Boris Johnson Difavoritkan Jadi PM Inggris Terbaru


Penulis: Denny Parsaulian Sinaga - 25 May 2019, 06:15 WIB
Daniel LEAL-OLIVAS / AFP
 Daniel LEAL-OLIVAS / AFP
Theresa May

PENGUNDURAN diri Theresa May dari jabatan Perdana Menteri Inggris kemarin menimbulkan pertanyaan tentang tokoh manakah di Partai Konservatif yang akan menjadi perdana menteri berikutnya.

May menyatakan akan mundur dari jabatan ketua Partai Konservatif pada 7 Juni mendatang. Dia tetap akan menjadi perdana menteri sampai terpilihnya ketua partai yang baru.

Nominasi para calon penggantinya akan dimulai pada 10 Juni. Setelah itu dilanjutkan dengan dua tahap kontestasi, yang akan berakhir di saat parlemen istirahat musim panas yaitu 20 Juli.

Tahap pertama, 313 anggota Partai Konservatif akan memangkas para calon sampai tersisa dua orang melalui sejumlah pemilihan suara.

Pada tahap kedua, giliran puluhan ribu anggota partai di seluruh Inggris memilih pemenang dalam pemilihan tertutup.

Pemenang voting itu lalu akan ditetapkan secara resmi sebagai perdana menteri oleh Ratu Elizabeth II.

Tokoh yang difavoritkan sebagai pemenang voting adalah Boris Johnson, yang pernah menjadi wali kota Inggris dan menteri luar negeri.

Selama ini Boris Johnson dikenal karena pandangan-pandangannya yang kurang sejalan dengan Uni Eropa.

Dia juga dianggap sebagai tokoh konservatif yang mampu menandingi popularitas Nigel Farage dari Partai Brexit yang terang-terangan anti-Uni Eropa.

Johnson, yang berulang kali menyatakan Inggris tidak perlu takut dengan Brexit, menyatakan terima kasihnya kepada May atas kerja kerasnya selama ini.

Namun, tokoh favorit tidak selalu mulus jalannya mencapai kursi perdana menteri. Di saat May terpilih tahun 2016 misalnya, Johnson juga adalah favorit sebelum dia disalip Michael Gove. Pendahulu May, David Cameron, juga berhasil mengalahkan tokoh favorit David Davis di tahun 2005.

Masalah Brexit

May, 62, mengumumkan pengunduran dirinya dalam sebuah pidato yang emosional di luar kantornya, Downing Street, kemarin.

Kariernya selama tiga tahun diwarnai dengan berbagai krisis terkait keputusan Inggris keluar dari Uni Eropa, yang dikenal dengan ‘Brexit’.
“Sebuah penyesalan mendalam bagi saya karena tidak mampu mewujudkan Brexit,” ujar May sambil menahan tangisnya.

“Saya juga berterima kasih karena sudah pernah diberi kepercayaan melayani Inggris yang saya cintai,” tambahnya.

Mulai menjabat sejak refe-rendum Uni Eropa 2016, May dipaksa mundur setelah para anggota Konservatif tidak percaya lagi terhadap strategi­nya dalam membawa Inggris keluar dari Uni Eropa.

Dengan demikian May akan menjadi orang pertama yang paling sebentar menjadi PM Ing­gris seusai Perang Dunia II.

Masa pemerintahan May juga terbilang kacau karena terjadi sampai 36 kali pengunduran menteri.

“Secara politik, May telah keliru menilai sikap negeri ini maupun partainya,” ujar Farage dari Partai Brexit.

“May tidak punya sejarah yang bisa diwariskan. Menurut saya, siapa pun yang ada di posisinya bakal menemui kesulitan,” ungkap Simon Usherwood dari University of Surrey’s.

Inggris sendiri sudah dua kali menunda kepergiannya dari Uni Eropa.  Dalam kesepakatan dengan Uni Eropa bulan lalu, ditetapkan 31 Oktober sebagai saat Brexit dilaksanakan. (AFP/X-11)

BERITA TERKAIT