25 May 2019, 14:00 WIB

Pendidikan Gizi tidak Bisa Dipisahkan dalam Penanganan Tengkes


Indriyani Astuti | Humaniora

Ist
 Ist
Manajer Penelitian Pusat Studi Regional Pangan dan Gizi Asia Tenggara (Seameo Recfon), Grace Wangge (kanan)

PENDIDIKAN gizi menjadi hal penting dalam menanggulangi permasalahan gizi, salah satunya tengkes (stunting).Tengkes merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis yang terjadi saat bayi dalam kandungan hingga usia 2 tahun, sehingga tubuhnya lebih pendek dari teman sebayanya.

Manajer Penelitian Pusat Studi Regional Pangan dan Gizi Asia Tenggara (Seameo Recfon), Grace Wangge, menyampaikan, tengkes berpengaruh pada kecerdasan seorang anak.

"Anak-anak stunting akan mempunyai daya saing yang lebih rendah jika dibandingkan dengan sumber daya manusia (SDM) karena rendahnya fungsi kognitif mereka," ujar Grace dalam diskusi mengenai 'Pendidikan Gizi dan Generasi Emas Indonesia 2045' di Jakarta, Jumat (24/5).

Ia menjelaskan, angka tengkes di Indonesia cukup tinggi yaitu 30,8% berdasarkan riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2018 atau satu dari tiga anak Indonesia mengalami tengkes. Angka ini masih di atas angka tengkes secara global berkisar 21,9%.

Dijelaskan Grace, selain asupan makanan yang tidak memadai, tengkes diakibatkan oleh penyakit infeksi ataupun kesalahan pemberian makanan yang berkaitan dengan pengasuhan.

Grace mencontohkan, anak tengkes tidak hanya ada di perdesaan atau wilayah miskin, tetapi juga ditemukan pada keluarga dengan sosial ekonomi baik. Itu menandakan belum semua lapisan masyarakat paham edukasi mengenai gizi.

Peneliti senior Seameo Recfon, Umi Fahmida, menambahkan bahwa masih kurangnya pemahaman masyarakat akan pentingnya makanan bergizi terlihat dari tren pengeluaran keluarga Indonesia.

Dari hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) terlihat, belanja rokok di Indonesia menjadi pengeluaran terbesar ketiga dalam rumah tangga (12,4 % dari pengeluaran rumah tangga). Itu setara dengan jumlah uang yang dikeluarkan untuk membeli sayur-mayur (8,1%)  serta telur dan susu (4,3 %).

"Bayangkan, kalau yang 12, 4 % itu disisihkan, akan sangat berkontribusi untuk keragaman pangan yang bermanfaat bagi peningkatan gizi anak. Uang  itu bisa dibelikan sesuatu yang berguna, mungkin dibelikan telur, ikan, sayur, dan buah," tegasnya.


Baca juga: Kemenkes Bagikan 20 Juta Kelambu Berinsektisida


Selain itu, Umi menambahkan masyarakat Indonesia kurang mengonsumsi protein hewani seperti daging, ikan dan telur. Hal itu telihat dari hasil studi Seameo Recfon di Asia, konsumsi protein hewani pada kelompok balita 6-8 bulan di Indonesia hanya dua porsi dalam satu minggu, sementara negara lain seperti Kamboja, Laos, dan Vietnam lebih dari 20 porsi. Begitu juga dengan konsumsi sayur dan buah.

Ia menyebut edukasi mengenai gizi bisa digalakkan di keluarga melalui pengasuhan agar ibu paham mengenai sumber pangan dan cara mengolahnya, lalu penanaman pangan lokal padat gizi, dan penguatan peran pendidikan anak usia dini (PAUD).

Umi mencontohkan Vietnam menjadi negara yang berhasil menurunkan angka tengkes melalui penguatan gizi spesifik dengan mengonsumsi sumber pangan yang ada di sekitar.

"Vietnam menerapkan 3 K yaitu kebun, kolam dan kandang dalam mengatasi ketengkesan. Karena itu, panduan gizi seimbang berbasis pangan lokal sangat penting. Misalnya kalau daging mahal, bisa diganti dengan hati ayam yang sama-sama mengandung zat besi tinggi," terang Umi.

Penanggulangan tengkes, ujar Umi, dilakukan dengan intervensi gizi spesifik dan sensitif. Intervensi gizi spesifik yakni berkaitan dengan kesehatan melalui suplementasi gizi makro dan mikro, promosi ASI eksklusif, imunisasi dan lain-lain.

Sedangkan intervensi gizi sensitif dari luar sektor kesehatan yaitu dengan menyediakan sanitasi yang layak, bantuan pemberdayaan ekonomi,  fotifikasi produk makanan, dan pembinaan keluarga.

Umi menjelaskan studi yang dilakukan World Bank pada 2016 menunjukam bahwa intervensi gizi spesifik lebih dominan jika dibandingkan dengan sektor lainnya. Padahal, data secara kalkulasi selama ini, intervensi gizi spesifik hanya  menyumbang 30% dalam penanganan stunting. (OL-9)

BERITA TERKAIT