25 May 2019, 05:20 WIB

Melihat Pelangi di Ujung Timur


Galih Agus Saputra | Weekend

MI/SUMARYANTO BRONTO
 MI/SUMARYANTO BRONTO
Menumbuhkan minat baca.

Pada episode kali ini, Pembawa Acara Kick Andy on Location, Andy Flores Noya, berada di Nusa Tenggara Timur. Ia mengunjungi suami-istri yang punya kisah inspiratif, mereka rela berbagi untuk anak-anak yang hidup di Indonesia Timur.

Nila Tanzil atau yang akrab disapa Nila merupakan Pendiri Taman Bacaan Pelangi, sebuah yayasan pendidikan yang telah mendirikan 112 taman bacaan di Indonesia Timur.

Nila memiliki totalitas yang sungguh luar biasa. Dia rela meninggalkan pekerjaannya supaya hidupnya lebih berguna untuk Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, perempuan yang pernah mengenyam pendidikan S-2 di Belanda itu mendatangkan sekitar 2.000 buku yang dibawa langsung dari Jakarta. Hal inilah yang akhirnya membuat ia mendirikan perpustakaan umum bernama Taman Bacaan Pelangi. Perpustakaan tersebut memang didedikasikan untuk anak-anak kecil sehingga mereka bisa membaca buku dengan mudah.

Kini taman bacaan yang didirikan Nila sudah tersebar di 18 pulau di Indonesia Timur, seperti di NTT, mulai Flores, Timor, Alor, dan Sumba, kemudian di NTB mulai Lombok hingga Sumbawa. Setelah itu, Maluku, dari Banda Neira hingga Pulau Bacan, dan di Sulawesi, mulai Katoi dan Buton, serta Pa­pua, mulai Kota Mulia (Puncak Jaya), Kepulauan Raja Ampat, Sentani, hingga Kabupaten Sorong. Dengan melakoni pekerjaan itu, Nila merasa sudah menemukan minatnya, yaitu mengedukasi anak-anak Indonesia agar bisa mendapatkan pendidikan melalui buku yang dibacanya.

Menumbuhkan minat baca

Menurut penelitian berbagai lembaga internasional, tingkat minat baca anak-anak di Indonesia sangatlah rendah. Indonesia Timur menjadi wilayah yang paling memprihatinkan. Sulitnya akses pendidikan menjadi salah satu penyebab utama rendahnya minat baca anak. Namun, kondisi tersebut sekarang sudah berubah, Taman Bacaan Pelangi hadir memberikan akses buku-buku bacaan. Dialah Nia Tanzil, sosok pembawa perubahan tersebut.

Pada 2009, Nila memulai proyek Taman Bacaan Pelangi. Ia menerbangkan 2.000 buku dari Jakarta untuk membuat perpustakaan pertamanya. Melalui kerja sama dengan SD setempat, Nila membangun perpustakaan yang ramah anak. Taman Bacaan Pelangi juga memberikan pelatihan kepada para kepala sekolah, guru, dan pustakawan tentang sistem dan program perpustakaan yang mampu menumbuhkan minat baca anak.

Taman Bacaan Pelangi juga melakukan advokasi ke kepala dinas setempat, agar menambahkan mata pelajaran kunjungan ke perpustakaan selama satu jam setiap minggunya. Melalui Taman Bacaan Pelangi, Nila berharap semua anak di Indonesia mendapatkan akses buku bacaan yang berkualitas.

Pada mulanya, Nila bekerja sebagai konsultan komunikasi di Labuan Bajo. Pada 2009, ia mulai keliling ke berbagai desa setiap akhir pekan di sela-sela menjalani hobinya sebagai penyelam. Dari kunjungan itulah, Nila melihat kesederhanaan masyarakat sekitar, termasuk minimnya akses bacaan. Lebih dari itu, ketika berkunjung ke berbagai sekolah, Nila tidak menemukan adanya perpustakaan.

“Padahal waktu kecil aku selalu baca buku. Jadi aku tidak bisa bayangin masa kecil tanpa buku itu sepertinya sedih sekali, dan anak-anak di sini juga seperti itu. Mereka tidak merasakan betapa bahagianya membaca buku,” kata Nila.

Setelah itu, Nia berpikir dapat melakukan suatu perubahan kepada masyarakat yang ada di sana, terutama untuk anak-anak. Ia lantas mendirikan perpustakaan pertamanya di Kampung Roe, Labuan Bajo. Mula-mula konsep yang diterapkan Nila ialah mendirikan perpustakaan di rumah penduduk. Lambat laun, ia kemudian memin­dahkan perpustakaan di SD setempat dan ternyata mendapat sambutan yang sangat menyenangkan.

