Bentuk Baru Puisi Joko Pinurbo


Penulis: Abdillah Marzuqi - 25 May 2019, 03:10 WIB
MI/Caksono
 MI/Caksono
Judul Buku: Srimenanti

BUKU kecil itu sungguh menarik perhatian sejak melihat sampulnya. Tidak ada kelaziman dari sebuah novel. Bagian belakang tidak diisi dengan sinopsis, rangkuman, atau kalimat muluk penuh pujian tentang isi buku.

Sebaliknya, empat paragraf potongan isi novel yang cukup menggelitik. Dua paragraf di antaranya berbunyi. “Saya pernah ditanya wartawan, “Lukisanmu termasuk aliran apa?” Saya malas dan tidak tertarik menjawab pertanyaan semacam itu. Saya tidak tertarik pada label.”

Dia kemudian melanjutkan menulis demikian, “Hari-hari ini kegemaran bermain label kembali merajalela dan banyak orang lupa atau tidak menyadari bahayanya.”

Kejutan tidak berlanjut, ganti dengan tanda tanya. Halaman sampul muka bergambar seorang perempuan sedikit menyembunyikan muka sembari melipat tangan ke atas. Kuas dan burung bertengger di setiap tangan. Entah apa yang dimaksud?

Penasaran dengan novel perdana seorang Joko Pinurbo (Jokpin) dengan titipan judul Srimenanti. Apalagi pria itu dikenal dengan karya puisi yang sanggup membuat pembaca me­riang dan ngidam. Lengkap sudah rasa penasaran untuk segera me­ro­bek plastik pelindung sampul.

Beberapa lembar dari sampul, terdapat persembahan yang ditulis cukup menarik. “Teri­ma kasih kepada Sapardi Djoko Damono yang puisinya ‘Pada Suatu Pagi Hari’ telah menyebabkan saya melahirkan buku cerita ini.

Buku cerita ini merupakan karya fiksi meskipun di dalamnya terdapat nama-nama yang dijumpai di dunia nyata.”

Karena halaman persembahan adalah kunci. Jangan lupa untuk menilik pernyataan penulis, begitu kredo yang selama ini cukup ampuh untuk menikmati buku.

Tidak ada pembagian bab, babak, maupun bagian seperti layaknya novel. Langsung saja masuk dalam cerita. Fragmen cerita dibuat berfragmen yang tidak seperti novel pada umumnya. Tidak ada kisah pembuka, konflik, maupun klimaks. Jika terbiasa novel dengan runtutan cerita yang runut, bersiaplah untuk keluar dari kungkungan itu. Srimenanti akan membawa pada pembalikan halaman yang penuh ayun dan lena.

Beberapa kata mula kalimat dicetak kapital. Tidak ada judul bab ataupun penanda lain. Semua dibiarkan saja seperti hamparan kata. Begitu seterusnya hingga halaman terakhir.

Penuturan cerita dilakukan dua tokoh dengan sudut pandang orang pertama secara bergantian. Awalnya sedikit membingungkan karena keduanya menggunakan kata ganti yang sama. Seiring bertambah halaman, pembaca akan terbiasa dan mampu menandai sosok yang sedang bercerita. Apakah Jokpin atau Srimenanti?

Mereka berdua akan gantian berkisah tentang keresahan masing-masing. Ceritanya tidak utuh, tetapi mengalir begitu saja. Bayangkan seperti cerita tentang pertemuan dengan beda orang tiap hari dengan masing-masing peristiwa.

Lalu apakah mereka sempat bersua? Tentu sempat. Di rumah Hanafi, semua terbuka jelas. “Nah, ini dia pelukis berbakat yang tempo hari aku ceritakan,” kata Hanafi kepada tamunya yang tampak dingin itu.

“Dan ini pujangga kita,” kata Dinda kepada saya sembari menunjuk tamunya yang tampak cuek itu. Saya senyum-senyum saja. (hal 33)

Seusai membaca banyak lembar, ternyata kuas dan burung pada sampul depan menemui titik terang, antara pelukis dan penyair. “Lukisan yang belum rampung saya kerjakan, saya tinggalkan begitu saja,” (hal 10) dan “Di dalam kepalamu ada seekor burung biru. Burung itu berkicau tiap malam,” (hal 86).

Tokoh nyata

Selain itu, Jokpin juga memasukkan banyak nama seniman maupun sastrawan yang menjadi tokoh dalam novel itu. Sebut saja Sapardi, Seno, Aan Mansyur, Hanafi, dan Beny Satryo. Deretan itu benar ada di dunia nyata. Semua tokoh diberi atribut yang bersinggungan dengan aktivitas mereka di dunia nyata.

Uniknya dalam cerita yang berlaku bebas, masih ada tokoh yang seolah menjadi benang merah, yakni hantu laki-laki tanpa celana bernama Eltece. Ia bisa muncul suka-suka di mana saja dengan kelamin berdarah sembari merintih “Sakit, Jenderal! Sakit, Jenderal!”

Srimenanti berbincang banyak bicara tentang hal remeh sehari-hari, seperti celana, kamar mandi, daster, tiang listrik, lorong sepi, kontrakan, anjing, hingga kopi. Bahasa dipilih sederhana, sering nakal, serta kaya imajinasi. Dengan kalimat akhir yang kerap membuat decak. Seperti puisi-puisinya.
Meski demikian, satir menjadi salah satu yang menarik ketika menyelami Srimenanti. Soalan penculikan, penghilangan, penyiksaan, bahkan korupsi, dan agama ditampilkan dengan gaya khas Jokpin. “Apakah sampean berpaham kiri?” Apa jawabnya? “Saya sih kanan kiri oke,” (hal 97).

Srimenanti menjadi lautan kata yang telah diperas dipilih untuk kata terbaik dalam setiap kalimat. Srimenanti juga menyelipkan banyak kalimat jenaka seperti: “Jadi penyair itu berat. Lebih baik jadi teman penyair saja,” (hal 13) dan “Hanya dengan sepotong “su”, bahasa Indonesia kami jadi terasa hangat dan cair,” (hal 67).

Harkat dan martabat puisi berada pada tingkatan tertinggi. Puisi bisa menjadi ibadah, mantra penangkal hantu, obat, dan penggerak sosial.

“Dari mandi yang sunyi, saya masuk ke ruang kecantik­an. Saya berdandan sembari menunaikan ibadah puisi,” (hal 106). Ada juga, “Rayakan setiap rezeki dengan ngopi agar bahagia hidupmu nanti,” (hal 80).

Tidak diragukan lagi, membaca Srimenanti rasanya memang karya yang khas ditulis seorang penyair. Apalagi Joko Pinurbo yang punya karakter khas dalam setiap rangkaian katanya. Bagi yang akrab dengan puisi Joko Pinurbo, novel Srimenanti seolah membaca puisi Jokpin dalam bentuk beda.

Jokpin ibarat koki yang memasak menu lain dari biasanya, tapi tetap saja berasa ala Jokpin biarpun penyantap ditutup mata agar identitas sang koki tetap misterius. (M-4)

BERITA TERKAIT