25 May 2019, 07:00 WIB

Pantang Menyerah di Hadapan Penyakit


M-4 | Weekend

Dok.
 Dok.
Judul buku: Stephen Hawking: A Man Without Limits

DUNIA telah kehilangan tokoh besar. Prof Stephen Hawking, ilmuwan tersohor di seluruh galaksi dan ikon budaya yang unik, meninggal pada Rabu, 14 Maret 2018, di kediamannya di Cambridge. Berhari-hari telah berlalu setelah saya berbicara dengan orang-orang yang mengenalnya, dan satu tema terangkat.

Hawking ialah seorang pria keras kepala. Tentu saja, dia jenaka dan pintar, itu sudah jelas di mata dunia. Namun, mungkin bagi kita yang hanya melihat dari kejauhan, pancarannya menyembunyikan bahan penting kegeniusannya, tekad baja.

Hawking bertekad untuk tidak pernah membiarkan kondisinya menghambatnya. Salah satu contohnya, Hawking mengalami patah tulang kaki pada hari ulang tahunnya yang ke-60, setelah terperosok ke selokan akibat mengemudikan kursi rodanya terlalu cepat. Dia melancong keliling dunia, bahkan mencicipi gravitasi nol.

Tekad itulah yang menjadi pendorongnya, walaupun terkadang membuat para koleganya kewalah­an, untuk menjalani masa hidupnya dengan menulis dan menulis ulang buku-bukunya agar dia bisa membagi keanggunan alam semesta kepada banyak orang. Akhirnya, kehendak kuatnya inilah yang tidak hanya memberinya satu momen eureka, tetapi mengantarnya menembus lapisan matematika yang melandasi kiprahnya. Lucunya, Hawking memiliki kepribadian serupa dengan ilmuwan tersohor abad lalu, Einstein, yang pernah menulis tentang dirinya: ‘Kalau saya memiliki bakat, itu adalah keras kepala seperti keledai’. (M-4)

 

BERITA TERKAIT