Tidak hanya menyediakan buku bacaan, Nila juga sempat bekerja sama dengan Kick Andy Foundation untuk mendatangkan sepatu dari Jakarta. Ia mendapat bantuan sebanyak 1.000 pasang sepatu yang kemudian dibagikan kepada anak-anak di sana. Sementara itu, menyoal buku sendiri, kini Nila sudah mendistribusikan 230 ribu buku cerita anak di 112 perpustakaan yang ia dirikan. Buku-buku itu didapat Nila dengan cara membeli maupun dari donasi yang diberikan masyarakat.

Nila juga melakukan penjejangan terhadap pola baca anak. Secara keseluruhan ada enam jenjang yang ia terapkan, mulai level terendah, yaitu kumbang kemudian meningkat ke level burung, ikan, rusa, singa, dan gajah. “Penjenjangan itu kami lakukan berdasarkan kemampuan baca anak, tutur Nila.

Menariknya, berkat kebiasaan membaca itu, kemampuan berbahasa Indonesia anak-anak di sekitaran perpustakaan yang didirikan Nila itu meningkat sangat pesat. Kosakatanya bertambah, pun berbicaranya juga lebih lancar. Jam berkunjung ke perpustakaan yang dimasukkan ke kurikulum sekolah tampaknya sangat memberi dampak bagi kebiasaan membaca anak-anak di sana.

“Anak-anak juga boleh meminjam buku untuk dibawa pulang, yaitu satu buku untuk 3 hari, setelah itu bisa pinjam lagi,” imbuh Nila.

Selain itu, Nila juga sengaja tidak menyediakan buku pelajaran di perpustakaan karena dari buku cerita, ia percaya minat baca anak akan berkembang.

“Misinya reading for pleasure begitu,” tuturnya.

Selain meningkatkan minat baca anak, Nila juga membuat suatu program yang mana mengajak anak-anak untuk pergi berlibur ke beberapa destinasi pariwisata. Dari kegiatan itu, ia berharap agar anak-anak menyadari bahwa mereka memiliki kekayaan alam yang sangat indah dan harus dijaga mereka.
Nila juga kerap mengadakan lomba membaca dan menulis untuk anak-anak di sana.

Mengatasi stunting

Sementara itu, suami Nila, Zack Peter­sen ialah orang Amerika. Meski begitu, ia juga melakukan kegiatan sosial di bidang kesehatan, khususnya untuk menangani masalah stunting. Zack selalu antusias untuk berbicara dengan ibu hamil ataupun ibu dengan anak dibawah usia 2 tahun dimana saja. Ia selalu memberikan edukasi, memberi tahu hal-hal sederhana yang bisa dilakukan ibu untuk mencegah stunting.

Zack juga mendirikan Yayasan 1.000 Hari Pertama untuk mencegah dan mengurangi masalah stunting. Stunting itu sendiri merupakan masalah kurang gizi kronis yang disebabkan asupan gizi yang kurang dalam waktu yang cukup lama. Stunting cukup mengancam anak Indonesia, sebanyak 37% anak Indonesia mengalaminya. Kegiatan dari yayasan itu ialah mendistribusikan poster tinggi badan melalui jaringan NGO yang berbasis akar rumput di Indonesia, seperti IndoRelawan, doctorShare, Taman Bacaan Pelangi, Sokola Rimba, dan Yappika and YUM. Sudah ada sekitar 1.600 poster tinggi badan yang ditempel di rumah ibu-ibu, di sembilan pulau di Indonesia, mulai Cianjur, Cikarang, Cakung, Makassar, Tambolaka, Pulau Messah, Papagarang, Komodo, Rinca, Raja Ampat, dan Pulau Kei.

Angka stunting di Indonesia masih sangat tinggi jika dilihat berdasarkan standar yang ditetapkan WHO. Stunting atau kondisi gagal tumbuh dialami anak-anak yang mendapatkan gizi buruk. Pertumbuhan tinggi badannya tidak sesuai dengan grafik pertumbuhan standar WHO. Sementara itu, di Indonesia, NTT menjadi provinsi dengan tingkat stunting paling tinggi, 51,73% balita di NTT mengalami stunting. Petugas Gizi Puskemas Labuan Bajo, Cecilia Tiyas Wurina, mengatakan kondisi stunting di wilayah Labuan Bajo saja mencapai 28,25% pada 2018.

Salah satu anggota Yayasan 1.000 Hari, Jessica Arawinda, mengatakan dewasa ini ia juga sudah berkunjung ke beberapa tempat. Mulai Flores, Manggarai Barat, Rinca, Papagara, dan Messah, serta menyusul beberapa tempat lainnya. Dalam kunjungan itu, mula-mula ia biasanya berkunjung ke Bidan Kader untuk menanyakan adanya ibu-ibu yang sedang hamil atau punya anak di bawah usia 2 tahun.

