Etika dan Sikap Tabayyun


Penulis:  Quraish Shihab - 26 May 2019, 04:00 WIB
MI/SENO
 MI/SENO
 Quraish Shihab 

KALI ini kita akan membahas Surah Al Hujurat dimulai dari ayat pertama. Dalam surah ini sebagian besar berbicara mengenai etika, khususnya penghormatan terhadap Nabi Muhammad SAW. Ayat dalam surah ini juga membahas satu etika penting yang kontekstual dalam kehidupan kita hari-hari ini, yakni tabayun.

Pada ayat pertama dikatakan, “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mahamendengar lagi mahamengetahui.”

Ayat pertama itu dimulai dengan panggilan Allah kepada seluruh umat Islam. Panggilan tersebut mengandung pesan yang sangat penting agar kita sebagai pengikut Nabi Muhammad SAW meneladani perbuatannya dan menghindari hal-hal yang belum jelas hukumnya, dalam arti hal itu belum pernah dilakukan Nabi.

Pesan ayat tersebut menganjurkan kita untuk tidak mendahului sesuatu atau perbuatan jika itu hukumnya masih abu-abu. Tolok ukurnya ialah perbuatan Nabi. Sederhananya, jangan melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan Rasul.

Suatu ketika, pernah sahabat Nabi ditanyai Nabi mengenai hal yang tidak diketahuinya. Sedemikian patuhnya, sahabat Nabi bahkan tidak ingin menjawabnya karena belum diketahui perkara dan hukumnya secara agama.

Maka dari itu, Nabi pun berpesan agar jangan melakukan kegiatan yang mengundang ancaman dari Allah karena sesungguhnya Allah mahamendengar dan mengetahui.

Konteks ayat kedua dalam surah ini diturunkan berkenaan dengan perdebatan antara sesama sahabat Nabi. Perdebatan terjadi di depan Nabi. Pada ayat kedua dikatakan, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak terhapus amalanmu.”

Yang dimaksud dalam ayat tersebut ialah etika atau penghormatan terhadap Nabi. Seseorang dalam menghadapi Nabi harus pandai-pandai menjaga perasaannya. Orang-orang yang merendahkan suaranya di hadapan Nabi, akan dilapangkan untuk mendapat ketakwaan.

Dalam konteks zaman sekarang, ini sangat penting mengenai sopan santun dan gaya bicara. Ini bisa kita terapkan terhadap guru dan orangtua.

Pada ayat keenam, Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik (durhaka) yang membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

Ayat ini sangat kontekstual dalam kehidupan kita sekarang yang banyak sekali informasi berhamburan. Pesan dari ayat tersebut sangat kuat. Jika ada seseorang membawa kabar penting kepada kita, kebenarannya perlu diselidiki. Namun, jika itu tidak penting, boleh diabaikan.

Jika seseorang membawa berita keburukan mengenai orang lain, Anda bisa terlibat dalam buruk sangka. Jika kabar itu benar adanya, itu merupakan gibah yang jelas dilarang Allah.

Jika seseorang membawa berita bohong lalu kita turut menyebarluaskannya, itu bisa memecah belah. Kalaupun kabar keburukan itu benar, Anda perlu memikirkan apakah itu penting dan bermanfaat untuk disebarkan. Kalau tidak, jangan disebarkan. Ukurlah perbuatan kita dengan nilai-nilai agama. (Dhk/H-1)

BERITA TERKAIT