tahun ini memasuki usia ke-60 dengan tema Dies Natalis Untar untuk Indonesia yang diimplementasikan pada tema wisuda ke-73 yaitu 'Untar untuk Indonesia, Pendidikan Berkualitas dan Berbudaya'.

Dalam kesempatan sama, tampil menyampaikan orasi, alumnus Untar, Isyak Meirobie, yang kini menjadi Wakil Bupati Belitung periode 2018-2023. Dia mengaku tertarik menempuh kuliah di Untar karena memiliki nilai-nilai keberagaman dan toleransi kampus ini.

"Memang benar apa yang disampaikan Pak Rektor. Untar merupakan miniaturnya indoneisa. Hal ini yang menjadi karya tulis saya ketika nyaris berhenti kuliah di kampus ini karena kekurangan biaya. Sehingga saya mendapat beasiswa dan lulus dari Untar," ujarnya.


Baca juga: Polycrol Bareng Sonora Berbagi Takjil di Delapan Kota


Isyak, yang juga Ketua DPD NasDem Belitung, mengutarakan, ia menulis tentang pembaruan mahasiwa di Untar sangat berbaur. Hemat dia, ketika Indonesia harus mencontoh, maka contohlah Untar yang menjadi respresentasi keberagaman.

Isyak menempuh pendidikan pada 1996 hingga 2001 di Fakultas Seni Rupa dan Desain. Sebagai orang asli Belitung yang mayoritas bersuku Melayu sementara ia sendiri keturunan Tionghoa, Isyak mengaku sebagai orang Melayu ideologis yakni mencintai dan menjaga tradisi serta kearifan lokal adat Melayu.

"Orang boleh bilang saya bermata sipit tapi saya mencintai Melayu dan menjaga kearifan dan adat Melayu," cetusnya.

Dengan rendah hati, Isyak mengaku sebagai orang yang berasal dari keluarga miskin dan bertekad kuliah di Untar karena impiannya kuliah di Untar hingga berhasil.

Kini di daerahnya ia berusaha menggenjot SDM Belitung dengan melibatkan kalangan pendidikan termasuk kampus Untar dan kampus lain dalam mencetak SDM berkualitas guna memajukan Belitung dalam bidang vokasi, pariwisata, dan lainnya. (OL-9)

 

BERITA TERKAIT