25 May 2019, 07:40 WIB

Transformasi Qabiliyyah ke Umat


Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta | Renungan Ramadan

MI/Seno
 MI/Seno
Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta

VISI besar perjuangan Nabi Muhammad SAW ialah mentransformasikan komunitas qabiliyyah ke dalam komunitas ummah. Jihad Nabi selalu mempunyai arah, tujuan, target, dan strategi. Komunitas qabiliyyah masih berkehidupan sederhana, berperadaban rendah, berbudaya standar, dan berkepercayaan musyrik (qabiliyyah) ke masyarakat modern, berperadaban tinggi, dan berbudaya luhur, dan berkepercayaan tauhid (ummah).

Masyarakat Qabilah ialah suatu komunitas yang dipersatukan oleh ikatan-ikatan primordial, seperti ikatan kesukuan, ikatan persamaan latar belakang sejarah, etnik, dan bahasa. Qabilah biasa diartikan dengan klan dalam bahasa Inggris yang berarti suku bangsa tertentu yang menghimpun sejumlah suku lokal yang kecil-kecil, tetapi belum bisa disebut umat karena tidak memiliki unsur-unsur tertentu. Ditambah lagi kepercayaan qabilah, terutama pada zaman Nabi, umumnya berkepercayaan musyrik dan animisme.

Ummah ialah sebuah masyarakat yang maju dan berperadaban tinggi dan bertauhid. Kata ummah berasal dari bahasa Hebrew/Ibrani, alef-mmm yang arti dasarnya cinta kasih. Kata itu kemudian menyeberang menjadi bahasa Arab umm yang arti dasarnya ibu. Umm diartikan ibu karena ibu memiliki cinta kasih yang paling dalam. Dari akar kata alif-mim membentuk kata amam (keterdepanan, keunggulan), imam (imam salat, pemimpin), ma’mum (pengikut imam, rakyat), amamah (konsep yang mengatur antara imam dan makmum serta pemimpin dan rakyat).

Keseluruhan makna dasar ini menghimpun suatu komunitas khusus yang bernama ummah. Dalam mewujudkan masyarakat ummah tentu tidak ringan. Ada pola pikir dan perilaku yang harus diubah. Menurut Max Weber, seorang ahli psikologi agama, mengatakan tidak mungkin mengubah sebuah pola pikir dan perilaku tanpa mengubah sistem etika, dan tidak mungkin mengubah sistem etika tanpa mengubah sistem teologi masyarakat.

Di dalam masyarakat qabilah yang dihadapi Nabi di sana ada kebiasaan, karakter, budaya, etos, dan teologi yang harus diubah. Alhamdulillah melalui strategi jihad yang diterapkan Nabi perubahan sosial bisa dilakukan di dalam masyarakat.

Substansi  dan  unsur  penting  yang  harus  ada  di  dalam  komunitas  ummah  ialah  adanya  kasih sayang  yang  mengikat  dalam  suatu  komunitas,  adanya pemimpin  yang  disegani  dan  berwibawa,  ada  makmum atau rakyat yang kritis tetapi santun, ada sistem yang mengatur  antara yang  memimpin  dan  dipimpin,  dan  adanya  ideologi  kebersamaan  yang  bersifat  kosmopolitan.

Jika ada unsur yang kurang dari lima unsur ini, tidak bisa disebut umat. Mungkin hanya bisa disebut golongan (khizb), suku (sya’bun), kolaborasi beberapa suku (qabilah), atau komunitas tanpa idealisme dan ideologi yang jelas (qaum).

Di dalam Alquran ada sejumlah komunitas muslim sebagaimana diisyaratkan dalam QS al-Hujurat/49:13: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.”

Apakah komunitas Islam Indonesia bisa disebut umat atau belum? Kita lihat unsurunsur yang mempersatukan komunitas Islam di Indonesia. Dalam lintasan sejarah bangsa Indonesia, komunitas ini secara politis belum pernah tampil sebagai pemenang di dalam pemilihan umum. Kaum nasionalis selalu lebih dominan meskipun kaum nasionalis itu pada umumnya diisi oleh komunitas Islam.

Sebagian pakar mengklaim bahwa komunitas muslim Indonesia sudah dapat disebut ummah mengingat unsur pokok yang harus dipenuhi sebuah umat sudah lengkap. Namun, sebagian lainnya belum bisa menyebutnya sebagai suatu umat karena ikatan keumatan masih terkalahkan oleh ikatan lain.

Semoga kita menjadi warga umat yang ideal di NKRI tercinta ini.

 

BERITA TERKAIT