“Setelah itu, kami menyebar di tiap RT bersama teman-teman lainnya. Kami datangi rumah per rumah untuk meminta izin memasang poster tinggi badan. Kami juga informasikan bahwa poster ini penting untuk memantau tumbuh kembang anaknya,” tutur Jessica.

Tidak hanya memasang poster, Jessica juga membicarakan pola asuh dengan para orangtua yang ditemuinya. Ia mengedukasi masalah stunting, mulai pengertiannya, pola-polannya, hingga cara menanggulanginya. Akibat kerja relawan itu, kesadaran masyarakat NTT lambat laun mulai tumbuh. Meski demikian, upaya Zack, Jessica, dan kawan-kawan masih panjang untuk membebaskan Indonesia dari bahaya stunting.

Zack melihat banyak faktor di NTT yang menyebabkan anak-anak terserang stunting. Pada umumnya, ibu hamil harus meminum TTD. Namun demikian, hal tersebut tampaknya tidak dilakukan atau dilupakan ibu-ibu hamil. Selain itu, anak-anak berusia 0 sampai 6 bulan biasanya juga harus mendapat ASI eksklusif. Namun, hal itu lagi-lagi tidak dilakukan kebanyakan ibu-ibu di sana atau lebih tepatnya di Pulau Komodo. “Ada masalah nomor tiga juga, yaitu higienitas,” tutur Zack

Melihat masalah itulah Zack dan teman-teman relawan lainnya kemudian gencar menyebarkan poster tinggi badan di beberapa titik yang tidak hanya berupa rumah, tetapi juga beberapa tempat yang ramai dikunjungi anak-anak. Dalam poster itu, selain dapat memantau tinggi badan, ibu-ibu juga dapat membaca tujuh langkah untuk mengatasi stunting. Ada beberapa penjelasan soal bahaya maupun target yang ditentukan untuk mencegah stunting.

Zack juga mengunjungi sejumlah Pos­yandu yang punya agenda rutin untuk membicarakan masalah ibu dan anak. Dalam kunjungannya itu, salah satunya yang sering diajak kordinasi ialah Bidan Desa Komodo, Fifi Sumanti. Dari bidan Fifi pula ia lantas mengetahui bahwa persoalan terbesar di desa tersebut ialah pola asuh, misalnya cara ibu-ibu memberi makanan kepada anaknya.

“Biasanya memberi makannya yang cepat saji, tidak memperhatikan kandungan gizinya,” tutur Fifi.

Akibat hal itu, banyak anak di sana yang tumbuh kurang baik dan kurang sehat apabila dilihat dari fisik dan cara berpikirnya. Selain itu, ada kebiasan buruk juga soal kesehatan dan kebersihan, biasanya anak-anak akan segera lari ke pantai bila hendak buang air besar (BAB).

Sementara itu, akses kesehatan di Pulau Komodo dewasa ini hanya di dukung Puskemas Pembantu (Pustu). Jika ada beberapa masalah medis yang dirasa cukup berat, pasien harus dirujuk ke Labuan Bajo. Itu pun harus ditempuh dalam waktu yang tidak sebentar, Bidan Fifi pernah punya pengalaman berhenti di tengah laut ketika membawa salah sorang ibu yang hendak melahirkan di Labuan Bajo.

Meski demikian, Fifi mengaku cukup terbantu dengan adanya Zack yang sering datang ke tempatnya untuk mengabarkan isu stunting. Ibu-ibu, kata Fifi, sebenarnya juga sudah cukup resah dengan masalah yang dialami anak-anaknya. Namun dengan adanya Zack, ibu-ibu kini sudah mulai cermat mengenai masalah kesehatan anak-anak, terlebih lagi pada pola pemberian makanan.

Kabar baiknya, ibu-ibu di sekitaran tempat Fifi praktik juga sudah gemar mencari makanan berupa buah dan sayur untuk anak-anaknya. Dulunya, menurut Fifi, anak-anak di sekitarnya banyak yang terkena stunting bahkan mencapai 35%. Oleh karena itu, ia dan beberapa tim kesehatannya sedang menggenjot gizi anak-anak agar terbebas dari masalah gagal tumbuh itu.

Zack mengatakan bahwa selama ini telah menggencarkan berbagai macam program untuk mencegah stunting. Mulai meningkatkan koordinasi dengan Fifi, mengedukasi ibu-ibu hamil dan yang memiliki anak di bawah usia 2 tahun, hingga mempersuasi mereka agar selalu mengikuti saran yang diberikan Fifi. (M-4)

BERITA TERKAIT